SUDUTPANDANG.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah meninjau kemungkinan memperluas armada nuklir dan melanjutkan uji coba senjata nuklir di bawah tanah setelah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata dengan Rusia.
Melansir The New York Times, Rabu (11/2), sejumlah pejabat senior AS, menyebutkan bahwa pihaknya sedang mengevaluasi opsi untuk menempatkan senjata nuklir tambahan dan mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali uji coba nuklir.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dari kebijakan AS yang selama puluhan tahun berfokus pada pembatasan dan pengurangan jumlah hulu ledak nuklir.
Adapun perjanjian New START antara AS dan Rusia resmi berakhir pada 5 Februari. Kesepakatan itu membatasi jumlah hulu ledak strategis yang boleh dikerahkan kedua negara, maksimal 1.550 unit. Trump menolak perpanjangan informal yang diajukan Presiden Rusia Vladimir Putin dan menyatakan bahwa AS seharusnya menegosiasikan perjanjian baru yang “lebih baik dan modern”.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Thomas DiNanno, yang menangani pengendalian senjata dan keamanan internasional, menilai bahwa New START memberlakukan “pembatasan sepihak” terhadap AS.
Ia menegaskan bahwa negara itu kini memiliki kebebasan untuk memperkuat kemampuan nuklirnya.
Beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan meliputi pemaksimalan kapasitas nuklir yang ada dan pengaktifan kembali hulu ledak cadangan.
Salah satunya adalah membuka kembali tabung peluncur rudal di kapal selam kelas Ohio milik Angkatan Laut AS yang sebelumnya dibatasi oleh perjanjian, memungkinkan kesiagaan rudal balistik kapal selam.
Para pakar menilai kebijakan ini dimaksudkan untuk menekan Rusia dan China agar bersedia bernegosiasi dalam perjanjian baru pengendalian senjata. Namun, sejumlah pihak memperingatkan bahwa langkah AS berpotensi memicu perlombaan persenjataan global.
Trump juga menyerukan dimulainya kembali uji coba nuklir yang disebutnya “setara” dengan yang dilakukan Rusia dan China. DiNanno menduga kedua negara tersebut telah melakukan uji coba nuklir berskala kecil yang sulit terdeteksi.(red)
Sumber: Anadolu




