Kisah Perjalanan Karier Adam Malik, Wartawan yang Menjadi Tokoh Diplomasi Dunia

Kisah Perjalanan Karier Adam Malik, Wartawan yang Menjadi Tokoh Diplomasi Dunia
Heru Riyadi, S.H., M.H.(Foto: Dok. Pribadi)

“Kisah Adam Malik menjadi pengingat bahwa keterbatasan pendidikan formal bukanlah penghalang untuk berkiprah di panggung dunia.”

SUDUTPANDANG.ID – Siapa yang tak mengenal Adam Malik?. Pria berpostur kecil dan kurus itu dikenal cerdik, lincah, dan gesit bak kancil. Berbekal ijazah madrasah, ia justru mencatat sejarah sebagai satu-satunya orang Indonesia yang pernah memimpin sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Di dunia diplomasi yang kerap diwarnai gelar akademik dari universitas ternama dunia, nama Adam Malik Batubara tampil sebagai anomali. Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, ia membuktikan bahwa kecerdasan tidak selalu ditempa di bangku kuliah, melainkan juga lahir dari pengalaman, keberanian, dan ketekunan belajar secara mandiri.

Adam Malik pernah menempuh pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek. Namun, pendidikan formalnya terhenti di tingkat madrasah karena ia memilih membantu orang tua berdagang. Pada usia 20 tahun, ia merantau ke Jakarta. Di ibu kota, ia belajar secara autodidak dan menapaki jalan hidup sebagai wartawan.

BACA JUGA  Keren! Chelsea Gelar Buka Puasa Bersama, Adzan Pun Berkumandang di Stamford Bridge

Bersama sejumlah rekannya, ia mendirikan Kantor Berita ANTARA. Dengan modal keberanian dan peralatan sederhana, Antara menjadi corong penting perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berita-berita yang mereka siarkan mampu menembus pembatasan informasi pada masa penjajahan.

Mencetak Sejarah di Podium PBB

Puncak karier diplomatik Adam Malik terjadi pada 1971. Dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, ia terpilih sebagai Presiden Majelis Umum PBB. Ia menjadi orang Indonesia pertama dan hingga kini satu-satunya yang pernah menduduki posisi tersebut.

Di markas besar PBB, ia memimpin persidangan penting, termasuk proses terkait keanggotaan Republik Rakyat Tiongkok di PBB. Kepemimpinannya yang tenang dan piawai menuai perhatian dunia internasional. Sosok autodidak dari Sumatera Utara itu mampu mengelola forum diplomatik paling kompleks dengan wibawa dan kecermatan.

Diplomasi Tanpa Sekat

Adam Malik dikenal memiliki pendekatan diplomasi yang lugas. Ungkapannya yang populer, “Semua bisa diatur”, mencerminkan keyakinannya bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang cerdas dan terbuka.

BACA JUGA  Masya Allah! Imaam Yakhsyallah Dedikasikan Buku-bukunya untuk Perjuangan Palestina

Perannya juga besar dalam membawa Indonesia kembali menjadi anggota PBB pada 1966. Selain itu, ia turut menjadi salah satu pendiri Association of Southeast Asian Nations melalui Deklarasi Bangkok pada 1967. Baginya, diplomasi bukan sekadar soal istilah teknis, melainkan tentang integritas dan kemampuan membangun kepercayaan.

Dari Menteri Luar Negeri hingga Wakil Presiden

Setelah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri selama 11 tahun, Adam Malik dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga pada 1978. Meski berada di lingkar kekuasaan tertinggi, ia tetap dikenal sederhana dan terus terang.

Adam Malik wafat pada 5 September 1984. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1998 sebagai bentuk penghormatan negara.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Kisah Adam Malik menjadi pengingat bahwa keterbatasan pendidikan formal bukanlah penghalang untuk berkiprah di panggung dunia. Ketekunan, keberanian, dan kemauan belajar dapat mengantarkan seseorang melampaui batas yang tampak mustahil.

BACA JUGA  Kisah Ojol Jujur, Kembalikan Uang Milik Penumpang Puluhan Juta

Gading mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.

*Ditulis kembali oleh Heru Riyadi Penasihat AMKI dan Dosen Universitas Pamulang (Unpam)