Demonstran Pro-Pemerintah Iran Tolak Campur Tangan AS

Avatar photo
Demonstran Pro-Pemerintah Iran Tolak Campur Tangan AS
Demonstran Pro-Pemerintah Iran menolak campur tangan pemerintah Amerika Serikat.(Foto: Dok. Al Jazeera)

SUDUTPANDANG.ID – Demonstran pro-pemerintah Iran menggelar aksi di berbagai kota pada Senin (12/1/2026) untuk menolak campur tangan Amerika Serikat (AS) dalam urusan dalam negeri Iran. Aksi tersebut berlangsung di tengah gelombang demonstrasi nasional yang masih berlanjut dan meningkatnya tekanan internasional terhadap pemerintah Teheran.

Ribuan massa terlihat memadati pusat-pusat kota, termasuk Teheran, sambil mengibarkan bendera Republik Islam Iran dan meneriakkan slogan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai intervensi asing.

Para demonstran menyatakan dukungan kepada pemerintah serta menuding AS dan sekutunya berupaya memanfaatkan situasi dalam negeri Iran.

Aksi pro-pemerintah ini digelar menyusul tudingan resmi Teheran bahwa unjuk rasa anti-pemerintah yang pecah sejak akhir Desember 2025 tidak lepas dari pengaruh kekuatan asing.

BACA JUGA  Menlu Rusia: AS dan Sekutunya Siapkan Perang dengan Korut

Pemerintah Iran menyebut sebagian kerusuhan dipicu oleh aktor eksternal yang bertujuan menggoyahkan stabilitas nasional.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebelumnya menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan negara mana pun.

Ia menuding Amerika Serikat berusaha menunggangi keresahan ekonomi masyarakat untuk melemahkan pemerintahannya.

Ancaman Trump memicu kecaman dari pemerintah Iran yang menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk tekanan dan provokasi.

Otoritas Iran menegaskan akan mempertahankan kedaulatan negara dan memperingatkan bahwa setiap agresi asing akan dibalas secara tegas.

Ancaman Trump 

Di sisi lain, situasi kian memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan meluncurkan operasi militer terhadap negara tersebut.

Trump menyatakan bahwa opsi militer terbuka menyusul laporan meningkatnya jumlah korban dalam demonstrasi yang melanda negara tersebut.

BACA JUGA  Mantan Presiden Tsai Paparkan Pencapaian Kesetaraan Gender di Taiwan Women's Power Cultural Night

“Semua opsi ada di atas meja,” kata Trump.

Organisasi pemantau hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 544 orang tewas dalam demonstrasi di Iran.

Korban tersebut terdiri atas 468 demonstran dan 48 anggota pasukan keamanan, sementara sisanya belum teridentifikasi. Selain itu, ribuan orang dilaporkan mengalami luka-luka dan ditahan oleh aparat keamanan.

Gelombang demonstrasi di negara Timur Tengah itu bermula dari protes terhadap memburuknya kondisi ekonomi, termasuk anjloknya nilai tukar rial. Namun, dalam perkembangannya, tuntutan massa meluas menjadi seruan perubahan politik dan kritik terhadap kepemimpinan Ayatollah Khamenei.

Sementara itu, komunitas internasional menyerukan semua pihak menahan diri. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya menyatakan keprihatinan atas meningkatnya kekerasan dalam penanganan demonstrasi dan mendesak agar hak asasi manusia tetap dihormati.(01/berbagai sumber)