PONTIANAK-KALBAR, SUDUTPANDANG.ID – Dampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mengancam kawasan Pusat Rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting di Ketapang, Kamis (23/7/2026) dalam pernyataan yang dikutip di Pontianak menjelaskan akibat kondisi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan operasi “water bombing” untuk mempercepat pemadaman.
“Kebakaran terdeteksi pada 22 Juli 2024 di Jalan Ketapang-Tanjungpura KM 5, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, atau sekitar satu kilometer dari Pusat Rehabilitasi Orangutan YIARI,” katanya.
Ia menambahkan tim gabungan Satgas Karhutla Kabupaten Ketapang yang terdiri atas BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Polri, serta didukung YIARI dan PT MoPaKha, hingga kini masih melakukan pemadaman dan pemantauan di lokasi.
Berdasarkan pemantauan sementara, kata dia, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 15 hektare, meskipun proses pendataan masih terus dilakukan oleh tim di lapangan.
Menurut dia untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani melalui jalur darat, BNPB mengerahkan dukungan pemadaman melalui water bombing di sejumlah lokasi sebagai bagian dari upaya terpadu mencegah api meluas menuju fasilitas rehabilitasi dan kawasan hutan di sekitarnya.
Ia mengatakan keselamatan orangutan dan satwa lain yang berada di pusat rehabilitasi menjadi prioritas utama, sementara seluruh satwa saat ini dalam kondisi aman dan terus dipantau tim dokter hewan serta animal keeper.
“Sejak kebakaran terdeteksi, seluruh tim bergerak cepat menjalankan prosedur tanggap darurat untuk memastikan orang utan dan satwa lainnya tetap aman, sekaligus mendukung upaya pengendalian api di sekitar kawasan,” katanya.
Selain itu, kata Argitoe Ranting, karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu ekosistem hutan. Kondisi cuaca kering dan angin yang cukup kuat meningkatkan risiko api menyebar lebih luas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi mengatakan penanganan karhutla di sekitar pusat rehabilitasi orang utan merupakan bentuk komitmen bersama untuk melindungi hutan, satwa liar, dan keselamatan masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan setiap indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin,” katanya.
Tim gabungan mengingatkan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan titik api kepada pihak berwenang karena penanganan cepat diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas, serta meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan satwa liar, demikian Efendi.(red/Ant/02)










