Gowes PWI Cipageran (KBB) – Merauke

Gowes PWI Cipageran (KBB) - Merauke Hari Ke 18 Menemukan Makanan Kesukaan ((Foto Istimewa)

Oleh Taufik Abriansyah

Hari ke 18 Jember 12 km
Sabtu, 17 Mei 2025

Menemukan Makanan Kesukaan

Sudutpandang.id – Setelah semalaman menimbang-nimbang apakah hari ini langsung lanjut ke Banyuwangi atau tidak, akhirnya saya putuskan untuk menambah satu hari lagi di Jember.

Saya bisa istirahat untuk memulihkan tubuh setelah seminggu ini tiap hari gowes puluhan kilometer. Si lady (julukan untuk jenis sepeda federal yang saya pakai) mungkin senang juga kalau hari ini istirahat.

Tapi alasan utamanya adalah saya sungguh terkesan dengan kebaikan pemilik Rumah Pohon Om Zulkarnain dan keluarganya. Meski belum saling kenal sebelumnya, mereka menerima saya dengan hangat. “Silakan Om, istirahat saja dulu. Mau seminggu pun boleh,” kata Om Zul.

Rumah Pohon itu sungguh nyaman untuk tempat beristirahat. “Saya memang punya keinginan untuk menyediakan tempat bagi teman-teman yang sedang melakukan perjalanan, alhamdulillah istri saya mendukung,” kata Om Zul. Dia hanya berharap ridho Allah dari apa yang dilakukannya ini.

Rumah Pohon berukuran 2 x 4 meter itu berdiri menempel di pohon Sengon. Dinaungi puluhan pohon jati yang menjulang di area itu. Selain Rumah Pohon ada beberapa bangunan lain tempat anak-anak Al Kautsar Educational Center belajar.

Bersama istrinya, Mbak Heni, Om Zul mengasuh pendidikan luar sekolah bagi anak-anak. Model kegiatan yang memadukan antara pendidikan agama (antara lain mengaji Al Quran) dengan sekolah alam. Sudah berjalan sekitar 8 tahun. Kini “anak-anak”-nya ada sekitar 150 orang.

BACA JUGA  OC Kaligis: Nyali KPK Ungkap Perkara Formula E Jakarta

Hari ini saya berkesempatan subuh berjamaah di masjid Nurul Huda, tidak jauh dari rumah pohon. Saya terbangun oleh suara tahrim menjelang azan yang disetel kenceng. Yang mengesankan saya, di antara jamaah subuh ini ada beberapa remaja berusia tanggung. Di tempat lain biasanya jamaah subuh hanya ada golongan sepuh.

Pagi ini Jember terasa dingin. Padahal suhu menunjukkan angka 24 derajat celcius. Hidung saya meler. Sebentar-sebentar harus buang ingus.

Setelah shalat saya kembali ke Rumah Pohon. Bikin kopi. Dan nyantai menikmat suasana alam sambil mencicil tulisan laporan perjalanan.

Saat hari mulai terang, dua bocah naik ke Rumah Pohon. Rupanya mereka anak-anak Om Zul. Satu berusia 10 tahun (bernama Albert), dan satu berusia 4 tahun (bernama Bilal). “Om minta gantungan kunci,” kata Bilal.

Mereka rupanya melihat saya tadi malam bagi-bagi gantungan kunci. Tapi hanya untuk anak yang bisa menjawab pertanyaan. Lalu mereka memberanikan diri mendatangi saya.

Kedua anak ini tampak girang saat saya bagi gantungan kunci. Apalagi saya kasih tambah mainan yang sengaja saya ambil dari warung sebagai bekal. Satu ewang.

Lantaran hari ini tidak gowes antar kota, jadi saya isi dengan mencuci baju yang kotor. Cuci ala kadar. Rendam deterjen lalu kucek-kucek. Sebenarnya sejak touring ke Sabang, saya sudah tidak lagi memakai pola nyuci sendiri. Tetapi nyuci di laundry.

Ada beberapa alasan memakai jasa laundry saat touring. Pertama, menghemat waktu dan tenaga. Kedua, pakaian pasti kering. Ketiga, jasa laundry ada dimana-mana. Keempat, tarifnya masih terjangkau. Jadi kini di setiap touring yang memakan waktu berminggu-minggu, saya menyiapkan bujet untuk laundry.

BACA JUGA  Surat Terbuka OC Kaligis: Mohon Bebaskan Saya Pak Yasonna

Selesai nyuci saya kontak Pakde Dumehno. Rencananya kami akan bersilaturahmi dengan seorang goweser yang punya banyak koleksi sepeda federal di rumahnya.

Tapi belum lagi saya mendorong sepeda, Om Zul telah menyajikan sarapan untuk saya santap. Di meja panjang di bawah Rumah Pohon. Kata ustad, kita tidak boleh menolak rejeki. Ya sudah saya sikat dulu. Menunya lalapan ikan goreng.

Selesai sarapan saya mulai bergerak menuju Alun-alun Jember. Tempat tikum janjian saya dengan Pakde Dumehno. Dari Wirolegi tinggal mengikuti jalan raya saja.
Saya pernah ke kota Jember sebelumnya. Puluhan tahun silam. Dua kali. Pertama saat rekan saya di Majalah GATRA Biro Bandung, Mappajarungi menikah. Kebetulan jodohnya itu berasal dari Jember.

Waktu itu saya berangkat berempat. Saya, teh Ida Farida, Sulhan Syafei, dan Memmy Chowie. Kami menggunakan kereta api yang difasilitasi staf Humas PT Kereta Api Indonesia Sukendar Mulya (kini sudah almarhum).

Yang kedua saat saya membantu mengerjakan liputan tentang petani tembakau di Jember dan Madura. Ada kenangan lucu dalam liputan ini.

Petani yang saya temui semula enggan bercerita. Dia khawatir hasil liputan saya akan berdampak pada pekerjaannya. Susah payah saya berusaha meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja.

Nah saat saya hampir menyerah, lagu Iwan Fals yang dia setel pas lagu Galang Rambu Anarki. Saya lalu bercerita di balik layar tentang lagu itu. Si bapak terpesona.

BACA JUGA  OC Kaligis: Skor Menang Telak Pemerintah Versus KPK

Apalagi saat diputar lagu berikutnya, saya bisa menjelaskan cerita di balik layarnya. Si bapak melunak, dan akhirnya bercerita tentang bisnis tembakau. Wawancara menjadi lancar karena kita sama-sama Orang Indonesia.

Di Alun-alun setelah puas ngobrol sembari menikmati suasana Jember, kami pun bubar. Selain saya dan Pakde Dumehno, ada Mas Pardi, salah seorang federalist Jember, ikut nongkrong.

Balik lagi ke Wirolegi, saya sempat mampir ke sebuah rumah makan di jalan Ahmad Yani. Tempat ini istimewa karena menjual makanan kesukaan saya: pempek dan martabak HAR.

Pempek mungkin mudah ditemui. Hampir di tiap kota ada yang jualan. Tapi martabak HAR jarang-jarang. Ini menu wajib setiap saya pulang kampung ke Palembang.

Di Rumah Pohon saya nikmati makanan itu. Setelah itu saya tidur. Lalu hujan mengguyur. Sangat deras. Dan lama pula.

Jember, 17 Mei 2025