JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Ketua Umum PP PBSI Fadil Imran mengungkap peran besar tim pendukung di balik keberhasilan bulu tangkis Indonesia meraih enam medali pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Indonesia mengakhiri persaingan bulu tangkis Asian Games 2026 dengan torehan dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu. Namun, bagi Fadil, pencapaian tersebut tidak semata-mata lahir dari perjuangan atlet yang tampil di lapangan.
Menurut Fadil, ada banyak orang yang bekerja dalam senyap untuk memastikan para pemain mampu tampil maksimal sejak menjalani persiapan hingga menghadapi pertandingan.
“Hari ini saya tidak bicara tentang enam medali, tapi bicara tentang orang-orang di balik enam medali itu,” kata Fadil dalam acara Tasyakuran Pencapaian Tim Bulu Tangkis Indonesia pada Asian Games 2026 di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu.
Fadil menjelaskan, keberhasilan kontingen bulu tangkis Indonesia merupakan hasil dari proses panjang dan kerja kolektif. Persiapan tersebut melibatkan berbagai bidang yang memiliki tugas berbeda, tetapi saling berkaitan.
Di sektor teknis, para pelatih bertugas menyusun program latihan, mengembangkan strategi permainan, sekaligus menjaga kesiapan fisik dan mental atlet. Sementara itu, tim performa dan sport science membantu mengukur serta meningkatkan aspek performa pemain berdasarkan data.
Dukungan juga datang dari tenaga medis, psikolog, ahli nutrisi, fisioterapis, hingga tim analisis data dan video.
Fadil menilai seluruh unsur tersebut memiliki kontribusi penting karena kebutuhan atlet tidak berhenti pada latihan teknik. Kondisi fisik, pemulihan, asupan nutrisi, kesehatan mental, hingga analisis permainan menjadi bagian dari persiapan menuju pertandingan internasional.
“Jangan lupakan mereka. Kepada para atlet dan peraih emas, karena mereka yang setiap hari datang dan mempersiapkan semuanya untuk kalian,” ujar Fadil.
Ia menegaskan, kontribusi para pekerja di balik layar sering kali tidak terlihat oleh publik. Nama mereka tidak tercantum dalam papan skor maupun pemberitaan pertandingan, tetapi hasil kerja mereka ikut menentukan kesiapan atlet ketika memasuki arena.
“Nama mereka tidak muncul di papan skor, tidak muncul di televisi dan tidak berdiri di podium. Tetapi medali yang kalian dapat menyimpan keringat mereka,” kata Fadil.
Apresiasi juga diberikan kepada staf, karyawan, dan jajaran pengurus PP PBSI yang menjalankan berbagai pekerjaan pendukung di Pelatnas Cipayung.
Menurut Fadil, operasional pelatnas tidak mungkin berjalan tanpa dukungan tim administrasi, pengelola lapangan, bagian konsumsi, serta personel yang memastikan kebutuhan sehari-hari atlet dan pelatih terpenuhi.
Kerja kolektif tersebut kemudian menghasilkan pencapaian signifikan bagi Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Bulu tangkis menjadi salah satu cabang olahraga penyumbang medali bagi kontingen Indonesia dengan koleksi enam medali.
Dua medali emas masing-masing dipersembahkan tim beregu putra serta pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin.
Sementara itu, medali perak diraih pasangan ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah.
Tiga medali perunggu lainnya diperoleh tim beregu putri, tunggal putra Alwi Farhan, serta pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.
Bagi PBSI, pencapaian tersebut tidak hanya menjadi catatan hasil pertandingan. Fadil menyebut keberhasilan di Asian Games 2026 menjadi bagian dari evaluasi sekaligus proses membangun sistem pembinaan yang lebih terintegrasi.
Ia ingin pembinaan bulu tangkis nasional tidak bergantung hanya pada kemampuan individu atlet. Menurutnya, prestasi harus ditopang sistem yang memungkinkan atlet berkembang secara berkelanjutan.
Pandangan tersebut sejalan dengan visi yang disampaikan Fadil sejak awal kepemimpinannya di PP PBSI. Ia menempatkan bulu tangkis sebagai salah satu aset olahraga Indonesia yang membutuhkan pengelolaan secara profesional dan melibatkan banyak unsur.
“Terima kasih kepada teman-teman yang sudah berdedikasi untuk para atlet,” ujar Fadil.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa enam medali Indonesia di Asian Games 2026 bukan hanya milik atlet yang berdiri di podium. Di belakang setiap kemenangan terdapat proses panjang, mulai dari latihan, pemulihan, analisis pertandingan, pemenuhan kebutuhan nutrisi, hingga dukungan operasional di pelatnas.
Dengan capaian tersebut, PBSI memiliki modal penting untuk melanjutkan pembinaan setelah Asian Games 2026.
Evaluasi terhadap performa atlet dan kerja tim pendukung diharapkan dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi agenda bulu tangkis internasional berikutnya. (09/AGF).











