“Ketika emas mulai berbicara terlalu lantang, biasanya itu pertanda bahwa pasar sedang meragukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar harga logam mulia.”
Oleh Kemal H. Simanjuntak
Lonjakan harga emas yang kini menembus rekor global dan domestik bukan sekadar kisah tentang logam mulia yang mahal. Ia adalah peringatan keras tentang kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi dan Indonesia tidak berada di luar cerita itu.
Ketika harga emas dunia menembus US$5.000 per ounce dan emas Antam melonjak hingga mendekati Rp3 juta per gram, pasar sebenarnya sedang menyampaikan satu pesan sederhana, risiko sistemik belum pergi. Ketidakpastian belum terkelola. Dan kredibilitas kebijakan masih diuji.
Di permukaan, narasinya tampak global, geopolitik memanas, kebijakan tarif Amerika berubah-ubah, suku bunga dunia sulit diprediksi. Namun, di balik itu, ada persoalan yang lebih dekat dengan kita sendiri: kombinasi kebijakan fiskal yang ekspansif, pembiayaan utang yang membesar, dan ruang kebijakan moneter yang semakin sempit.
Dalam satu dekade terakhir, utang pemerintah Indonesia tumbuh cepat. Rasio utang memang masih dijaga di bawah batas undang-undang, tetapi arah trennya jelas naik. Defisit fiskal yang melebar selama pandemi belum sepenuhnya kembali ke posisi semula. Beban bunga dalam APBN terus meningkat, menyedot ruang belanja produktif.
Masalahnya bukan sekadar besarnya utang, melainkan persepsi keberlanjutan. Investor global semakin sensitif terhadap negara dengan ketergantungan pembiayaan eksternal yang tinggi. Setiap sinyal pelebaran defisit, setiap perdebatan tentang disiplin fiskal, langsung tercermin di pasar keuangan mulai dari nilai tukar hingga harga emas domestik.
Di titik ini, emas menjadi cermin yang jujur. Setiap kali rupiah tertekan, harga emas di dalam negeri melonjak lebih cepat daripada harga dunia. Itu berarti pasar tidak hanya takut pada risiko global, tetapi juga sedang memasang premi terhadap risiko domestik. Dalam bahasa yang lebih lugas: sebagian pelaku pasar sedang mengurangi kepercayaan pada stabilitas nilai rupiah jangka panjang.
Bank Indonesia berada dalam posisi yang semakin rumit. Menjaga rupiah tetap stabil menuntut suku bunga tetap tinggi. Namun, suku bunga tinggi memperberat beban bunga utang pemerintah dan menekan pertumbuhan. Di sisi lain, pelonggaran terlalu cepat berisiko memicu arus keluar modal dan pelemahan kurs. Ruang manuver moneter makin sempit, sementara tekanan fiskal belum sepenuhnya reda.
Dalam kondisi seperti ini, lonjakan emas bukan hanya reaksi spontan investor, tetapi refleksi dari ketegangan kebijakan yang belum terselesaikan.
Yang paling terdampak justru kelas menengah. Ketika emas menjadi instrumen tabungan favorit, itu menandakan satu hal penting: kepercayaan terhadap instrumen keuangan konvensional mulai berkurang. Deposito kalah oleh inflasi, pasar saham terlalu volatil, obligasi rentan terhadap perubahan suku bunga. Masyarakat memilih aset yang tidak bergantung pada janji siapa pun.
Namun, ada paradoks berbahaya di sini. Semakin banyak dana mengalir ke emas, semakin sedikit yang masuk ke sektor produktif. Konsumsi tertahan, investasi riil melambat, dan pertumbuhan kehilangan tenaga. Emas memang melindungi nilai, tetapi tidak menciptakan lapangan kerja.
Perak memperkuat sinyal kegelisahan itu. Lonjakan perak yang tajam mencerminkan spekulasi atas transisi energi sekaligus ketakutan atas gangguan pasokan. Pasar bergerak cepat, likuiditas tipis, volatilitas ekstrem. Ini bukan tanda pasar yang percaya diri, melainkan pasar yang gelisah.
Di titik ini, emas dan perak tidak lagi sekadar komoditas. Keduanya berubah menjadi indikator kepercayaan terhadap tata kelola ekonomi.
Ketika harga emas domestik mencetak rekor demi rekor, itu berarti pasar sedang memberi peringatan dini: disiplin fiskal belum sepenuhnya diyakini, keberlanjutan utang masih dipertanyakan, dan stabilitas makro belum dianggap kokoh.
Bagi pemerintah, pesan ini seharusnya tidak diabaikan. Stabilitas tidak cukup dijaga lewat slogan pertumbuhan dan target inflasi. Pasar membaca sinyal yang lebih dalam: konsistensi kebijakan fiskal, arah pembiayaan utang, transparansi APBN, dan koordinasi nyata antara fiskal dan moneter.
Karena sejarah selalu menunjukkan satu hal, krisis jarang datang dari inflasi yang diumumkan, tetapi sering muncul dari kepercayaan yang diam-diam runtuh. Dan ketika emas mulai berbicara terlalu lantang, biasanya itu pertanda bahwa pasar sedang meragukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar harga logam mulia.
*Penulis adalah Senior Consultant, Asesor LSP Tata Kelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)
Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini penulis. Segala pandangan, analisis, dan kesimpulan yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis









