Kevin Wu Dorong Jakarta Jadi Kota Aman dan Beradab, Stop Bullying Sekarang

Avatar photo
Kevin Wu Dorong Jakarta Jadi Kota Aman dan Beradab, Stop Bullying Sekarang
Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kevin Wu, bersama anak-anak saat reses.(Foto:Dok.Pribadi)

“Anak-anak adalah masa depan Jakarta. Kalau mereka tumbuh dengan luka dan ketakutan, kota ini kehilangan jiwanya. Perubahan harus dimulai dari sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar.”

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kevin Wu, menegaskan pentingnya menjadikan Jakarta sebagai kota yang aman dan beradab dengan menghentikan perundungan (bullying). Menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai sejak lingkungan sekolah dan keluarga, serta didukung seluruh masyarakat, agar anak-anak dapat tumbuh dan belajar tanpa takut atau tertekan.

“Jakarta sebagai kota global tidak boleh hanya maju dalam infrastruktur, tapi juga harus maju dalam peradaban dan empati. Tidak ada artinya MRT, jalan lebar, atau gedung tinggi, jika anak-anak kita tumbuh dalam ketakutan dan saling menyakiti,” ujar Kevin Wu dalam keterangan tertulis, Senin (20/10/2025).

Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), hingga 2024 tercatat lebih dari 3.500 kasus kekerasan terhadap anak di DKI Jakarta, dengan sekitar 30 persen di antaranya berupa bullying di sekolah. Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menunjukkan satu dari empat siswa pernah mengalami perundungan, baik secara verbal, sosial, maupun daring (cyberbullying).

BACA JUGA  Berikan Rasa Aman Pada Warga Binaan , Koramil 0820-02/Wonoasih Gelar Apel Dan Siskamling

“Ini bukan sekadar angka. Di balik setiap data ada anak yang kehilangan rasa percaya diri, orang tua yang resah, dan sekolah yang kehilangan wibawa moral. Kita harus hentikan siklus ini sekarang,” tegas Kevin.

Ia mengungkapkan, kasus perundungan belakangan ini kian mencuat setelah video viral memperlihatkan siswa SMP di Jakarta Timur menjadi korban bullying yang direkam dan dibagikan di media sosial.

Fenomena serupa juga terjadi di sekolah swasta maupun negeri, menunjukkan bahwa perundungan tidak mengenal status sosial atau latar belakang ekonomi.

Kevin menilai tekanan sosial dan lemahnya literasi digital turut memperparah situasi.

“Anak-anak sering tidak sadar bahwa ejekan atau unggahan mereka di TikTok bisa menghancurkan mental teman sebayanya. Karena itu, literasi empati digital harus menjadi prioritas,” katanya.

BACA JUGA  Kemeriahan Malam Puncak HUT ke-15 Kecamatan Ciputat Timur

Program Pencegahan Bullying

Untuk menanggulangi masalah ini, Kevin Wu mendorong Pemprov DKI Jakarta memperkuat kebijakan dan program pencegahan bullying. Langkah konkret yang ia ajukan meliputi pembentukan Satuan Tugas Anti-Bullying di setiap sekolah yang melibatkan guru, siswa, dan psikolog. Kemudian, integrasi pendidikan karakter dan empati digital ke dalam kurikulum muatan lokal Jakarta.

Selanjutnya, penyediaan layanan konseling psikologis gratis dan rahasia di sekolah dan kelurahan, serta kampanye publik #JakartaTanpaBullying yang melibatkan komunitas muda dan tokoh masyarakat.

Selain itu, Kevin mendorong pengembangan aplikasi pelaporan cepat yang ramah anak.

“Pemerintah harus hadir bukan sekadar menindak, tapi juga mendampingi dan memulihkan. Kita ingin Jakarta menjadi kota yang aman untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi,” tambah legislator dari Dapil Jakarta 10 (Grogol Petamburan, Kembangan, Taman Sari, Kebon Jeruk, dan Pal Merah) itu.

BACA JUGA  Jadi Orang Pertama Penerima Vaksin Covid-19 di Kalbar, Begini Kata Pangdam XII/Tanjupura

Kevin menekankan bahwa visi Jakarta sebagai kota global harus selalu dibarengi dengan misi kemanusiaan dan keadaban sosial.

Fraksi PSI menyatakan akan terus mendorong kebijakan kota yang manusiawi, inklusif, dan berpihak pada perlindungan anak melalui legislasi, pengawasan, dan edukasi publik.

“Anak-anak adalah masa depan Jakarta. Kalau mereka tumbuh dengan luka dan ketakutan, kota ini kehilangan jiwanya. Perubahan harus dimulai dari sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar,” tutupnya.(01)