BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Wakil Katib I Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahmad Fahir, M.Si menyatakan bahwa relasi agama-negara ala Indonesia terwujud kokoh berkat fondasi yang dibangun oleh NU sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka, sehingga Indonesia adalah protoype relasi ideal antara Islam dan negara, yang saling mengisi dan berdampingan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi semua.
“Pada tahun 1936 NU menggelar Muktamar ke-11 di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. NU mengeluarkan fatwa bahwa Indonesia adalah darussalam, bukan darul Islam. Indonesia adalah negara bangsa yang damai, bukan negara agama (Islam),” katanya dalam taklimat media di Bogor, Rabu (30/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan pendiri Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB) itu saat menjadi narasumber kunci kegiatan Wawasan Kebangsaan dan Ketahanan Nasional yang dilaksanakan di Aula Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Selasa (29/9).
Kegiatan yang diprakarsai Pemerintah Kecamatan Tamansari diikuti sekitar 60 orang peserta, terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh budaya, dan tokoh pemuda dari delapan desa.
Hadir pula seluruh unsur Musyawarah Kecamatan Tamansari dan pimpinan organisasi sosial keagamaan tingkat kecamatan, serta “mundir” DPC Jatman NU Kota Bogor, KH Tavif Budiman, sebagai narasumber sumber pendamping.
Ia mengatakan, harmoni relasi agama-negara di Tanah Air terbangun berkat ijtihad yang dilakukan NU. yang disiapkan sembilan tahun sebelum kemerdekaan Indonesia dideklarasikan.
Menurut dia ketahanan nasional akan terbangun antara lain bila relasi agama-negara ditempatkan pada posisi yang ideal, sesuai dengan kondisi Indonesia yang sangat heterogeny, bahkan Bhineka Tunggal Ika.
“Kedahsyatan relasi agama- negara yang difatwakan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, dapat dilihat dari fakta bahwa keragaman luar biasa pada banyak hal justru menjadi berkat dan penyatu tenun kebangsaan bernama Indonesia,” katanya.
Kalau di kebanyakan negara keragaman saja kerap menjadi pemantik konflik dan peperangan, kata Ahmad Fahir, di Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika justru membawa rahmat dan keberkahan untuk semua.
Camat Tamansari, Rudi Hartono mengatakan, penyelenggarakan kegiatan ini dimaksudkan untuk menguatkan komtmen kebangsaan dan mengokohkan ketahanan nasional di wilayah yang berada di kaki Gunung Salak itu.
“Kita hari ini hidup pada sebuah era di mana batas territorial sangat tipis, bahkan nyaris tidak ada batas. Secara fisik bisa saja dijaga. Tapi pemahaman, komitmen dan identitas sangat sulit dijaga,” katanya.
Sekretaris Camat Tamansari, Teguh Sugiarto menambahkan, selain perlu menjaga relasi selaras agama-negara, nasionalimse akan kian kokoh kalua ditopang oleh lokalitas yang kuat, dengan menjaga warisan besar sejarah masa silam.
“Identitas nasional dibangun atas dasar bhinneka tunggak ika, berakar dari kemajmukan luar biasa yang kita miliki sebagai sebuah bangsa. Karenanya, menjaga budaya dan Bahasa lokal, bagian dari ikhtiar memperkuat ketahanan nasional,” kata Sekretaris DPC Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (IKA PMII) Kabupaten Bogor itu.
Ia menyebut, Tamansari memiliki kandungan sejarah besar Nusantara pada masa silam, yang terbentang hingga era keemasan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran dengan tokoh keshor Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.
“Berdasakan foklore yang berkembang di masyarakat, Prabu Siliwangi dan Nyi Kentring Manik merayakan pesta pernikahan di Tamansari. Situnya dikenal dengan nama Sri Bagenda dan Mata Air Keramat Jalatunda, di Kawasan Cagar Budaya Sindangbarang,” demikian Teguh Sugiarto. (red/02)











