Gandeng Woko Channel, Film Piye To Kih? Angkat Kisah Cinta Beda Agama dan Alam

Piye To Kih?
Gandeng Woko Channel, Film Piye To Kih? Angkat Kisah Cinta Beda Agama dan Alam (Foto: Ist)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Kisah cinta dengan hambatan tak biasa menjadi daya tarik film drama komedi Piye To Kih?. Film produksi Miracle Pictures yang menggandeng kreator populer Woko Channel ini mengangkat cerita tentang cinta beda agama sekaligus beda alam, dibalut komedi absurd dan pesan tentang pentingnya memperbaiki diri.

Poster resmi film Piye To Kih? diluncurkan oleh sutradara sekaligus produser Ito Mavin di Thamrin City, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026). Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

Setelah menggelar gala premiere, tim produksi juga merencanakan roadshow ke sejumlah daerah untuk memperkenalkan film tersebut kepada penonton. Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan penonton sekaligus ikut mendorong pertumbuhan jumlah penonton film Indonesia.

Film Piye To Kih? mengikuti perjalanan Mukidi, seorang pria yang berusaha membuktikan bahwa dirinya layak menikahi perempuan yang dicintainya. Untuk mewujudkan keinginannya, Mukidi berupaya memperbaiki kondisi ekonomi hingga berusaha membeli rumah.

Namun, rumah murah yang dibelinya justru membawanya pada pertemuan tak terduga dengan Sukma, perempuan misterius yang berasal dari alam berbeda.

Kehadiran Sukma membuat kehidupan Mukidi dipenuhi kejadian ganjil yang memancing rasa curiga. Bersama dua sahabatnya, Gendut dan Penyok, Mukidi menghadapi berbagai situasi yang menggabungkan kisah cinta, misteri, dan humor absurd.

BACA JUGA  BMKG Perkirakan Cuaca Cerah di DKI Jakarta

Premis tersebut menjadi pembeda Piye To Kih? dari drama komedi romantis pada umumnya. Hambatan cinta tidak hanya berkaitan dengan perbedaan keyakinan, tetapi juga batas antara dua alam yang berbeda.

Sutradara sekaligus produser Ito Mavin mengatakan, Piye To Kih? tidak sekadar menawarkan hiburan melalui kisah cinta yang unik. Film ini juga membawa pesan mengenai pentingnya mengenali nilai diri dan memperbaiki kualitas pribadi untuk meraih sesuatu yang diinginkan.

Ito menyoroti kecenderungan seseorang untuk mengubah dirinya demi mendapatkan pengakuan atau mencapai tujuan tertentu. Menurutnya, seseorang seharusnya berusaha meningkatkan kualitas diri tanpa harus kehilangan nilai-nilai yang dimiliki.

“Biasanya di zaman sekarang kita sering kali melupakan value yang kita punya, kemudian kita berusaha menjadi orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Padahal, satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan adalah memantaskan diri,” ujar Ito.

Pesan tersebut menjadi landasan cerita Mukidi yang berusaha membuktikan kelayakannya untuk menikahi perempuan yang dicintai. Perjalanan tokoh utama itu dikemas melalui konflik yang tidak biasa, dengan pendekatan komedi absurd agar tetap menghibur penonton.

Ito menjelaskan, pengembangan cerita film ini berasal dari berbagai sumber, termasuk pengalaman pribadi. Setelah menentukan pesan utama yang ingin disampaikan, tim kemudian memilih komedi absurd sebagai pendekatan untuk mengemas cerita.

BACA JUGA  Wakil Bupati Asahan Salurkan 500 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Banjir di Desa Sei Dua Hulu

“Setelah menentukan pesan yang ingin disampaikan, tim kemudian memilih pendekatan komedi absurd untuk mengemas cerita tersebut,” terangnya.

Keterlibatan Woko Channel menjadi salah satu unsur penting dalam produksi Piye To Kih?. Meski demikian, Ito menegaskan bahwa film ini tidak hanya dibuat untuk penggemar Woko Channel, melainkan ditujukan bagi penonton dari berbagai kalangan.

Menurut Ito, perkembangan internet telah membuka kesempatan yang lebih luas bagi kreator dari berbagai daerah untuk dikenal masyarakat. Woko Channel dan Dara Sarasvati menjadi contoh kreator daerah yang mampu membangun popularitas melalui media sosial.

“Di era internet ini semua orang punya kesempatan yang sama,” ungkapnya.

Ito juga melihat kedekatan cerita Woko Channel dengan kehidupan sehari-hari sebagai salah satu faktor yang membuat karya mereka diterima penonton. Melalui kolaborasi ini, ia ingin membawa kekuatan cerita tersebut ke layar lebar dan menjangkau khalayak yang lebih luas.

Dengan demikian, kerja sama antara Miracle Pictures dan Woko Channel bukan sekadar mengandalkan popularitas kreator digital, tetapi juga menjadi upaya menghadirkan cerita yang dapat dinikmati penonton bioskop dengan latar belakang berbeda.

Naskah Piye To Kih? ditulis oleh Endik Koeswoyo bersama Ito Mavin. Film ini melibatkan sejumlah pemain, di antaranya Dara Sarasvati sebagai Sukma, Heri Chandra sebagai Mukidi, Sutrisno Agung sebagai Gendut, Eko Dunung sebagai Penyok, Gabriella Desta, TJ Ruth, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, Ivone Dahler, Marwoto, Ibnu Gundul, Yono Bakrie, Wiyono, Rizka Oktavia, Faisal Wash, Fajar Mukti dan Sky Sitorus.

BACA JUGA  Respons Cepat Hotline 110, Polsek Krian Berhasil Pertemukan Anak Hilang dengan Orang Tuanya

Kehadiran para pemain tersebut melengkapi cerita yang memadukan romansa, misteri, dan komedi dalam satu rangkaian konflik.

Tak hanya menyiapkan cerita dan jajaran pemain, tim produksi juga menghadirkan musik khusus untuk mendukung film. Soundtrack resmi atau original soundtrack (OST) Piye To Kih? dibuat oleh Lek Dahlan sebanyak empat lagu.

Musik tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman menonton yang lebih menyeluruh, sekaligus melengkapi suasana cerita yang menggabungkan kisah cinta dan komedi absurd.(04)