25 Tahun Bina Bangsa School: Dari 27 Siswa Jadi Jaringan Sekolah Nasional

Bina Bangsa School (BBS) merayakan perjalanan 25 tahun dengan menggelar konser nasional bertajuk “Legacy of Stars” di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat (7/3/2026). (Foto: 09/AGF).
Bina Bangsa School (BBS) merayakan perjalanan 25 tahun dengan menggelar konser nasional bertajuk “Legacy of Stars” di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat (7/3/2026). (Foto: 09/AGF).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Bina Bangsa School (BBS) merayakan perjalanan 25 tahun dengan menggelar konser nasional bertajuk “Legacy of Stars” di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Jumat (7/3/2026).

Perayaan ini menjadi momentum refleksi perjalanan sekolah yang kini berkembang menjadi jaringan pendidikan internasional dengan enam kampus di berbagai kota di Indonesia.

Konser tersebut melibatkan 478 siswa dari enam kampus BBS, yakni Jakarta (Kebon Jeruk dan Pantai Indah Kapuk), Bandung, Semarang, Malang, dan Balikpapan.

Untuk pertama kalinya, perwakilan siswa dari seluruh kampus tampil bersama dalam satu panggung kolaboratif yang menampilkan Western Orchestra, Chinese Orchestra, paduan suara, serta koreografi tari.

Acara ini tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga simbol perjalanan panjang Bina Bangsa School dalam membangun ekosistem pendidikan terintegrasi yang menekankan kolaborasi, disiplin, serta kepercayaan diri siswa.

Pendiri Bina Bangsa School, Surya Putra Subandi, mengatakan bahwa konser ini menjadi gambaran nyata proses pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman kolaboratif lintas kota.

“Melalui kegiatan seperti ini, siswa belajar bekerja sama, berlatih disiplin, dan tampil percaya diri di panggung besar. Ini bagian dari pendidikan yang membentuk karakter,” kata Surya dalam perayaan 25 tahun Bina Bangsa School.

Dalam persiapannya, konser ini menggunakan metode Virtual Synchronization, yakni pendekatan di mana siswa dari berbagai kota merekam bagian musik mereka masing-masing sebelum dikompilasi menjadi satu komposisi utuh.

Metode ini dinilai relevan dengan kebutuhan dunia profesional global yang semakin mengandalkan kerja sama jarak jauh dan penggunaan teknologi digital.

BACA JUGA  Sistem Pendidikan di Finlandia, Contoh Bagi Indonesia

Dengan sistem tersebut, siswa tidak hanya belajar musik, tetapi juga mengasah keterampilan kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan bekerja dalam tim lintas wilayah.

Bina Bangsa School lahir dari konteks sosial Indonesia pada akhir 1990-an.

Saat itu, situasi nasional yang tidak stabil mendorong banyak keluarga menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri demi mendapatkan pendidikan yang dianggap lebih stabil dan berkualitas.

Ketika kondisi negara mulai membaik dan keluarga ingin kembali ke Indonesia, muncul pertanyaan sederhana namun krusial: di mana anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan dengan standar internasional?
Pada saat itu, sekolah berstandar internasional di Indonesia masih sangat terbatas.

Menjawab kebutuhan tersebut, Surya Putra Subandi bersama dua rekannya, Mr. Lie dan Mr. Paulus, mendirikan Bina Bangsa School pada tahun 2001.

Sekolah ini menghadirkan Singapore Curriculum serta akreditasi Cambridge International di Indonesia.

Dengan sistem tersebut, siswa dapat memperoleh pendidikan berstandar internasional tanpa harus meninggalkan tanah air.

Pada hari pertama berdiri, Bina Bangsa School hanya memiliki 27 siswa, bahkan ada kelas yang diikuti oleh dua murid saja.

Meski demikian, komitmen terhadap kualitas pendidikan tetap menjadi prioritas utama.

“Saya berjanji, meskipun hanya ada dua murid, guru terbaik dari Singapura tetap akan hadir,” kenang Surya.

Komitmen tersebut membuahkan hasil. Dalam waktu tiga bulan sejak berdiri, jumlah siswa meningkat drastis hingga mendekati 600 siswa.

Kini, setelah 25 tahun berjalan, Bina Bangsa School berkembang menjadi jaringan pendidikan dengan enam kampus strategis di Indonesia.

Setiap kampus dilengkapi berbagai fasilitas modern, termasuk laboratorium sains, ruang seni pertunjukan, fasilitas olahraga, serta sistem akademik berbasis kurikulum Cambridge.

BACA JUGA  1 Korban Meninggal Saat Longsor Terjang Temanggung-Jateng

Melalui sistem tersebut, siswa dipersiapkan menghadapi ujian Cambridge IGCSE dan A-Levels, dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris dan Mandarin.

Ribuan alumni Bina Bangsa School saat ini melanjutkan studi di berbagai universitas ternama dunia.

Menurut Surya, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada angka dan peringkat akademik semata.

Ia menekankan pentingnya membentuk karakter serta kepemimpinan siswa sejak dini.

“Kalau kita hanya mengejar nilai, kita mungkin berhasil secara angka. Tapi kalau kita membentuk karakter dan kepemimpinan, kita sedang membentuk masa depan,” ujarnya.

Bina Bangsa School mengusung prinsip “leader, not follower”, yang mendorong siswa berpikir global sekaligus menjaga integritas dan nilai-nilai pribadi.

Untuk mendukung visi tersebut, sekolah mengembangkan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) yang dipadukan dengan berbagai program pengembangan diri seperti coding, robotika, debat, hingga seni pertunjukan.

Program kepemimpinan seperti Model United Nations dan Harvard Model Congress juga menjadi bagian dari kurikulum kegiatan siswa.

Salah satu contoh keberhasilan pendekatan tersebut adalah Wu Donglin, siswa Bina Bangsa School yang meraih Cambridge AS Level 2025 National First Place and Dual High Achievement Awards, sekaligus aktif sebagai pemain dizi atau Chinese flute.

Selain fokus pada pengembangan akademik, Bina Bangsa School juga menjalankan berbagai program sosial sebagai bagian dari tanggung jawab pendidikan.

Salah satunya adalah program pengajaran Bahasa Inggris bagi siswa SDN Kamal Muara.
Dalam konser “Legacy of Stars”, perwakilan siswa dan guru dari SDN Kamal Muara hadir sebagai tamu istimewa di antara ribuan penonton.

BACA JUGA  Paus Fransiskus Minta Umat Katolik Tak Lelah Bermimpi Bangun Peradaban Perdamaian

Bagi sebagian siswa, malam tersebut menjadi pengalaman pertama menyaksikan konser orkestra berskala besar secara langsung.

Bina Bangsa School berencana memperluas kolaborasi tersebut, termasuk memberikan akses pembelajaran musik dan kegiatan pendidikan lainnya.

Visi pendidikan Bina Bangsa School juga tidak lepas dari pesan ayah Surya, seorang lulusan matematika dari Universitas Cambridge.

Sebelum wafat pada tahun 1993, sang ayah berpesan agar Surya membuka sekolah jika memiliki kesempatan.

Dua puluh lima tahun kemudian, pesan tersebut menjadi kenyataan.

Dari 27 siswa di awal berdiri, kini Bina Bangsa School telah memiliki ribuan alumni dan enam kampus di Indonesia.

“Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Yang kita butuhkan adalah sistem yang percaya pada mereka,” kata Surya.

Menurutnya, perjalanan 25 tahun ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari langkah panjang dalam membangun generasi pemimpin masa depan Indonesia yang mampu bersaing secara global.