JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (4/2/2026), dengan kenaikan sekitar 0,3 persen dan kembali berada di zona hijau. Kendati demikian, penguatan IHSG hari ini, Kamis (5/1/2026), belum sepenuhnya mencerminkan optimisme pasar, lantaran masih dibayangi tekanan jual dari investor asing.
Tekanan tersebut tercermin dari aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp1,42 triliun. Kondisi ini membuat pergerakan IHSG hari ini cenderung rapuh, terutama karena sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran pelepasan, di antaranya BUMI, ANTM, ASII, TLKM, dan BBNI.
Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan IHSG hari ini berpotensi bergerak melemah terbatas. Ia menilai pelaku pasar masih bersikap wait and see sambil menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang dijadwalkan diumumkan hari ini.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak pada area support di kisaran 8.030 – 8.120 dan area resisten pada level 8.200 – 8.230. Investor disarankan mencermati pergerakan indeks di rentang tersebut sebagai acuan pengambilan keputusan jangka pendek.
Sementara itu, sejumlah sekuritas merekomendasikan saham BBRI, TLKM, JPFA, MAPA, BRMS, PGEO, dan WIIM sebagai pilihan yang patut dicermati investor di tengah volatilitas pasar.
Dari sektor energi, kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memangkas target produksi batu bara nasional sebesar 24 persen menjadi 600 juta ton turut memengaruhi sentimen pasar. Kebijakan ini menciptakan standar baru dalam peta investasi saham batu bara.
Analisis BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, strategi investasi kini cenderung bergeser ke emiten yang memiliki keamanan kuota produksi di tengah pengetatan suplai. Emiten yang dinilai berada di “zona aman” antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan estimasi produksi sekitar 65,2 juta ton, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan potensi produksi mencapai 74 juta ton, serta PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui anak usahanya, Kideco, dengan target produksi 30 juta ton.
Sebaliknya, PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) diproyeksikan menghadapi tekanan setelah kuota produksinya dipangkas hingga 45 persen, sehingga kapasitas produksi turun ke sekitar 3,3 juta ton.
Dari sisi regulasi, perhatian publik juga tertuju pada pemeriksaan terhadap Shinhan Sekuritas terkait dugaan manipulasi harga. Sejumlah saham, seperti PADI, MINA, dan PIPA, kini masuk dalam radar pengawasan ketat akibat pola pergerakan harga yang dinilai tidak wajar.
Sentimen global turut memengaruhi pergerakan IHSG hari ini. Di Amerika Serikat, Wall Street ditutup bervariasi dengan kecenderungan melemah seiring kejenuhan di sektor teknologi. Kekhawatiran bahwa reli saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mencapai puncaknya menekan indeks Nasdaq hingga turun 1,51 persen.
Saham AMD dan Nvidia terkoreksi setelah proyeksi pendapatan AMD dinilai mengecewakan pasar. Sementara itu, Alphabet dan Palantir turut melemah di tengah kekhawatiran investor terhadap efektivitas investasi besar di sektor AI dibandingkan pertumbuhan pendapatan riil.
Berbeda dengan Wall Street, mayoritas bursa Asia-Pasifik justru bergerak menguat. Indeks Kospi Korea Selatan melesat 1,57 persen, disusul penguatan di bursa Australia dan Taiwan.
Namun, di Jepang, saham Nintendo tercatat anjlok hingga 9 persen. Investor mulai mengkhawatirkan kenaikan harga komponen memori yang berpotensi menekan margin keuntungan konsol Switch 2 yang dijadwalkan meluncur dalam waktu dekat.(PR/01)









