MAKASSAR, SUDUTPANDANG.ID — Pemerintah memastikan ekonomi Indonesia tetap solid dan mampu bertahan di tengah ketidakpastian global yang masih dipengaruhi gejolak harga energi, tekanan perdagangan internasional, serta volatilitas pasar keuangan.
Berbagai indikator makroekonomi menunjukkan kondisi perekonomian nasional tetap kuat berkat kebijakan strategis yang dijalankan pemerintah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan prospek ekonomi global mulai menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan meningkat dari 2,8 persen pada 2026 menjadi 3,1 persen pada 2027.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan stabilitas ekonomi melalui pengendalian inflasi, pertumbuhan sektor riil, hingga penguatan sektor keuangan.
“Inflasi Indonesia pada Juli 2026 berada di level 2,88 persen secara tahunan atau masih berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Aktivitas manufaktur juga tetap ekspansif dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 50,2,” ujar Airlangga saat menghadiri Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) XXXV Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) di Makassar, Selasa (4/8/2026).

Selain inflasi yang terkendali, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67 persen secara tahunan pada Juni 2026. Cadangan devisa Indonesia juga tetap kuat sebesar 145,6 miliar dolar AS atau setara 5,5 bulan impor, sehingga menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Airlangga, capaian tersebut tidak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah yang fokus memperkuat sektor prioritas. Salah satunya melalui program swasembada energi seperti implementasi B50, Biosolar untuk Nelayan, serta pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar nabati.
Pemerintah juga terus mendorong konsumsi domestik melalui berbagai stimulus, antara lain diskon transportasi, bantuan pangan, pemberian tunjangan hari raya bagi aparatur sipil negara (ASN), Bantuan Hari Raya (BHR) untuk pengemudi ojek online, hingga program magang nasional dan vokasi.

Program magang menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka pengangguran.
“Pemerintah mendorong program magang bagi Generasi Z sebanyak 150.000 peserta. Kami juga meminta perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam APINDO ikut menerima peserta magang. Selama enam bulan peserta akan mendapatkan gaji dari pemerintah,” kata Airlangga.
Selain memperkuat konsumsi masyarakat, pemerintah terus mempercepat penyaluran kredit program yang hingga pertengahan 2026 telah mencapai Rp169,9 triliun.
Pemulihan sektor pariwisata juga memberikan kontribusi positif dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,4 juta orang selama Januari hingga Juni 2026.
Di sektor investasi, pemerintah berkomitmen menjaga kepercayaan investor melalui kebijakan fiskal yang disiplin dan reformasi struktural. Indonesia kembali memperoleh afirmasi peringkat layak investasi dari S&P Global Ratings dengan outlook stabil.
Pemerintah juga memastikan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap ekspansif namun terukur sehingga defisit fiskal berada pada batas aman.
Kebijakan tersebut dinilai mampu menjaga kredibilitas fiskal sekaligus meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun internasional.
Sebagai bagian dari diversifikasi sumber pembiayaan, pemerintah telah menerbitkan Panda Bonds berdenominasi yuan yang memperoleh peringkat AAA/Stable dari Lianhe Credit Rating. Instrumen tersebut diharapkan memperluas akses pembiayaan Indonesia ke pasar keuangan global.
Dalam menjaga stabilitas harga pangan, pemerintah terus mempercepat distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan beras kepada masyarakat.
Sementara itu, penguatan daya saing ekonomi nasional dilakukan melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Hingga Semester I Tahun 2026, realisasi investasi kumulatif di KEK telah mencapai Rp368 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 283.234 orang.
Pemerintah juga memperkuat ekosistem keuangan nasional melalui pengembangan Bullion Bank sebagai salah satu instrumen pendukung industri keuangan.
Airlangga menjelaskan pemerintah saat ini menggerakkan tiga mesin utama pertumbuhan ekonomi. Pertama, memperkuat industri padat karya melalui penyediaan fasilitas kredit investasi dan modal kerja agar sektor manufaktur semakin kompetitif.
“Kami ingin industri dalam negeri memanfaatkan fasilitas pemerintah untuk melakukan modernisasi mesin sehingga lebih efisien dan mampu bersaing. Investasi dari berbagai negara, khususnya di sektor tekstil, juga terus meningkat,” ujarnya.
Mesin pertumbuhan kedua adalah percepatan transformasi digital melalui pengembangan industri semikonduktor, digitalisasi, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Indonesia kini menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) bersama 28 negara lainnya.
Selain itu, Indonesia juga menjadi penggagas percepatan negosiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), yang diharapkan membuka peluang investasi lebih besar, terutama pada sektor pusat data atau data center.
Adapun mesin pertumbuhan ketiga difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan ekonomi berbasis talenta (gig economy), termasuk perluasan program magang nasional agar tenaga kerja Indonesia semakin adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan.
“Kita akan berjaya bukan hanya jika para pengusaha bersatu, tetapi ketika pengusaha, pemerintah, dan BUMN bekerja bersama dalam semangat Indonesia Incorporated,” tegas Airlangga.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan pemerintah akan terus memperkuat sinergi dengan dunia usaha agar seluruh kebijakan strategis berjalan efektif dan memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan sektor swasta menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi, menciptakan iklim investasi yang kondusif, memperluas kesempatan kerja, serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global. (09/AGF).










