Pendekatan Komunitas Jadi Kunci Redam Tawuran dan Bullying di Kalangan Pelajar

Tawuran
Pendekatan Komunitas Jadi Kunci Redam Tawuran dan Bullying di Kalangan Pelajar (Foto: SP)

TANGSEL, SUDUTPANDANG.ID – Meningkatnya kasus tawuran pelajar, kekerasan remaja, serta perundungan di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius berbagai pihak. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah ruang dialog lintas sekolah mulai dimanfaatkan sebagai sarana membangun komunikasi dan kebersamaan antar pelajar.

Melalui kegiatan tersebut, para siswa dan generasi muda yang sebelumnya tidak saling mengenal kini dapat berkumpul dalam satu forum, berdiskusi, serta menyatukan komitmen untuk menjaga lingkungan pendidikan dan pergaulan yang lebih aman, tertib, dan bebas dari kekerasan.

Berbagai pihak menilai bahwa persoalan kenakalan remaja tidak bisa dilepaskan dari sejumlah faktor seperti lingkungan sosial, kondisi keluarga, hingga pengaruh media sosial yang semakin kuat.

Pada fase pencarian jati diri, remaja juga cenderung lebih rentan terhadap tekanan emosional maupun sosial, yang apabila tidak diarahkan dengan baik dapat berujung pada perilaku negatif.

BACA JUGA  Sebanyak 6 Pelajar Digelandang ke Polsek Pamulang

Karena itu, keterlibatan orang tua, sekolah, dan masyarakat dinilai sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif. Penanaman nilai empati, toleransi, serta penyelesaian konflik secara damai menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya tindakan kekerasan di kalangan pelajar. Hal tersebut disampaikan Ketua Tangsel Bersatu, Muhammad Aprilyandi, melalui keterangannya pada Jumat (9/4/2026).

Aprilyandi menegaskan bahwa kegiatan positif seperti turnamen Mobile Legend, turnamen futsal, serta aksi damai pelajar tanpa kekerasan merupakan salah satu upaya nyata untuk mengarahkan energi remaja ke hal yang lebih konstruktif.

Kegiatan tersebut juga dinilai mampu membangun sportivitas, solidaritas, dan semangat kebersamaan di kalangan generasi muda.

Ia menambahkan bahwa pendekatan berupa imbauan saja tidak lagi cukup untuk meredam konflik remaja. Diperlukan langkah nyata yang melibatkan langsung pelajar, alumni, hingga komunitas pemuda dan Gen Z.

BACA JUGA  Babinsa Balunganyar-Pasuruan Perkuat Komunikasi Dengan Warga Wilayah Binaan

“Mengimbau saja tidak cukup. Harus ada aksi konkret dan solusi bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa isu seperti bullying, pelecehan, tawuran, dan tindakan anarkis merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama, termasuk pemerintah daerah. Karena itu, diperlukan langkah pencegahan dan penanganan yang berkelanjutan.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, institusi pendidikan, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi muda.

Penguatan pendidikan karakter, pengawasan, serta penyediaan ruang kegiatan positif dinilai menjadi kunci dalam mengarahkan remaja ke arah yang lebih produktif.

“Kegiatan positif tersebut, diharapkan menjadi rool model gerakan serupa di berbagai daerah. Di tengah dinamika sosial remaja dan pemuda serta Gen Z yang kian kompleks, inisiatif berbasis komunitas dinilai mampu membuka ruang dialog sekaligus memperkuat solidaritas generasi muda, bahwa perubahan dapat dimulai dari panggung kecil di ruang publik, lalu bergema lebih luas ke seluruh penjuru kota, membangun budaya saling menghargai, kepedulian dan semangat kolaborasi yang berkelanjutan,” pungkasnya.(PR/04)