Peringkat Pariwisata Indonesia Naik, Praktisi Media Puji Menparekraf

Ketua Bidang Luar Negeri SMSI Aat Surya Safaat dalam suatu diskusi dengan Menparekraf Sandiaga Uno di Jakarta, belum lama berselang (Foto: Istimewa)

“Bagaimanapun, kunci kemajuan suatu institusi adalah faktor leadership yang didukung dengan pemahaman manajemen yang baik serta kemampuan komunikasi yang efektif dari pemimpinnya.”

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Praktisi media Aat Surya Safaat menyatakan salah satu faktor naiknya peringkat pariwisata Indonesia secara signifikan tak terlepas dari faktor leadership Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.

IMG-20220125-WA0002

Ketua Bidang Luar Negeri Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) ini pun mengapresiasi kinerja Sandiaga Uno dan jajaran Kemenparekraf yang berhasil menaikkan level pariwisata Indonesia di dunia internasional.

“Saya mengapresiasi dan mengucapkan selamat kepada Menparekraf. Peringkat pariwisata Indonesia kini berada di posisi 32 dari sebelumnya ranking 44. Wisata halal Indonesia juga saat ini berada di peringkat dua dunia, sementara Menparekraf telah mendapat kehormatan berbicara tentang pariwisata berkelanjutan di Majelis Umum PBB,” katanya di Jakarta, Kamis (2/6/2022).

Menurut Aat, Sandiaga dinilai memahami dengan baik fungsi manajemen serta mampu berkomunikasi efektif dengan berbagai kalangan terkait.

“Bagaimanapun, kunci kemajuan suatu institusi adalah faktor leadership yang didukung dengan pemahaman manajemen yang baik serta kemampuan komunikasi yang efektif dari pemimpinnya,” kata Kepala Biro Kantor Berita Antara New York periode 1993-1998 dan Pemimpin Redaksi Antara 2016 itu.

Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI) itu juga menyatakan terkesan dengan gebrakan Menparekraf yang dikenal dengan terminologi “Gercep”, “Geber”, dan “Gaspol”.

“Gercep” menurut Sandi adalah bergerak cepat dan “Geber” adalah bergerak bersama-sama memanfaatkan semua potensi untuk membangkitkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Adapun “Gaspol” adalah menggarap secara optimal semua potensi yang ada.

“Saya sepakat dengan pernyataan Pak Sandi bahwa pariwisata Tanah Air tidak boleh hanya memperhatikan kuantitas, tetapi juga kualitas serta tak hanya mengejar profit, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan lingkungan,” ujarnya.

Terpisah, National Tourism Strategist, Taufan Rahmadi, menyatakan naiknya peringkat dan citra pariwisata Indonesia secara signifikan di dunia internasional menandakan bahwa pembenahan industri pariwisata dan ekonomi kreatif yang dilakukan Menparekraf mencapai hasil yang membanggakan.

“Tapi tentunya masih ada beberapa kekurangan. Ajang dunia semisal MotoGP adalah lahan untuk terus memperbaiki kekurangan. Dari pagelaran besar seperti ini kita bisa lihat apa yang kurang untuk dibenahi,” kata Taufan.

Menurut dia, ajang lain yang pas untuk menilai dunia pariwisata negeri ini adalah event balap mobil listrik di Jakarta, kemudian G-20 di Bali nanti. Selain itu, seluruh destinasi super prioritas seperti Bali hingga Komodo perlu terus belajar dan berbenah agar menjadi lebih baik lagi.

Secara khusus ia menyebut ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Mulai dari kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga infrastruktur bandara, pelabuhan, dan jalan yang memberi kemudahan bagi para pelancong.

“Dalam indikator penilaian juga diukur faktor keamanan, lingkungan bisnis, kebersihan, hingga infrastruktur penunjang lain. Poin plus Indonesia terletak pada cultural resouces, natural resources, hingga harga yang bersaing,” sebut Taufan.

Naik 12 Level

Sebagaimana dirilis World Economic Forum, Travel Tourism Development Index (TTDI), Indonesia sebelumnya berada di peringkat 44. Saat ini naik 12 level, sehingga peringkat pariwisata Indonesia berada di posisi 32.

Posisi tersebut melampaui Thailand yang kerap disebut “Traveler’s Paradise” dan Malaysia yang terus mengiklankan diri dengan tagline “Malaysia Truly Asia”.

Pada posisi ini, di Asia Tenggara, Indonesia hanya kalah dari Singapura, sedangkan di Asia Pasifik, Indonesia menempati ranking delapan.

Selain itu, Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat dua dunia, suatu peningkatan peringkat yang signifikan setelah tahun sebelumnya berada pada urutan empat.

Secara akumulatif poin, Indonesia hanya kalah dari Malaysia yang menempati urutan pertama, namun Indonesia mengungguli negara-negara besar lainnya seperti Arab Saudi, Turki, UEA, hingga Qatar yang berturut-turut ada di bawah peringkat Indonesia.

Sementara itu, Menparekraf pada 4 Mei 2022 mendapat kehormatan berbicara di ‘High-level Thematic Debate on Tourism’ yang digelar oleh Majelis Umum PBB di New York.

Sandiaga Uno menyebutkan bahwa Indonesia saat ini menjadi acuan dunia dalam penanganan COVID-19. Selain dalam penanganan pandemi, Indonesia juga menjadi acuan dunia untuk membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif setelah dua tahun dihantam pandemi, dengan tetap memperhatikan sisi sosial dan lingkungan hidup.(rkm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.