JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – PTPN IV PalmCo menargetkan volume ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mencapai 759.000 ton pada 2027. Target tersebut setara dengan 25 persen dari total penjualan perusahaan, meningkat dari porsi ekspor sebesar 10 persen hingga September 2026.
Untuk mencapai target tersebut, PTPN IV PalmCo menjalin kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag). Nota kesepahaman kedua pihak ditandatangani di sela penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, belum lama ini.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas akses pasar internasional dan meningkatkan peran sebagai eksportir langsung.
Menurut Jatmiko, strategi ekspor perlu disesuaikan dengan perubahan persyaratan pasar global, terutama terkait keberlanjutan, legalitas dan ketertelusuran produk.
“Ini merupakan langkah krusial bagi industri kelapa sawit nasional untuk memperluas akses ke pasar internasional di tengah bayang-bayang regulasi ketat EUDR, yang akan berlaku pada 1 Januari 2027,” kata Jatmiko dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).
Ia menjelaskan, EUDR atau European Union Deforestation Regulation merupakan regulasi Uni Eropa yang mengatur pemasaran sejumlah komoditas berdasarkan persyaratan bebas deforestasi.
“Ketentuan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan eksportir dalam mempertahankan akses ke pasar Eropa,” katanya.
Jatmiko menambahkan, penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) semakin penting dalam persaingan perdagangan internasional.
“Kinerja ESG bukan lagi hanya tentang mematuhi aturan, ini juga mengamankan akses pasar jangka panjang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi industri perkebunan nasional,” ujarnya.
Perluas Jaringan Pembeli internasional
Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV PalmCo Rury C. Baskoro mengatakan, peningkatan ekspor perlu didukung kemampuan perusahaan membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional.
Perusahaan menyasar sejumlah segmen pasar, mulai dari perusahaan pemurnian minyak sawit (refiners), pedagang komoditas (traders), hingga pengguna akhir (end-users).
Menurut Rury, porsi ekspor CPO perusahaan meningkat dari 1 persen pada 2024 menjadi 10 persen hingga September 2026. Perusahaan menargetkan peningkatan porsi ekspor menjadi 25 persen pada 2027.
“Insya Allah, tahun depan kami menargetkan porsi ekspor mencapai 25 persen, atau kurang lebih sekitar 759.000 ton,” ujar Rury.
Terkait persyaratan EUDR, Rury menyatakan, perusahaan memiliki perkebunan dengan riwayat penggunaan lahan yang menurutnya mendukung pemenuhan ketentuan tersebut.
Ia juga menyebut sertifikasi keberlanjutan nasional dan internasional, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan persyaratan pasar.
“Perkebunan kami diwariskan dari zaman kolonial Belanda. Jadi, dapat dipastikan bahwa tidak ada deforestasi baru, tidak ada pendudukan lahan masyarakat, dan tidak ada konversi lahan hutan,” kata Rury.
Bidik Pasar Alternatif
Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid mengatakan, Indonesia perlu memperluas pasar ekspor untuk mengantisipasi tantangan perdagangan di Eropa.
Selain memperkuat pasar yang telah terbentuk di China dan India melalui kerja sama antarpemerintah (government-to-government/G2G), pemerintah menjajaki peluang ekspor ke Pakistan dan Filipina.
Kerja sama Kemendag dan PTPN IV PalmCo juga diarahkan untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir pada lima komoditas, yakni kelapa sawit, karet, kopi, teh dan gambir.
Selain memperluas pasar, pemerintah mendorong keterlibatan PTPN IV PalmCo dalam program pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah operasional perusahaan.
“Sebagai langkah nyata menuju penciptaan nilai ekonomi yang inklusif, kolaborasi ini juga menyepakati untuk memasukkan PTPN IV PalmCo dalam program prioritas ‘Desa Bisa Ekspor’,” ujar Miftah.
Ia berharap kerja sama tersebut menghasilkan manfaat yang terukur bagi peningkatan ekspor nasional, antara lain melalui penyediaan informasi pasar, fasilitasi pertemuan bisnis dengan pembeli internasional, peningkatan volume ekspor, dan pengembangan kemitraan global yang berkelanjutan.
“Kerja sama ini harus lebih dari sekadar penandatanganan dokumen. Kami berharap ini dapat memberikan intelijen pasar yang akurat, fasilitasi bisnis dengan pembeli internasional, peningkatan volume ekspor, dan kemitraan global yang berkelanjutan bagi Indonesia,” kata Miftah.(Red)











