JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Alumni Training of Trainers (ToT) Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan ke-39 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Prof. Dr. Edi Syafri, S.T., M.T., membawa pesan tentang kekuatan doa orang tua melalui buku Doa Ibu, Mengubah Impian Menjadi Kenyataan di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026.
Buku karya dosen Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Sumatera Barat, tersebut diperkenalkan kepada masyarakat dalam pameran buku yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 30 September hingga 4 Oktober 2026.
Keikutsertaan Prof. Edi dalam IIBF 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan karya yang mengambil pengalaman perjalanan hidupnya sebagai sumber inspirasi.
Buku tersebut tidak sekadar menceritakan perjalanan akademik, tetapi juga membawa pesan tentang peran orang tua, khususnya ibu, dalam mendukung keberhasilan seorang anak.
Prof. Edi mengatakan, gagasan menulis Doa Ibu, Mengubah Impian Menjadi Kenyataan berangkat dari perjalanan panjang yang ia lalui hingga mencapai jenjang profesor.
Perjalanan tersebut, menurut dia, tidak selalu berlangsung melalui jalur yang mudah.
Salah satu pengalaman yang menjadi bagian dari refleksinya adalah perjalanan pendidikan dari jenjang sarjana, magister hingga doktoral yang tidak sepenuhnya linier dalam bidang keilmuan.
Berbagai tantangan tersebut justru menjadi pengalaman yang kemudian mendorongnya untuk menulis dan membagikan kisah tersebut kepada masyarakat.
“Yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat adalah bahwa doa ibu itu luar biasa. Sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin,” kata Edi kepada SUDUTPANDANG.ID saat ditemui di IIBF 2026, Sabtu (3/10/2026).
Pesan tersebut menjadi benang merah buku yang ditulisnya. Edi ingin pembaca melihat bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan dan kerja keras, tetapi juga dukungan keluarga serta doa orang tua.
Sebagai akademisi sekaligus alumni program penguatan nilai-nilai kebangsaan Lemhannas RI, Edi juga melihat pentingnya menghadirkan pengalaman pribadi dalam bentuk karya yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.

Menurutnya, pengalaman hidup memiliki nilai ketika dibagikan dan dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain. Karena itu, ia memilih pendekatan autobiografis agar pesan dalam buku dapat disampaikan secara lebih dekat kepada pembaca.
Inspirasi menulis buku tersebut juga diperoleh dari berbagai bacaan yang pernah dikonsumsinya. Salah satunya buku yang membahas mengenai rezeki dan motivasi.
Dari sana, Edi terdorong untuk mengembangkan gagasan serupa dengan mengangkat pengalaman yang benar-benar ia jalani.
Doa Ibu, Mengubah Impian Menjadi Kenyataan diterbitkan Penerbit Ruang Karya, Kalimantan Selatan. Buku tersebut telah dicetak sekitar 200 eksemplar untuk distribusi di Sumatera Barat.
Dalam keikutsertaan di IIBF 2026, sebanyak 10 eksemplar dibawa untuk ditampilkan di stan Asosiasi Dosen Akademisi dan Keahlian Seluruh Indonesia (ADAKSI).
Buku tersebut menjadi karya ketiga Edi yang secara khusus ditujukan bagi pembaca umum. Sebelumnya, ia telah menghasilkan sejumlah buku di bidang akademik dan keilmuan.
Di antaranya karya mengenai material komposit ringan dan nanasellulosa dari serat alam.
Selain menulis secara mandiri, Edi juga pernah menghasilkan karya bersama sejumlah rekan akademisi.
Bagi Edi, pengalaman menulis tersebut menjadi bukti bahwa dosen memiliki ruang yang luas untuk menghasilkan karya di luar aktivitas pendidikan dan penelitian.
Pengalaman akademik maupun perjalanan kehidupan dapat dikembangkan menjadi tulisan yang memberikan inspirasi bagi masyarakat.
Ia pun mendorong mahasiswa, dosen, dan kalangan akademisi untuk tidak ragu menuangkan pengalaman dalam bentuk tulisan.
“Menulis itu sebenarnya mudah berdasarkan pengalaman kita. Pengalaman tadi dituliskan sehingga orang bisa terinspirasi bahwa sesuatu itu bisa dilakukan,” ujarnya.
Pesan lain yang ingin disampaikan Edi melalui bukunya ditujukan kepada orang tua dan anak. Ia mengajak para ibu untuk terus memberikan doa terbaik bagi anak-anaknya.
Sementara bagi pembaca yang masih memiliki orang tua, ia berharap buku tersebut dapat menumbuhkan kesadaran untuk semakin menghormati dan berbakti kepada orang tua.
ADAKSI Dorong Karya Dosen

Sementara itu, Bendahara Umum ADAKSI Nindya Adiasti, S.Pd., M.Pd., mengatakan keikutsertaan organisasi tersebut dalam IIBF 2026 merupakan pengalaman perdana.
ADAKSI menghimpun buku-buku karya dosen dari berbagai bidang dan penerbit untuk ditampilkan dalam satu stan. Konsep tersebut menjadi upaya memperkenalkan karya akademisi kepada masyarakat yang lebih luas.
“Ini pertama kali ADAKSI mengikuti Indonesia International Book Fair di tahun 2026. Buku-buku yang dijual merupakan kumpulan buku yang ditulis oleh dosen dari berbagai penerbit,” kata Nindya.
Hingga Sabtu (3/10/2026), penjualan berbagai buku di stan ADAKSI telah mencapai hampir Rp6 juta. Nilai tersebut merupakan akumulasi penjualan seluruh buku yang dipasarkan, termasuk karya Prof. Edi.
Nindya mengatakan ADAKSI juga menyiapkan rencana untuk membuka penerbitan sendiri. Rencana tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para dosen anggota ADAKSI untuk menerbitkan karya mereka.
Dengan demikian, keikutsertaan di IIBF 2026 tidak hanya menjadi ruang promosi buku, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekosistem literasi dan penerbitan bagi kalangan akademisi.
Bagi Prof. Edi, kehadiran di IIBF 2026 menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengalaman akademik, perjalanan kehidupan, dan pesan kebangsaan dengan masyarakat melalui sebuah buku.
Melalui Doa Ibu, Mengubah Impian Menjadi Kenyataan, ia berharap semakin banyak pembaca yang menghargai perjuangan orang tua sekaligus berani menjadikan pengalaman hidup sebagai sumber inspirasi dan karya.(09)




