Erick Thohir: Dualisme IKASI Harus Selesai, Atlet Prioritas

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan dualisme kepengurusan induk organisasi olahraga anggar di Indonesia. (Foto: Kemenpora).
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan dualisme kepengurusan induk organisasi olahraga anggar di Indonesia. (Foto: Kemenpora).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan dualisme kepengurusan induk organisasi olahraga anggar di Indonesia.

Ia memastikan, penyelesaian konflik organisasi tersebut akan mengacu pada ketentuan yang berlaku, termasuk pengakuan dari federasi internasional, demi melindungi kepentingan atlet.

Pernyataan itu disampaikan Erick usai menyaksikan pertandingan dan menyerahkan medali kepada para juara Kejuaraan Anggar Kadet dan Junior Asia 2026 di Jakarta International Convention Centre (JICC), Senayan, Jakarta, Jumat (27/2/2026).

“Saya tentunya akan berpatokan pada pengakuan federasi internasional itu. Dan kami akan bicarakan juga dengan KONI dan KOI. Saya harap dualisme kepengurusan bukan hanya di anggar, tetapi juga tenis meja dan tinju bisa selesai, karena saya tidak ingin atlet yang menjadi korban. Dalam hal kepentingan atlet, saya tegas,” ujar Erick.

Erick menjelaskan, pemerintah akan berkoordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk menentukan langkah strategis dalam menyelesaikan dualisme tersebut.

Menurutnya, pengakuan dari federasi internasional menjadi rujukan utama agar tidak terjadi persoalan dalam keikutsertaan atlet Indonesia di ajang multievent dunia. Dualisme organisasi berpotensi menghambat pembinaan, pengiriman atlet ke kejuaraan internasional, hingga pengakuan hasil prestasi.

BACA JUGA  Shin Tae-yong Cari Pemain Penyerang di Belanda

“Yang paling penting itu kepentingan atlet. Jangan sampai karena konflik organisasi, atlet tidak bisa bertanding atau kehilangan kesempatan tampil di SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade,” tegasnya.

Menpora menambahkan, penyelesaian dualisme menjadi krusial karena anggar termasuk dalam daftar 21 cabang olahraga unggulan nasional yang diproyeksikan meraih prestasi di level internasional.

“Anggar sudah masuk dalam daftar 21 cabor unggulan. Kita perlu menyiapkan program pembinaan berjenjang untuk menghadapi SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. Kalau organisasinya belum solid, tentu akan mengganggu roadmap pembinaan,” jelas Erick.

Secara khusus, Erick memberikan apresiasi kepada Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB IKASI) pimpinan Amir Yanto yang dinilai aktif menggelar berbagai kejuaraan nasional dan internasional.

“Saya hargai kerja keras Pak Amir Yanto yang telah menggelar event-event nasional dan internasional,” katanya.

PB IKASI di bawah kepemimpinan Amir Yanto diketahui telah menyelenggarakan sejumlah agenda besar, termasuk menjadi tuan rumah Kejuaraan Anggar Asia 2025 dan Kejuaraan Anggar Kadet dan Junior Asia 2026.

Organisasi tersebut juga tercatat sebagai anggota resmi Fédération Internationale d’Escrime (FIE) dan Konfederasi Anggar Asia. Bahkan, federasi internasional memberikan apresiasi atas kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah dua kejuaraan bergengsi tersebut.

BACA JUGA  Invitasi Tenis Nasional 2022, Kembar Ana dan Ani Menangi Laga Pertama

Dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan, Erick mengungkapkan rencana kerja sama dengan Jepang untuk pengembangan olahraga anggar nasional. Menurutnya, pembahasan teknis masih berlangsung, namun kerja sama tersebut diharapkan mampu mempercepat peningkatan prestasi atlet.

“Kita sudah membicarakan masalah kerja sama dengan Jepang. Soal teknis masih dibicarakan,” ujarnya.

Kerja sama internasional dinilai penting mengingat persaingan anggar di kawasan Asia semakin ketat. Negara-negara lain telah lebih dulu mempersiapkan atletnya dengan dukungan pelatih kelas dunia serta program pembinaan jangka panjang.

Menanggapi pernyataan Menpora, Amir Yanto menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah dalam menyelesaikan dualisme organisasi. Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada pemerintah demi kepentingan atlet.

“Saya mendukung saja. Semua terserah kepada pemerintah. Mau PB IKASI pimpinan saya diakui atau PB IKASI pimpinan Agus Suparmanto itu tidak masalah. Atau keduanya tidak diakui dan dibentuk organisasi baru. Monggo, kami rakyat yang harus manut kepada pemerintah. Karena yang paling utama dipikirkan adalah kepentingan atlet,” ujarnya.

Sikap tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen untuk mengutamakan stabilitas organisasi dan kelangsungan pembinaan atlet dibandingkan kepentingan personal atau kelompok.

BACA JUGA  FIE Puji Kejuaraan Anggar Asia 2026 di Jakarta

Meski Indonesia belum meraih hasil maksimal di Kejuaraan Anggar Kadet dan Junior Asia 2026, Amir menilai para atlet telah memperoleh pengalaman berharga menghadapi lawan-lawan dari negara dengan persiapan matang.

“Atlet kita memang belum bisa memberikan prestasi terbaik. Mereka menghadapi atlet yang ditangani pelatih kelas dunia. Yang pasti, mereka sudah mendapat pengalaman berharga dan melihat perkembangan atlet-atlet Asia. Ke depan, kita berharap mereka lebih termotivasi untuk mengejar ketertinggalan,” katanya.

Dengan komitmen tegas Menpora Erick Thohir dan dukungan dari PB IKASI, penyelesaian dualisme organisasi diharapkan segera tercapai.

Pemerintah menegaskan tidak akan membiarkan konflik internal menghambat pembinaan dan masa depan atlet. Prinsip utamanya jelas: atlet tidak boleh menjadi korban tarik-menarik kepentingan organisasi.
(AGF/09).