PBSI Pacu Regenerasi, Alwi dan Ubed Jadi Bukti

Ketua Umum PP PBSI Fadil Imran menyoroti pentingnya regenerasi bulu tangkis Indonesia. Perkembangan Alwi Farhan dan Mohammad Zaki Ubaidillah menjadi contoh hasil pembinaan pemain muda yang dipersiapkan menuju Olimpiade Los Angeles 2028. (Foto: AGF/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) terus mempercepat regenerasi atlet untuk menjaga keberlanjutan prestasi bulu tangkis nasional. Perkembangan Alwi Farhan dan Mohammad Zaki Ubaidillah atau Ubed menjadi salah satu indikator positif dari program pembinaan pemain muda.

Ketua Umum PP PBSI Fadil Imran mengatakan regenerasi menjadi pekerjaan penting karena persaingan bulu tangkis dunia semakin kompetitif. Sejumlah negara mulai berani menurunkan atlet muda untuk bersaing di level elite.

Fadil mengaku kondisi tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi pembinaan PBSI. Ia ingin Indonesia tidak hanya mengandalkan pemain senior, tetapi memiliki generasi penerus yang mampu bersaing di level tertinggi.

“Sebelum saya tidur, terkadang saya berpikir dan sedikit iri melihat negara-negara lain. Melihat atlet negara lain yang masih muda, sementara kita sudah senior,” kata Fadil dalam Tasyakuran Pencapaian Tim Bulu Tangkis Indonesia pada Asian Games 2026 di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu.

Menurut Fadil, kegelisahan tersebut telah disampaikan kepada Sekretaris Jenderal PBSI sebagai bagian dari perhatian terhadap masa depan prestasi bulu tangkis Indonesia.

Ia kemudian mencontohkan perkembangan Alwi Farhan yang dinilai menunjukkan hasil signifikan dalam periode pembinaan. Berdasarkan materi evaluasi bidang pembinaan dan prestasi PBSI yang disampaikan Fadil, peringkat Alwi disebut meningkat dari posisi ke-49 dunia pada Januari 2025 menjadi peringkat ke-10 pada Oktober tahun yang sama.

BACA JUGA  IPSI Sambas Optimis Raih Emas Porprov Kalbar

Perkembangan serupa juga dicatat Mohammad Zaki Ubaidillah. Pemain yang akrab disapa Ubed tersebut disebut mengalami lonjakan peringkat dari posisi ke-158 dunia menjadi peringkat ke-29.

Bagi Fadil, perubahan peringkat kedua pemain tersebut bukan sekadar pencapaian statistik. Angka tersebut menjadi indikator bahwa pembinaan yang dilakukan secara terarah dan terukur dapat menghasilkan perkembangan yang dapat dipantau.

“Angka-angka tadi bukan untuk membuat kita berpuas diri. Angka-angka itu memberi kita satu pesan, kalau proses pembinaan dijalankan dengan benar, hasilnya dapat diukur,” ujar Fadil.

Ia berharap perkembangan Alwi dan Ubed dapat menjadi pemicu bagi pemain muda lain untuk menunjukkan kemajuan. PBSI juga ingin regenerasi tidak hanya terjadi di sektor putra, tetapi merata hingga sektor putri.

Kedalaman pemain menjadi salah satu faktor yang ingin diperkuat PBSI. Dengan regenerasi yang berjalan baik, Indonesia diharapkan tidak mengalami ketergantungan terhadap satu atau dua pemain ketika memasuki turnamen besar.

Fadil menegaskan prestasi bulu tangkis nasional tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan seorang atlet atau pelatih. Menurut dia, prestasi harus lahir dari sistem pembinaan yang melibatkan banyak unsur secara berkesinambungan.

Sistem tersebut mencakup pelatih teknik dan fisik, tenaga medis, psikolog, ahli nutrisi, fisioterapis, tim sport science, analis video, serta bidang pembinaan dan prestasi.

BACA JUGA  Tahan Imbang Liverpool Tanpa Gol, MU Curi Satu Poin dari Anfield

Setiap unsur memiliki peran dalam mempersiapkan atlet, mulai dari peningkatan kemampuan teknis, kebugaran, pemulihan, kondisi mental, asupan nutrisi, hingga evaluasi pertandingan berbasis data.

PBSI juga masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah dalam proses regenerasi. Salah satunya menjaga konsistensi performa pemain ketika naik ke level persaingan yang lebih tinggi.

Selain itu, kesenjangan kualitas antara kelompok pratama dan utama juga menjadi perhatian. Karena itu, pemantauan perkembangan atlet perlu dilakukan secara individual dan tidak disamaratakan.

Fadil meminta jajaran pelatih memahami karakteristik setiap pemain sebelum menentukan program latihan.

“Saya selalu tekankan kepada para pelatih dan seluruh pengurus, tolong perhatikan atletnya satu per satu, karena tidak ada satu atlet yang memiliki ukuran yang sama. Pasti berbeda. Tolong dilatih sesuai dengan ukurannya,” kata Fadil.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya PBSI membangun pola pembinaan yang lebih personal. Program latihan individual serta pemantauan berbasis data akan terus diperkuat untuk mengetahui kebutuhan dan perkembangan masing-masing atlet.

Capaian bulu tangkis Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 juga menjadi salah satu bahan evaluasi. Indonesia meraih dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dari cabang bulu tangkis pada ajang tersebut.

BACA JUGA  Garuda Muda Siap Bertarung Lawan Hong Kong

Namun, Fadil menegaskan keberhasilan di Asian Games bukan menjadi tujuan akhir. PBSI harus segera melanjutkan proses pembinaan agar prestasi tetap terjaga dalam jangka panjang.

Regenerasi pemain muda kini diarahkan untuk membangun kekuatan tim menuju Olimpiade Los Angeles 2028. PBSI membidik kelolosan wakil Indonesia secara maksimal di berbagai sektor sekaligus membuka peluang kembali merebut medali emas.

Perjalanan menuju Los Angeles 2028 masih panjang. Karena itu, perkembangan Alwi, Ubed, serta pemain muda lainnya akan menjadi bagian penting dari proses PBSI menyiapkan generasi baru bulu tangkis Indonesia.

Bagi PBSI, keberhasilan regenerasi bukan hanya soal munculnya pemain muda dengan peringkat tinggi. Lebih dari itu, proses tersebut diharapkan melahirkan atlet yang konsisten, kompetitif, dan mampu menjadi bagian dari kekuatan Indonesia di panggung dunia. (09/AGF).