JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Daihatsu Indonesia Masters 2026 tidak hanya menjadi ajang pertandingan bulutangkis kelas dunia, tetapi juga diarahkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat regenerasi atlet nasional sekaligus memperluas keterlibatan publik.
Turnamen level BWF World Tour Super 500 ini digelar di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan konsep penyelenggaraan yang lebih terbuka dan ramah bagi keluarga serta generasi muda.
Ketua Panitia Pelaksana Daihatsu Indonesia Masters 2026, Achmad Budiharto, mengatakan tujuan utama turnamen ini bukan semata mengejar jumlah penonton atau target teknis, melainkan membangkitkan kembali euforia bulutangkis di tengah masyarakat.
“Beberapa waktu terakhir, kami melihat perhatian terhadap bulutangkis mulai tergeser oleh cabang olahraga lain. Ini tantangan bagi kami. Karena itu, melalui Indonesia Masters, kami ingin masyarakat kembali datang, kembali peduli, dan kembali berpartisipasi dalam event-event bulutangkis di Indonesia,” ujar Achmad Budiharto kepada Sudutpandang.id, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, panitia melakukan sejumlah terobosan dalam konsep penyelenggaraan. Salah satunya dengan membuka akses interaksi penonton secara lebih luas di area luar arena pertandingan.
Pembatasan hanya diberlakukan saat memasuki lapangan utama, sementara area publik dibuat lebih bebas dan inklusif.
“Kalau dulu banyak kendala untuk berinteraksi, sekarang kami buat lebih terbuka. Penonton bisa menikmati suasana, fasilitas, dan berbagai aktivitas pendukung tanpa banyak batasan,” katanya.

Selain itu, faktor harga tiket juga menjadi perhatian utama. Panitia menetapkan harga yang lebih terjangkau, termasuk pada area kuliner, agar masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menikmati turnamen.
“Kami sengaja membuat tiket yang bersahabat. Bukan hanya tiket masuk, tapi juga fasilitas di sekitarnya. Tujuannya agar penonton bisa benar-benar menikmati event ini sesuai kemampuan mereka,” jelas Budiharto.
Panitia juga menyediakan kids zone sebagai bagian dari upaya menjadikan Indonesia Masters sebagai ajang ramah keluarga. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan bulutangkis nasional.
“Kalau keluarga sudah menyukai bulutangkis, mereka akan mendorong anak-anaknya. Dari situlah bibit-bibit atlet masa depan bisa tumbuh,” ujarnya.
Dari sisi prestasi, Daihatsu Indonesia Masters 2026 juga menjadi ruang pembuktian bagi proses regenerasi atlet. Budiharto menyebut turnamen ini berada di persimpangan antara tuntutan prestasi publik dan kebutuhan PBSI untuk menyiapkan generasi baru.

“Harapan masyarakat tentu prestasi. Di sisi lain, PBSI harus melakukan regenerasi. Tantangannya ada di situ. Kami berharap event seperti ini memberi dorongan agar PBSI semakin berani menjalankan program regenerasi,” katanya.
Ia menilai sejumlah pemain muda mulai menunjukkan kesiapan, terutama di sektor ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Namun, tantangan regenerasi masih terasa di sektor tunggal putra dan tunggal putri.
“Kalau di ganda, sudah mulai terlihat calon pengganti. Tinggal sektor tunggal yang memang masih perlu perhatian lebih ke depan,” ucapnya.
Budiharto juga menyampaikan pesan khusus kepada penonton agar memberikan dukungan yang positif kepada para atlet, baik saat menang maupun kalah.
“Dukungan yang suportif sangat penting. Jangan sampai atlet justru terbebani. Kalau tampil bagus, dukung. Kalau belum maksimal, pahami. Jangan dinistakan atau diejek karena itu merugikan kita semua,” tegasnya.
Ia menambahkan, sikap penonton Indonesia yang dikenal fair menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia selalu diminati pemain-pemain top dunia.

“Siapa pun yang bermain baik, akan mendapat apresiasi. Itu daya tarik Indonesia di mata dunia,” katanya.
Dari sisi jumlah penonton, panitia mencatat respons positif sejak hari pertama. Hingga hari ketiga penyelenggaraan, tercatat lebih dari 8.000 penonton telah hadir di Istora. Panitia menargetkan total 15.000 hingga 20.000 penonton hingga turnamen berakhir.
Ke depan, sejumlah terobosan penyelenggaraan akan dievaluasi untuk dipertahankan pada event-event berikutnya, termasuk Indonesia Open 2026. Budiharto menyebut Indonesia Masters menjadi ajang pemanasan sebelum Indonesia Open yang digelar pada Juni mendatang.
“Indonesia Masters ini semacam gambaran. Apa yang nyaman dan disukai penonton akan kami pertahankan dan kembangkan,” ujarnya.
Antusiasme penonton juga terlihat dari respons masyarakat. Seorang penggemar asal Depok, Eko, menilai Indonesia Masters memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar hiburan.
“Indonesia Masters itu simbol kebanggaan bulutangkis nasional. Saat Istora penuh dan Merah Putih berkibar, rasanya selalu merinding. Kita merasa ikut memiliki perjuangan para atlet,” ujar Eko saat ditemui di Istora.
Menurutnya, konsep penyelenggaraan tahun ini juga semakin ramah bagi keluarga dan generasi muda.
“Harga tiket yang lebih terjangkau membuat keluarga bisa datang bersama. Suasananya terasa seperti pesta rakyat, tidak eksklusif. Ini penting supaya anak-anak dan generasi muda merasa dekat dengan bulutangkis,” katanya.
Senada dengan Eko, penggemar lain bernama Deni menyampaikan harapan agar Indonesia Masters terus menjadi jembatan regenerasi atlet nasional.
“Saya berharap atlet muda diberi kesempatan tanpa langsung dibebani ekspektasi berlebihan. Biarkan mereka belajar dari atmosfer Istora, merasakan tekanan sekaligus dukungan,” ujar Deni.
Ia juga menekankan pentingnya kedewasaan penonton dalam mendukung proses regenerasi.
“Kalau kalah jangan dicaci. Dukungan yang sportif justru akan melahirkan juara di masa depan,” katanya.
Dari sisi ekosistem, penyelenggaraan Daihatsu Indonesia Masters 2026 tidak terlepas dari kolaborasi industri yang berkelanjutan.
Dukungan sponsor dinilai krusial untuk menjaga kualitas turnamen dan konsistensi penyelenggaraan event internasional di Indonesia.
“Kolaborasi antara industri, federasi, dan penyelenggara adalah fondasi utama. Ini bukan hanya soal turnamen, tetapi tentang membangun sistem bulutangkis yang sehat,” ujar Budiharto. (09/AGF).









