JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Indonesian Basketball League (IBL) terus melakukan pengembangan kompetisi bola basket profesional di Indonesia.
Salah satu perubahan penting dilakukan melalui penerapan format home and away yang berdampak signifikan terhadap peningkatan jumlah penonton.
Direktur Utama IBL Junas Miradiarsyah mengatakan penerapan format home and away menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan kompetisi bola basket profesional di Tanah Air.
Menurut Junas, liga bola basket profesional Indonesia mulai bergulir pada 2003. Pada periode awal, kompetisi menggunakan format series dengan seluruh tim berkumpul dan menjalani pertandingan di satu kota dalam periode tertentu.
Format tersebut kemudian mengalami perubahan seiring perkembangan kompetisi dan kebutuhan klub serta penonton. Mulai 2023, IBL menerapkan sistem home and away yang memungkinkan setiap klub memainkan pertandingan di kandangnya masing-masing.
Perubahan tersebut dinilai memberikan dampak langsung terhadap antusiasme masyarakat. Penonton memiliki lebih banyak kesempatan menyaksikan klub kebanggaan mereka secara langsung di kota masing-masing.
“Penonton naik 400 persen dari format series ke format home and away. Ini merupakan indikator bahwa insyaallah kita sudah mengarah ke yang lebih tepat,” ujar Junas dalam Talk Show Ekosistem Kompetisi Olahraga Nasional di Indonesia Sports Summit (ISS) 2026, Cendrawasih Hall, JICC Senayan, Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Menurut Junas, peningkatan jumlah penonton menjadi salah satu indikator bahwa format kompetisi yang lebih dekat dengan basis penggemar memberikan respons positif dari masyarakat.
Format home and away juga mengubah skala penyelenggaraan kompetisi IBL. Jumlah pertandingan yang dimainkan dalam satu musim meningkat secara signifikan dibandingkan ketika liga masih menggunakan format series.
Pada periode sebelumnya, seluruh tim berkumpul di satu kota dan menjalani sekitar 28 pertandingan dalam waktu tujuh hari. Dengan sistem home and away, kompetisi kini dapat berlangsung sekitar 150 pertandingan dalam periode lebih dari 150 hari.
Perubahan tersebut membuat kompetisi tidak lagi terpusat pada satu lokasi. Pertandingan IBL dapat digelar di berbagai kota sehingga klub memiliki kesempatan lebih besar untuk berinteraksi secara langsung dengan pendukungnya.
Di sisi lain, penyelenggaraan kompetisi dalam jangka waktu yang lebih panjang juga membuka peluang pengembangan industri olahraga. Aktivitas pertandingan dapat menciptakan ekosistem yang melibatkan klub, sponsor, komunitas, penonton, media, hingga pelaku usaha di sekitar lokasi pertandingan.
Junas menegaskan pengembangan IBL tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan pertandingan. IBL juga berupaya membangun ekosistem dan industri bola basket yang lebih luas.
Untuk mencapai tujuan tersebut, IBL mengembangkan berbagai bentuk kerja sama dengan mitra dan sponsor. Komunitas juga menjadi bagian penting dalam memperluas basis penggemar sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat terhadap kompetisi bola basket profesional.
Selain kompetisi utama, IBL juga mengembangkan sejumlah produk dan program turunan. Salah satunya adalah IBL TV yang menjadi bagian dari upaya memperluas distribusi konten dan menjangkau penggemar bola basket melalui platform digital.
Program yang menyasar generasi muda juga dikembangkan untuk memperkuat hubungan antara kompetisi profesional dengan perkembangan bola basket di level akar rumput.
Menurut Junas, potensi bola basket Indonesia sangat besar, terutama karena olahraga tersebut memiliki basis penggemar yang kuat di kalangan generasi muda.
Berdasarkan data yang dipaparkannya dalam forum tersebut, minat terhadap olahraga basket di kalangan anak muda Indonesia disebut berada di atas 80 persen.
“Ini adalah potensi yang sangat luar biasa untuk kita kembangkan bersama-sama,” katanya.
Potensi tersebut menjadi salah satu modal bagi IBL untuk terus meningkatkan kualitas kompetisi sekaligus memperluas industri bola basket nasional. Peningkatan jumlah penonton, durasi kompetisi, pengembangan klub, dan pertumbuhan produk turunan menjadi bagian dari ekosistem yang ingin dibangun.
Ke depan, IBL menargetkan Indonesia mampu menjadi salah satu kekuatan bola basket di kawasan Asia Tenggara. Target tersebut tidak hanya ditempuh melalui peningkatan kualitas pertandingan, tetapi juga dengan memperkuat klub, basis penggemar, kompetisi usia muda, komunitas, dan berbagai intellectual property (IP) yang berkaitan dengan bola basket.
Pengembangan ekosistem tersebut diharapkan memberikan dampak lebih besar bagi olahraga Indonesia. IBL ingin kompetisi profesional tidak hanya menjadi ruang bagi atlet untuk bertanding dan meraih prestasi, tetapi juga berkembang menjadi industri yang memiliki nilai ekonomi dan mampu menciptakan peluang bagi berbagai pihak.
Dengan format home and away yang terbukti meningkatkan keterlibatan penonton, IBL kini memiliki ruang lebih besar untuk memperkuat posisi bola basket sebagai salah satu olahraga profesional yang memiliki daya tarik kuat di Indonesia. (09/AGF).











