BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Sebanyak empat guru besar baru dari IPB University, Kamis (18/9/2025), di Bogor, Jawa Barat, memaparkan pemikiran-pemikirannya pada kegiatan pra orasi ilmiah melalui konferensi pers dalam jaringan (daring/online).
Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar IPB itu dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (20/9) di Auditorium Andi Hakim Nasution (AHN), Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor.
Keempat profesor dimaksud adalah pertama, Prof Dr Ir Abdjad Asih Nawangsih, M.Si, Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian dari Departemen Proteksi Tanaman (PTN) yang memaparkan ringkasan singkat bertema “Peran dan Pemanfaatan Bakteri Aktinomiset untuk Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan”.
Kedua, Prof Dr Ir Ricky Avenzora, M.Sc.F.Trop, Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan dan Lingkungan dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) dengan tema “Retrospeksi Akademis 35 Tahun Pembangunan Ekowisata di Indonesia”.
Ketiga, Prof Dr Ir I Wayan Budiastra, M.Agr, Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB) dengan tema “Pengembangan Teknik Evaluasi Mutu Secara Non-Destruktif dan Pengolahan Hasil untuk Peningkatan Produktivitas dan Mutu Hasil Pertanian”.
Keempat, Prof Dr Ir Lilik Noor Yuliati, M.F.S.A, Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) yang mengusung tema “Peran Nudging dan Media Sosial dalam Pembentukan Perilaku Konsumsi Berkelanjutan pada Generasi Z”.
Dalam diskusi yang dipandu Asisten Direktur Komunikasi Direktorat Kerja Sama, Komunikasi dan Pemasaran IPB University, Siti Nuryati, S.T.P., M.Si, keempat guru besar tersebut menyampaikan singkat tema-tema yang dibawakannya.
Kesehatan Tanaman
Prof Abdjad Asih Nawangsih mengemukakan bahwa bagi manusia, tanaman adalah sumber penyedia bahan pangan, sandang dan papan, serta pakan bagi hewan. Permintaan bahan pangan semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Ia merujuk Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) yang menyatakan bahwa produksi pertanian diperkirakan harus meningkat sebesar 60 persen pada tahun 2050 untuk mencukupi kebutuhan pangan manusia di dunia yang akan mencapai populasi 10 miliar.
Untuk itu, kesehatan tanaman yang terjaga akan memastikan produksi dan produktivitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akan tetapi, tanaman yang dibudidayakan menghadapi berbagai gangguan, baik dari faktor abiotik maupun biotik.
Faktor biotik, seperti organisme pengganggu tanaman (OPT) yang meliputi hama, patogen dan gulma, sering mengancam tanaman secara bersamaan, dengan dukungan faktor abiotik seperti kondisi lingkungan dan cuaca.
Studi tentang pengendalian hayati penyakit tumbuhan hingga saat ini tampaknya terus meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungannya.

“Tourism reengineering”
Sementara itu Prof Ricky Avenzora memberikan catatan kritis, yakni insan pariwisata Indonesia harus segera melakukan “tourism reengineering” secara total.
“Disinhibition travelling harus diubah menjadi Ilahiah travelling,” katanya seraya mengemukakan beberapa usulan sebagai berikut:
1. Akademisi kepariwisataan perlu segera bersatu untuk melakukan “academic
reengineering” secara total,baik dalam struktur bidang keilmuan, kurikulum dan implementasinya.
2. Rekreasi dan pariwisata tidak boleh lagi hanya didefinisikan sebagai perjalanan untuk “being free” atau “a freedom of regimen”, melainkan harus dimaknai sebagai perjalanan yang berkesadaran Ilahiah untuk mencari dan membangun kehakikian jati diri agar bisa menjadi individu dan masyarakat yang bermanfaat bagi semesta alam, yang disebut sebagai ekowisata.
3. Perjalanan Ilahiah tersebut setidaknya harus dituangkan dalam 7 misi utama, yaitu guna menemukan kehakikian jati diri, membentuk silaturahmi, mengelaborasi ilmu penge-tahuan, membangun kesejahteraan, menegakkan ketawa-kalan, merasakan kebahagiaan dan mendapatkan ridha Ilahi.
4. Pemerintah perlu mengubah paradigma pembangunan pariwisata dari skema
pembangunan infrastruktur dan fasilitas untuk turis menjadi skema pembangunan semua sendi kehidupan bagi masyarakat lokal.
5. Insan kepariwisataan perlu mengubah paradigma “hospitality for tourist” menjadi “reciprocal hospitality for all” atau bisa disebut Ilahiah Hospitality (silaturahmi).
6. Peranan sektor swasta perlu ditingkatkan dan diarahkan untuk bisa menjadi inkubator bisnis bagi terbentuknya bisnis komunal (communal business) kepariwisataan di tengah masyarakat lokal.
7. Sektor swasta perlu diberi kepastian ekosistem berusaha sesuai dengan sifat bisnis “slow-yieldinG”, serta diberi keadilan beban finansial usaha; baik dalam hal pajak maupun retribusi yang harus ditanggung pengusaha, maupun berbagai retribusi yang harus ditanggung pengunjung.
8. Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (Hilkdiktipari)
perlu mengembangkan dan memperkokoh kompetensi serta eksistensi sarjana kepariwisatan; tidak cukup lagi hanya menjadi pemasok “blue collar hotelier”.
9. Secara nasional, “Tourism Development Flagship” tidak saja perlu diperkokoh dari sekedar jargon “Wonderful Indonesia”, melainkan harus dipertajam dan diefektifkan elalui penguatan nomenklatur ekowisata sebagai nomenklatur tunggal, misalnya “The Ilahiah Ecotourism of Indonesia”.
10. Untuk semua itu, eksistensi dan tupoksi Kementerian Pariwisata perlu lebih ditata dan diperkokoh dalam segala aspek dan bidang, baik SDM, struktur organisasi, maupun alokasi anggaran. Atas kemajuan Internet of Things (IoT) atau “Internet Untuk Segala”, maka paradigma “the power of promotion” harus diubah menjadi gerakan “the power of places” dan “the power of programs”.

Teknologi non-destruktif
Lalu, Prof I Wayan Budiastra memaparkan bahwa pengembangan teknik evaluasi mutu secara non-destruktif dan teknologi pengolahan hasil berbasis gelombang elektromagnetik menjadi strategi penting untuk meningkatkan produktivitas, mutu, efisiensi dan daya saing produk pertanian Indonesia.
Menurut dia inovasi ini muncul dari kebutuhan untuk memenuhi tuntutan mutu di pasar global, mempersingkat waktu proses analisa mutu kimia produk, mengurangi biaya analisis serta mengurangi penggunaan bahan kimia dalam proses analisa mutu produk.
Selama ini, tambahnya, industri dan eksportir melakukan pemeriksaan mutu kimia secara sampling ke laboratorium kimia yang memakan waktu lama (1-2 minggu) dan berbiaya cukup mahal (Rp200-Rp500 ribu per sampel), sehingga diperlukan teknologi yang lebih cepat dan biaya yang lebih kompetitif.
Kegiatan riset yang telah dilakukan difokuskan pada komoditas unggulan ekspor seperti mangga, manggis, kopi, pala, lada dan kelapa sawit, dengan pemikiran industri ini membutuhkan teknologi dan siap mengadopsi teknologi untuk kepentingan ekspor.
Pengembangan teknologi non-destruktif dan pengolahan hasil dirancang agar dapat diimplementasikan pada kelompok tani (atau koperasi), industri dan eksportir.
Teknik evaluasi mutu non-destruktif yang telah dikembangkan selama dua dekade ini meliputi Near Infrared Spectroscopy (NIR), teknologi ultrasonik, dan Electrical Impedance Spectroscopy (EIS) untuk mangga, manggis, kopi dan kelapa sawit.
NIR memanfaatkan interaksi gelombang inframerah dekat (780-2500 nm) dengan komponen kimia produk untuk memprediksi parameter mutu internal secara cepat tanpa merusak sampel.

“Nudging”
Sedangkan Prof Lilik Noor Yuliati dalam kesempatan itu mengeksplorasi potensi nudging (dorongan halus), yang dipadukan dengan media sosial (medsos) untuk mendorong perilaku konsumsi berkelanjutan, khususnya di kalangan generasi (Gen) Z — yang kini berusia 18 hingga 23 tahun dan merupakan kelompok usia terbesar di Indonesia, guna secara efektif mengatasi masalah lingkungan yang mendesak.
Ia mengemukakan “nudging” menawarkan metodologi yang halus namun ampuh untuk mengarahkan individu dalam membuat keputusan yang lebih sadar lingkungan tanpa membatasi kebebasan memilih mereka secara ketat.
Enam teknik nudging yang relevan untuk mendorong perilaku konsumsi berkelanjutan pada Generasi Z adalah:
1. “Referent point” dan “evoked set’, yaitu menyisipkan produk ramah lingkungan ke dalam pilihan yang sudah akrab sehingga terlihat sebagai bagian dari opsi umum mereka.
2. Komunikasi dan norma sosial, dengan menekankan bahwa mayoritas orang telah memilih perilaku ramah lingkungan sehingga tercipta tekanan sosial positif;
3. Penggunaan bahasa asing, untuk memberi kesan modern, inovatif, dan menarik.
4. “Default option”, yakni menjadikan opsi ramah lingkungan sebagai pilihan otomatis kecuali konsumen memilih alternatif lain.
5. Umpan balik (feedback), berupa informasi langsung mengenai dampak positif tindakan mereka seperti jumlah emisi yang berhasil dihemat.
6. “Priming” kontekstual, yaitu menghadirkan visual, warna, atau kata-kata yang secara tidak sadar mendorong individu memilih opsi yang lebih bertanggung jawab. (Red/02)






