Hemmen

Yastroki: Depresi Rakyat Kecil Akibat Ekonomi Pencetus Banyaknya Stroke

Ketua Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) Mayjen TNI (Pur) Dr dr Tugas Ratmono, SpN, MARS, MH (tiga dari kiri) bersama pengurus lainnya, Sabtu (30/3/2024) dalam rangkaian Safari Ramadhan 1445 Hijriah membagikan paket bahan pangan dan tongkat lipat kepada penderita stroke, Ida Mursyida yang tinggal di lingkungan padat hunian Pulo Gebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. FOTO: Humas Yastroki

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Ketua Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) Mayjen TNI (Pur) Dr dr Tugas Ratmono, SpN, MARS, MH mengemukakan bahwa depresi yang melanda rakyat kecil atau lapisan bawah akibat didera kesulitan ekonomi saat ini menjadi pencetus banyaknya penderita stroke di Indonesia.

“Pemerintah masa mendatang kita harapkan peduli rakyat lapisan bawah yang sedang dilanda kesulitan mencari nafkah,” katanya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Ahad (31/3/2024).

Idul Fitri Kanwil Kemenkumham Bali

Sehubungan dengan itu, katanya dalam rangkaian Safari Ramadhan 1445 Hijriah membagikan paket bahan pangan dan tongkat lipat kepada penderita stroke, Ida Mursyida yang tinggal di lingkungan padat hunian Pulo Gebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, pemerintah hasil Pemilu 2024 didesak agar mengutamakan pemberdayaan ekonomi mikro berbasis lingkungan

BACA JUGA  Geram Kartel Jenazah Covid-19, Jusuf Hamka Gratiskan Biaya Kremasi Warga Tidak Mampu

“Usaha tingkat mikro berbasis lingkungan patut dapat kepedulian,” katanya.

Kebutuhan sehari-hari

Perekonomian mikro berbasis lingkungan yang dimaksudkan Tugas Ratmono, merujuk pada aktivitas usaha jasa dan barang kebutuhan sehari-hari di sekitar permukiman. Lokasinya pun hendaknya mudah diakses warga setempat.

Dalam pemberdayaan itu, kata dia, mesti melibatkan pemangku kepentingan, terutama Kementerian Koperasi, Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM), serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Dikhawatirkannya bila tidak mendapat perhatian, gangguan kesehatan makin masif. Rakyat miskin paling rentan terserang stroke dan penyakit lainnya.

Menyikapi kondisi memprihatinkan tersebut, Yastroki mengagendakan kajian mendalam seputar problem kemiskinan berkaitan dengan kesehatan rakyat.

Bantuan pangan

Dalam kunjungan tersebut, juga diserahkan bantuan paket bahan pangan dan tongkat hasil kerja sama Yastroki dengan Yayasan KRESHNA sebagai komunitas “stroker” atau penderita stroke yang mampu bertahan hidup.
Kunjungan itu juga dilakukan ke stroker Sutarno di Duren Sawit, Jakarta Timur.

BACA JUGA  Dinkes DKI: Ada Tiga Tahapan Pencegahan Kasus DBD

Selama Ramadhan 2024, menurut pimpinan KRESHNA, Suhadu, pihaknya mengunjungi 55 stroker di hunian masing-masing, wilayah Jabodetabek.

Penyerahan bantuan tersebut juga diikuti Wakil Sekjen Yastroki Kolonel (Pur) Hari Soesetyo, SKM, MARS dan Yayasan Kota Jakarta Weltevreden, yang diketuai Toto Irianto dan berkolaborasi dalam berbagai aktivitas Yastroki, turut mendampingi.

Peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia kini menduduki urutan pertama angka kematian.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, stroke di Indonesia meningkat 56 persen dari 7 per 1.000 penduduk pada tahun 2013, naik menjadi 10,9 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Total penderita berkisar 2,91 juta jiwa. (rel/02)

Barron Ichsan Perwakum