JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Guru Besar Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP), Prof. Dr. Edi Syafri, masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2026 berdasarkan dampak sitasi satu tahun (single-year) 2025.
Pencapaian ini menempatkan alumni Training of Trainers (ToT) Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan ke-39 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) tersebut di antara ilmuwan Indonesia yang karya penelitiannya mendapat pengakuan dalam komunitas akademik internasional.
Nama Edi tercatat dalam daftar yang disusun melalui kolaborasi tim peneliti Prof. John P.A. Ioannidis dari Stanford University dengan penerbit ilmiah Elsevier.
Data yang dirilis pada Agustus 2026 tersebut mencakup 272 penulis berafiliasi Indonesia dalam kategori dampak sitasi satu tahun, dengan pemeringkatan yang turut memperhitungkan hasil tanpa sitasi diri.
Keberhasilan Edi menjadi perhatian karena hanya tiga peneliti dari perguruan tinggi politeknik yang tercatat dalam daftar tersebut.
Selain Edi, dua nama lainnya adalah Prof. Dr. Dwi Suhartanto dari Politeknik Negeri Bandung (Polban) dan Prof. Dr. Arridina Susan Silitonga dari Politeknik Negeri Medan (Polmed).
Berdasarkan data pemeringkatan yang dirujuk, Dwi Suhartanto menempati urutan kelima nasional dengan peringkat dunia 19.691.
Sementara itu, Arridina Susan Silitonga berada di posisi ke-35 nasional dengan peringkat dunia 70.717. Adapun Edi Syafri tercatat pada urutan ke-193 nasional dan peringkat dunia 267.954 dalam pemeringkatan tanpa sitasi diri.
Capaian tersebut juga menjadikan PPNP satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Sumatera Barat yang dosennya tercatat dalam daftar tahun ini.
Dari provinsi yang sama, Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang masing-masing memiliki tiga nama dalam daftar tersebut.
Riset Serat Alam dan Limbah Pertanian Jadi Fokus

Edi Syafri dikenal melalui penelitian di bidang serat alam, nanoselulosa, bionanokomposit, dan bioplastik. Risetnya berfokus pada pemanfaatan sumber daya hayati serta limbah pertanian untuk menghasilkan material yang berpotensi menjadi alternatif bagi bahan sintetis dan plastik konvensional.
Pendekatan tersebut relevan dengan upaya pengembangan material ramah lingkungan sekaligus peningkatan nilai tambah komoditas pertanian.
Bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah melalui proses penelitian menjadi komponen untuk berbagai kebutuhan industri.
Sejumlah bahan lokal yang menjadi objek penelitiannya meliputi serat Agave gigantea, kapuk (Ceiba pentandra), sembukan (Paederia foetida), pandan duri (Pandanus tectorius), kulit durian, tangkai bunga kelapa merah, batang tembakau, hingga akar wangi (Chrysopogon zizanioides).
Dari berbagai sumber hayati tersebut, penelitian dilakukan untuk memperoleh selulosa berukuran mikro hingga nano. Material ini kemudian dikaji sebagai penguat komposit dan film bioplastik guna meningkatkan karakteristik mekanik maupun ketahanan material.
Salah satu arah penelitian Edi adalah pengembangan film bioplastik berbahan pati singkong dan mocaf yang diperkuat nanoselulosa serat kapuk.
Material tersebut berpotensi dikembangkan sebagai bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan, meskipun penerapannya tetap memerlukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut.
Penelitian lainnya mencakup film nanokomposit berbasis polivinil alkohol (PVA) yang diperkuat nanoselulosa untuk meningkatkan kekuatan mekanik, ketahanan panas, dan kemampuan menghambat sinar ultraviolet.
Ia juga mengembangkan kajian nanoselulosa dari limbah lada (Piper nigrum) untuk kemungkinan pemanfaatan pada perban luka dan tekstil medis.
Selain itu, kristal nanoselulosa serta hidrogel berbasis bahan hayati diteliti untuk mendukung penyerapan polutan dalam pengolahan air limbah.
Di luar bidang material, Edi turut mengerjakan penelitian terapan pertanian, termasuk pengembangan mesin penggiling cangkang telur dan kerang untuk bahan pakan ternak. Ia juga terlibat dalam kajian bibliometrik mengenai perkembangan pembangunan pertanian di Asia Tenggara.
Produktivitas Publikasi dan Kolaborasi Internasional
Berdasarkan data Elsevier yang menjadi rujukan, Edi Syafri telah menghasilkan 72 publikasi terindeks Scopus sejak 2017. Catatan yang sama menyebutkan 588 sitasi sepanjang 2025 dan indeks-h atau h-index sebesar 14.
Sejumlah karya ilmiahnya dihasilkan melalui kolaborasi lintas negara, termasuk bersama peneliti dari King Abdulaziz University, Arab Saudi, dan India. Hasil penelitian juga dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, di antaranya Crystals dan Journal of Natural Fibers.
Di Indonesia, Edi telah lama menjalin kolaborasi penelitian dengan laboratorium Prof. Hairul Abral dari Universitas Andalas.
Kolaborasi semacam ini menjadi salah satu jalur untuk memperluas pertukaran pengetahuan, memperkuat kualitas penelitian, dan meningkatkan jangkauan publikasi ilmiah.
Selain menjalankan kegiatan akademik dan penelitian, Edi menjabat sebagai pemimpin redaksi atau Editor in Chief Journal of Fibers and Polymer Composites (JFPC). Ia juga menjadi Direktur Green Engineering Society (GES), organisasi ilmiah yang menaungi sejumlah jurnal.
Pada 10 Oktober 2026, GES turut menyampaikan ucapan selamat kepada delapan ilmuwan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 2% tahun ini.
Mengenal Pemeringkatan Top 2% Scientists
Daftar World’s Top 2% Scientists dikenal luas sebagai pemeringkatan yang menggunakan data publikasi dan sitasi ilmiah untuk mengukur pengaruh karya peneliti. Daftar ini pertama kali dipublikasikan pada 2019 dan diperbarui secara berkala.
Penilaian menggunakan basis data Scopus dan sejumlah indikator bibliometrik yang dirangkum dalam skor komposit atau c-score.
Indikator tersebut meliputi jumlah sitasi, h-index, hm-index yang disesuaikan dengan jumlah penulis bersama, serta sitasi pada publikasi ketika peneliti berperan sebagai penulis tunggal, penulis pertama, dan penulis terakhir.
Pemeringkatan mencakup 22 bidang dan 174 subbidang ilmu. Daftar ini memiliki dua kategori utama, yakni dampak sepanjang karier (career-long) dan dampak satu tahun (single-year).
Kategori single-year menggambarkan pengaruh publikasi dalam periode penilaian tertentu, sedangkan kategori career-long melihat rekam jejak dampak ilmiah dalam rentang karier peneliti.
Karena itu, masuknya seorang ilmuwan dalam kategori satu tahun perlu dipahami sebagai pengakuan berdasarkan indikator bibliometrik pada periode tersebut, bukan satu-satunya ukuran kualitas penelitian atau manfaatnya bagi masyarakat.
Dampak sitasi juga perlu dibaca dengan mempertimbangkan karakteristik setiap bidang ilmu.
Perjalanan Panjang Menuju Guru Besar
Pencapaian Edi Syafri tidak terlepas dari perjalanan akademik yang penuh tantangan. Dalam tulisan reflektif berjudul Jalan Panjang dan Berliku Menuju Guru Besar, ia mengisahkan proses pengajuan jabatan profesor yang sempat menghadapi persoalan linearitas keilmuan.
Ia kemudian menelaah kembali keterkaitan bidang penelitian dengan mata kuliah yang diampu hingga menemukan benang merah pada ilmu material.
Berkas pengajuan guru besarnya disampaikan pada 11 Mei 2023, sedangkan Surat Keputusan Penetapan Angka Kredit ditandatangani pada 31 Agustus 2023.
Dalam refleksinya, Edi mengutip pepatah Jepang yang menjadi pegangan dalam menghadapi kesulitan: “Nana korobi yaoki”, yang berarti jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.
Pesan tersebut menggambarkan pentingnya ketekunan dalam menjalani karier akademik, terutama bagi peneliti yang harus membangun rekam jejak publikasi sekaligus memenuhi persyaratan jabatan fungsional.
Perkuat Reputasi Riset Perguruan Tinggi Vokasi
Masuknya Edi Syafri dalam daftar ilmuwan dunia menjadi peluang bagi PPNP untuk memperkuat reputasi penelitian dan memperluas jejaring kolaborasi.
Pengakuan terhadap dosen dapat mendukung upaya kampus membangun kerja sama akademik, mengembangkan penelitian terapan, serta meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan riset.
Bagi perguruan tinggi vokasi, potensi tersebut semakin penting karena penelitian dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan praktis sektor pertanian dan industri.
Pemanfaatan kapuk, singkong, serta limbah perkebunan, misalnya, membuka ruang bagi pengembangan material bernilai tambah yang bersumber dari komoditas lokal.
Namun, manfaat ekonomi dan lingkungan dari hasil penelitian tetap bergantung pada tahap pengujian, kesiapan teknologi, kebutuhan industri, serta keberhasilan proses hilirisasi.
Pencapaian Edi juga memberikan gambaran bahwa penelitian dengan sumber daya lokal dapat menjangkau komunitas ilmiah internasional ketika didukung konsistensi publikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan.
Dengan masuknya Edi Syafri bersama Dwi Suhartanto dan Arridina Susan Silitonga dalam kategori single-year 2025, kontribusi peneliti dari lingkungan politeknik kembali mendapat perhatian.
Prestasi tersebut sekaligus menegaskan peluang perguruan tinggi vokasi untuk berperan bukan hanya dalam menyiapkan tenaga terampil, tetapi juga menghasilkan penelitian yang berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. (AGF/09)



