Dedi Mulyadi Dorong Fasilitas Olahraga Jadi Bisnis

Dedi Mulyadi Dorong Fasilitas Olahraga Jadi Bisnis
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menjadi narasumber Business Infrastructure Forum dalam rangkaian Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Jumat (11/9/2026). (Foto: Kemenpora/SP).

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong pemerintah daerah mengubah pola pengelolaan fasilitas olahraga agar tidak terus bergantung pada anggaran pemerintah.

Menurutnya, stadion dan berbagai venue olahraga harus dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Dedi menyampaikan gagasan tersebut saat menjadi narasumber Business Infrastructure Forum dalam rangkaian Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Ia menilai pembangunan fasilitas olahraga selama ini masih kerap berakhir menjadi beban pemerintah daerah. Kondisi tersebut terjadi ketika stadion atau venue yang telah dibangun dengan biaya besar tidak diikuti aktivitas olahraga dan kegiatan komersial yang memadai.

“Seumur hidup saya memperhatikan menteri olahraga, baru hari ini menteri olahraga berpikir bisnis. Karena saya sejak jadi wakil bupati dan bupati, kalau berpikir olahraga itu berpikir nombok,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, paradigma pengelolaan fasilitas olahraga perlu diubah. Pemerintah tidak harus menjadi satu-satunya pihak yang membiayai sekaligus mengelola seluruh venue olahraga.

Sebaliknya, ruang kerja sama dengan dunia usaha perlu dibuka sehingga fasilitas yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pemerintah daerah dapat berperan sebagai regulator sekaligus membuka peluang investasi dan pengelolaan profesional.

BACA JUGA  Jakarta Hybrid Race Ramaikan ISS 2026

Dedi mencontohkan sejumlah stadion di Jawa Barat yang dibangun dengan biaya besar, tetapi belum memiliki aktivitas olahraga dan klub profesional yang cukup untuk membuat fasilitas tersebut produktif.

Karena itu, ia mendorong agar venue olahraga yang sudah memenuhi standar nasional ditingkatkan kualitasnya sehingga mampu memenuhi standar internasional. Dengan demikian, fasilitas tersebut dapat digunakan untuk menggelar kompetisi maupun kegiatan olahraga berskala lebih besar.

“Ruang pengelolaan yang bersifat bisnis harus dibuka dan ditawarkan melalui dinas pemuda dan olahraga,” katanya.

Selain pengelolaan venue, Dedi melihat Jawa Barat mempunyai potensi besar untuk mengembangkan sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga. Letak geografis yang dekat dengan Jakarta, kondisi alam, udara sejuk di sejumlah wilayah, serta ketersediaan lahan menjadi modal yang dapat dikembangkan.

Sejumlah wilayah seperti Bandung, Bandung Barat, Garut, sebagian Cianjur, Ciwidey, dan Pangalengan dinilai memiliki potensi untuk menjadi kawasan olahraga sekaligus destinasi wisata.

Menurut Dedi, konsep sport tourism tidak cukup hanya menyediakan penginapan bagi wisatawan. Kawasan wisata juga perlu dilengkapi berbagai fasilitas olahraga yang dapat menjadi daya tarik tambahan.

Lapangan tenis, basket, sepak bola, hingga fasilitas kebugaran dapat dikembangkan secara terintegrasi dengan sektor pariwisata. Wisatawan nantinya tidak hanya datang untuk menikmati suasana daerah, tetapi juga dapat berolahraga selama berada di lokasi.

BACA JUGA  Kemenpora-Kemenpar Perkuat Sport Tourism 2026

“Ke depan, berpikir di situ ada lapangan tenis, lapangan basket, ada lapangan sepak bola yang bisa diperuntukkan untuk menikmati liburan sambil berolahraga,” tuturnya.

Dedi bahkan membuka peluang sejumlah kawasan di Jawa Barat dikembangkan sebagai lokasi training camp bagi klub olahraga. Kondisi alam dan udara sejuk di beberapa daerah dinilai dapat menjadi keunggulan untuk menarik klub dari dalam maupun luar negeri.

Jika dikelola secara profesional, keberadaan training camp tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor olahraga, tetapi juga dapat meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar melalui akomodasi, transportasi, kuliner, hingga sektor jasa.

Namun, Dedi mengingatkan pembangunan olahraga tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur dan aspek bisnis. Menurutnya, olahraga juga harus tumbuh sebagai bagian dari kultur masyarakat.

“Olahraga itu keberhasilannya bukan hanya teknokrasi, bukan hanya fasilitas. Olahraga itu adalah kultur atau tradisi,” katanya.

Ia menilai tradisi olahraga yang tumbuh di tengah masyarakat merupakan salah satu fondasi penting dalam menciptakan atlet berprestasi. Karena itu, pembangunan fasilitas modern harus tetap berjalan beriringan dengan pemeliharaan budaya olahraga yang sudah berkembang.

Dedi menyoroti perubahan aktivitas olahraga di sejumlah desa. Lapangan sepak bola yang sebelumnya menjadi ruang aktivitas masyarakat mulai menghadapi persaingan dengan olahraga lain yang lebih populer, seperti futsal.

BACA JUGA  ISS 2026 Hadirkan Tulus, Diskoria, dan Lomba Sihir

Menurutnya, modernisasi olahraga seharusnya tidak menghilangkan ruang bagi olahraga tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Semoga teknokrasi tidak meruntuhkan tradisi,” ujarnya.

Dedi juga mendorong pemanfaatan ruang publik dan infrastruktur yang sudah tersedia untuk kegiatan olahraga. Ruas jalan atau kawasan tertentu, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai lokasi olahraga lari dan aktivitas massal dengan pengaturan yang tepat agar tidak mengganggu mobilitas masyarakat.

“Olahraganya dapat, udara bersihnya dapat, kemacetannya terhindarkan,” kata Dedi.

Ia berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas olahraga, dan berbagai pemangku kepentingan dapat membangun kolaborasi yang lebih kuat.

Dengan pendekatan tersebut, fasilitas olahraga di Jawa Barat diharapkan tidak hanya menjadi sarana mencetak prestasi, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi, mendukung pariwisata, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat budaya olahraga masyarakat.(09/AGF)