Taiwan Dorong Inovasi Kesehatan Berbasis AI, 832 Proposal Masuk dari 62 Negara

Avatar photo
Taiwan Dorong Inovasi Kesehatan Berbasis AI, 832 Proposal Masuk dari 62 Negara
Foto: Dok. TETO

SUDUTPANDANG.ID – Taiwan mendorong inovasi kesehatan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui kolaborasi internasional dalam kompetisi Go Healthy with Taiwan 2026. Ajang tersebut menerima 832 proposal dari 62 negara, meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan fokus pada pengembangan solusi kesehatan yang lebih mudah diakses dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Jumlah proposal pada 2026 meningkat dari 638 proposal yang berasal dari 55 negara pada tahun sebelumnya. Dari seluruh proposal yang masuk, terpilih 20 semifinalis dari 16 negara dalam dua kategori, yakni Smart Healthcare serta Sport Tech & Cycling.

Kompetisi ini mempertemukan kemampuan teknologi Taiwan dengan gagasan inovatif dari berbagai negara untuk menjawab tantangan kesehatan, mulai dari deteksi penyakit hingga pemantauan kondisi pasien dan peningkatan akses layanan kesehatan di wilayah dengan keterbatasan fasilitas medis.

Direktur Taiwan Trade Center (TAITRA), Amy Hsiao, yang mengoordinasikan Go Healthy with Taiwan 2026, mengatakan kolaborasi lintas negara menjadi salah satu upaya untuk mendorong penerapan teknologi kesehatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Melalui Go Healthy with Taiwan, kami ingin mempertemukan kekuatan teknologi Taiwan dengan ide-ide inovatif dari berbagai negara untuk menjawab tantangan kesehatan yang nyata. Kami percaya bahwa kolaborasi lintas negara dapat mempercepat lahirnya solusi yang lebih praktis, mudah diakses dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Amy.

Dari sisi peserta, sekitar 70 persen semifinalis telah memasarkan produknya, sedangkan 45 persen berasal dari perusahaan kecil dan menengah. Inovasi yang dikembangkan mencakup perangkat skrining berbasis AI, teknologi pemantauan tanda vital, dukungan diagnosis, serta solusi untuk membantu warga lanjut usia mempertahankan kemandirian.

BACA JUGA  Kisah Inspiratif Haryanto Asal Bengkulu, Sukses Jadi Profesional Teknologi di Taiwan

Taiwan Kembangkan Ekosistem Kesehatan Digital

Pengembangan teknologi kesehatan Taiwan ditopang infrastruktur kesehatan dan industri teknologi yang berkembang selama puluhan tahun. Salah satu fondasinya adalah National Health Insurance (NHI), sistem asuransi kesehatan nasional yang mulai beroperasi pada 1995 dan kini mencakup sekitar 99,9 persen penduduk Taiwan.

Cakupan tersebut turut mendukung pengembangan infrastruktur digital yang menghubungkan data pelayanan kesehatan, rekam medis elektronik, komputasi awan, dan analisis berbasis AI.

Salah satu penerapannya adalah NHI MediCloud, sistem yang memungkinkan tenaga kesehatan mengakses informasi medis pasien dari berbagai fasilitas kesehatan. Informasi tersebut meliputi riwayat penggunaan obat, pemeriksaan, hasil laboratorium, pencitraan medis, alergi, tindakan medis, hingga vaksinasi.

Pada 2024, penggunaan MediCloud telah menjangkau seluruh rumah sakit dan 98 persen klinik di Taiwan, dengan rata-rata sekitar 1,23 juta pencarian setiap hari. Sistem tersebut membantu tenaga kesehatan memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai riwayat pelayanan pasien.

Taiwan juga mengembangkan pemanfaatan AI untuk membantu memperkirakan risiko penyakit kronis, termasuk diabetes dan penyakit kardiovaskular. Pendekatan ini membuka peluang untuk memperkuat deteksi risiko dan intervensi dini, sehingga pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada penanganan setelah seseorang jatuh sakit.

Selain teknologi AI, Taiwan memiliki dukungan industri elektronik, semikonduktor, teknologi informasi dan komunikasi, serta perangkat medis. Sektor-sektor tersebut menjadi fondasi bagi pengembangan sensor, sistem pemantauan, komputasi, dan perangkat kesehatan terintegrasi.

Data pemerintah Taiwan yang dikutip dalam kajian mengenai ekosistem kesehatan digital menunjukkan nilai bisnis industri biomedis mencapai sekitar NT$830,1 miliar pada 2025. Industri tersebut mencakup farmasi, alat kesehatan, bioteknologi, pengobatan regeneratif, dan kesehatan digital.

BACA JUGA  Militer China Kembali Mondar-mandir di Perbatasan, Taiwan Kirim Pasukan Memonitor

AI untuk Deteksi Penyakit hingga Pelayanan di Daerah Terpencil

Berbagai inovasi yang masuk semifinal Go Healthy with Taiwan 2026 menunjukkan penerapan teknologi untuk menjawab kebutuhan kesehatan yang beragam.

Horus ML dari Spanyol mengembangkan AI untuk skrining risiko penyakit jantung. Sementara itu, Masima dari Brasil memanfaatkan AI untuk menganalisis citra CT dan MRI otak. Dari India, Neodocs mengembangkan teknologi berbasis telepon pintar untuk membaca strip tes urine dalam waktu sekitar 30 detik.

Di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur kesehatan, teknologi dirancang agar dapat digunakan sesuai kondisi lapangan. Cardiac Centre Ethiopia mengembangkan sistem pendukung keputusan klinis yang dapat beroperasi tanpa koneksi internet.

Adapun PragmaClin dari Kanada menggunakan kamera tiga dimensi dan AI untuk membantu penilaian gejala Parkinson, termasuk bagi masyarakat di wilayah pedesaan.

Inovasi lainnya menyasar kebutuhan warga lanjut usia. Solusi yang dikembangkan peserta mencakup rekomendasi aktivitas fisik, deteksi ketika penderita demensia berjalan tanpa arah, serta perangkat yang membantu lansia mempertahankan kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Ragam inovasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan perangkat. Kemudahan penggunaan, kemampuan beroperasi dalam kondisi lapangan, serta kesesuaian dengan kebutuhan pasien juga menjadi pertimbangan penting.

Peluang Kolaborasi Kesehatan Digital bagi Indonesia

Pengalaman Taiwan dalam mengembangkan ekosistem kesehatan digital dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia yang memiliki tantangan geografis, kebutuhan pelayanan kesehatan yang beragam, serta kesenjangan akses antardaerah.

Digitalisasi kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar pengembangan aplikasi. Sistem yang digunakan berbagai fasilitas kesehatan perlu mampu bertukar informasi, data pasien harus dikelola secara aman, dan teknologi yang diterapkan dalam pelayanan medis perlu melalui pengujian untuk memastikan keamanan serta manfaat klinisnya.

BACA JUGA  Keren! Penemu Jepang Perkenalkan 'Relive Wear', Pakaian Kesehatan Berteknologi Canggih

Interoperabilitas, tata kelola data, perlindungan privasi, dan pemerataan akses menjadi bagian penting dalam transformasi kesehatan digital. Tanpa fondasi tersebut, pemanfaatan AI berisiko lebih banyak memberikan manfaat kepada masyarakat yang telah memiliki akses terhadap fasilitas dan teknologi memadai.

Melalui Go Healthy with Taiwan 2026, Taiwan berupaya mempertemukan kemampuan industri dan teknologinya dengan kebutuhan para inovator dari berbagai negara. Kolaborasi ini membuka peluang pengembangan solusi kesehatan yang dapat diuji dalam beragam konteks penggunaan sekaligus memperluas kerja sama di bidang kesehatan digital.

Bagi Indonesia, pengembangan teknologi semacam ini dapat menjadi peluang untuk mengeksplorasi solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan nasional, terutama dalam memperluas jangkauan layanan, mendukung deteksi penyakit lebih dini, dan meningkatkan efisiensi pelayanan.

Pada akhirnya, keberhasilan inovasi kesehatan tidak hanya diukur dari kecanggihan algoritma atau perangkat yang digunakan. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi tersebut mampu membantu tenaga kesehatan, meningkatkan kualitas pelayanan, memperluas akses masyarakat, dan mendukung upaya pencegahan penyakit.(red)