BEKASI, SUDUT PANDANG.ID – Ada energi khusus yang mengalir di ruangan pertemuan para seniman senior Indonesia pada Rabu (19/8/2026). Bukan sekadar pesta ulang tahun biasa, peringatan milad ke-63 Brigjen TNI (Purn) Drs. Tamim Mustofa, M.Si., Dewan Pembina Pesona Seniman Indonesia, berubah menjadi sebuah manifesto persaudaraan yang hangat dan mendalam.
Bertepatan dengan bulan kemerdekaan, acara yang diinisiasi oleh Ketua Umum Pesona Seniman Indonesia, Reza Angela, ini berhasil menghimpun deretan nama besar yang selama ini menjadi pilar industri kreatif tanah air. Dari penyanyi legendaris Yayuk Suseno yang merayakan ulang tahun di awal Agustus, hingga Lisda Hendri dari komunitas pre-wedding yang hadir memberikan dukungan penuh.
Pertemuan Para “Leo” dan Energi Kreatif
Suasana semakin cair ketika para tokoh seni saling bertukar cerita. Hadir pula Ratna Listy, Sheila Poni, Jotanda, Iwan Biji, serta Ati Ma’ruf, ketua komunitas ML, yang turut meramaikan gathering eksklusif tersebut. Meski Paramita Rahayu dan Rosady berhalangan hadir, kehangatan interaksi antar-tamu yang hadir tetap terasa kental.
Ada kebetulan yang menarik perhatian: Brigjen Tamim Mustofa berbagi tanggal lahir yang sama, 19 Agustus, dengan musisi kondang Dwiki Dharmawan. Meski Dwiki tidak dapat hadir secara fisik, simbolisme kebersamaan dua tokoh berzodiak Leo ini seolah menjadi metafora tentang bagaimana seni dan kepemimpinan bisa berjalan beriringan dalam satu frekuensi kreativitas.
Silaturahmi sebagai Investasi Kehidupan
Dalam sambutannya yang menyentuh, Tamim Mustofa tidak banyak bicara tentang angka usia. Ia justru menyoroti esensi dari berkumpulnya para seniman senior ini.
“Kita berkumpul di sini karena memang suatu kebutuhan. Bukan sekadar formalitas,” ujar Tamim dengan nada tegas namun teduh. “Silaturahmi inilah yang akan memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki. Saya salut dengan kepemimpinan Mbak Reza Angela yang berhasil mengumpulkan orang-orang energik dan kreatif seperti kalian.”
Bagi Tamim, pertemuan ini adalah bukti bahwa di tengah kesibukan masing-masing, para seniman masih memiliki ruang untuk saling menguatkan. Ia melihat Pesona Seniman Indonesia bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai “rumah” bagi para kreator untuk tetap terhubung.
Dari Panggung Seni ke Aksi Kemanusiaan
Reza Angela, sang dalang di balik suksesnya acara ini, mengungkapkan visi besarnya untuk Pesona Seniman Indonesia. Ia ingin organisasi ini terus berevolusi, tidak stagnan pada kegiatan seremonial belaka.
“Setiap bulan kami hadirkan konsep berbeda. Bulan lalu kita fokus pada kegiatan sosial, bulan ini perayaan bersama para pembina, dan bulan depan kami akan meluncurkan ‘Panggung Pesona’,” jelas Reza. Program baru ini akan membuka lebar kesempatan bagi anggota, baik junior maupun senior, untuk unjuk gigi di atas panggung.
Lebih jauh, Reza menegaskan komitmen Pesona terhadap isu kemanusiaan. Menanggapi bencana alam yang baru terjadi, Pesona sedang merancang kolaborasi strategis dengan komunitas lain, termasuk ES Club yang digawangi Lisda Hendri dan Johar, untuk menggelar penggalangan dana bersama.
“Ini bukti bahwa Pesona tidak hanya tentang seni, tapi juga kepedulian. Kami ingin seni menjadi jembatan untuk aksi nyata,” tutup Reza.
Melalui kehadiran figur-figur sekelas Yayuk Suseno, Lisda Hendri, dan Tamim Mustofa, acara ini mengirimkan pesan kuat: bahwa seni dan persaudaraan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, terutama di saat bangsa membutuhkan solidaritas.
( Egi)


