Akademisi IPB University: Rekreasi-Pariwisata Meski Dimaknai Sebagai “Ilahiah Travelling”

Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan dan Lingkungan dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, Prof Dr Ir Ricky Avenzora, M.Sc.F.Trop. FOTO: HO-Humas IPB University

BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan dan Lingkungan dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, Prof Dr Ir Ricky Avenzora, M.Sc.F.Trop, mengemukakan bahwa rekreasi dan pariwisata tidak boleh lagi hanya didefinisikan sebagai perjalanan untuk “being free” atau “a freedom of regimen”, melainkan harus dimaknai sebagai “perjalanan yang berkesadaran Ilahiah” (Ilahiah Travelling).

“Dimaknai sebagai perjalanan yang berkesadaran Ilahiah itu adalah untuk mencari dan membangun kehakikian jati diri agar bisa menjadi individu dan masyarakat yang bermanfaat bagi semesta alam, yang disebut sebagai ekowisata,” katanya di Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/9/2025).

Sebanyak empat guru besar baru dari IPB University, Kamis (18/9), memaparkan pemikiran-pemikirannya pada kegiatan pra orasi ilmiah melalui konferensi pers dalam jaringan (daring/online).

Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar IPB itu dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (20/9) di Auditorium Andi Hakim Nasution (AHN), Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor.

Keempat profesor dimaksud adalah pertama, Prof Dr Ir Abdjad Asih Nawangsih, M.Si, Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian dari Departemen Proteksi Tanaman (PTN) yang memaparkan ringkasan singkat bertema “Peran dan Pemanfaatan Bakteri Aktinomiset untuk Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan”.

BACA JUGA  Koramil Sumber Lakukan Pendataan Korban Kebakaran

Kedua, Prof Dr Ir Ricky Avenzora, M.Sc.F.Trop, Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan dan Lingkungan dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) dengan tema “Retrospeksi Akademis 35 Tahun Pembangunan Ekowisata di Indonesia”.

Ketiga, Prof Dr Ir I Wayan Budiastra, M.Agr, Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB) dengan tema “Pengembangan Teknik Evaluasi Mutu Secara Non-Destruktif dan Pengolahan Hasil untuk Peningkatan Produktivitas dan Mutu Hasil Pertanian”.

Keempat, Prof Dr Ir Lilik Noor Yuliati, M.F.S.A, Guru Besar Tetap Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) yang mengusung tema “Peran Nudging dan Media Sosial dalam Pembentukan Perilaku Konsumsi Berkelanjutan pada Generasi Z”.

Saat memaparkan pemikiran-pemikirannya pada kegiatan pra orasi ilmiah melalui konferensi pers dalam jaringan (daring/online) yang dipandu Asisten Direktur Komunikasi Direktorat Kerja Sama, Komunikasi dan Pemasaran IPB University, Siti Nuryati, S.T.P., M.Si itu, doktor lulusan Universitas Gottingen, Jerman itu memberikan rincian mengenai konsep perjalanan Ilahiah dalam ekowisata dimaksud.

BACA JUGA  Inalillahi, Bus Pariwisata Masuk Jurang di Guci Tegal

Ia mengemukakan bahwa perjalanan Ilahiah tersebut setidaknya harus dituangkan dalam tujuh (7) misi utama.

Pertama, yaitu guna menemukan kehakikian jati diri. Kedua, membentuk silaturahmi, ketiga, mengelaborasi ilmu pengetahuan.

Kemudian, keempat membangun kesejahteraan, kelima menegakkan ketawakal-an, keenam merasakan kebahagiaan dan ketuju mendapatkan ridha Ilahi.

Dijelaskannya bahwa “Ilahiah Travelling” adalah usulannya sebagai seorang Muslim di mana konsep itu sebenarnya berlaku universal.

“Secara substansial, ‘Ilahiah Traveling’ dapat diterjemahkan sebagai ‘Perjalanan Berketuhanan’ yang pasti berlaku bagi agama apapun dan sesuai dengan sila pertama Pancasila, yang harus dijunjung dan ditegakan oleh semua rakyat Indonesia,” katanya.

Ketika ditanya bahwa sebelumnya sudah pernah muncul konsep “wisata halal” atau ada yang juga menyebut “wisata ramah Muslim”, namun belum ada paramater apakah program itu bisa meningkatkan kunjungan wisata di Tanah Air, namun justru konsep itu malah diwujudkan di negara lain, seperti China, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, apakah konsep “Ilahiah Travelling” itu akan seperti wisata halal, ia memberikan analisa.

Menurut dia “wisata halal” yang sempat mendapatkan resistens secara agresif di beberapa provnsi, ia menyebutnya sebagai “suatu blunder individual pada pejabat terkait”.

BACA JUGA  Lailatul Arofah Jawab Keraguan, dari Penjual Opak Hingga Hakim Agung

Ia menegaskan “wisata halal” bukanlah hanya berkaitan dengan makanan yang halal, melainkan juga cara mendapatkan pendapatan yang halal.

“Kata halal berlaku bagi semua umat agama. Tidak ada satupun agama yang menyatakan korupsi, menipu, adalah rezki baik (halal) bagi umat terkait, bukan?,” katanya.

Jika bangsa lain terus mengembangkan wisata halal dalam konteks ekonomi katanya, maka dalam bangsa Indonesia “wisata halal” adalah menyangkut segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Halal ekonomi. Halal cara hidup dan halal dalam membangun interaksi antarmanusia maupun ikatan cinta,” demikian Ricky Avenzora. (Red/02)