SUDUTPANDANG.ID – Pemerintah Iran melalui pejabat seniornya menegaskan tidak akan membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Sikap tersebut disampaikan setelah rangkaian serangan yang diklaim dilakukan oleh AS dan Israel ke sejumlah wilayah di Iran.
Ajudan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, menyatakan bahwa Teheran tidak memiliki kepercayaan terhadap Washington.
“Tak ada kepercayaan pada Amerika, juga tak ada alasan untuk berunding,” ujar Mokhber dilansir dari siaran televisi nasional Iran, Rabu (4/3).
Menurutnya, Iran memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi konflik bersenjata. Ia merujuk pada Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun pada 1980 – 1988 sebagai bukti ketahanan negaranya menghadapi tekanan militer.
“Pengalaman sejarah menunjukkan kita tak takut perang, kita tak gentar melanjutkannya,” kata dia.
Ancam Balasan Lebih Lanjut
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan tidak akan tinggal diam atas serangan yang disebut dilancarkan oleh AS dan Israel pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut dilaporkan menyasar sejumlah target di Teheran dan wilayah lain di Iran.
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, gugur dalam serangan tersebut. Informasi ini memicu gelombang respons keras dari otoritas militer Iran.
IRGC menuduh serangan gabungan AS dan Israel tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga lokasi sipil seperti sekolah, rumah sakit, stadion, restoran, dan gedung pernikahan. Mereka menyebut tindakan tersebut bertujuan menciptakan kepanikan di tengah masyarakat.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Data Korban Beragam
Data jumlah korban akibat serangan tersebut masih bervariasi. Kantor berita Tasnim, mengutip Iranian Foundation of Martyrs and Veterans Affairs, melaporkan total korban tewas telah mencapai 1.045 orang.
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran pada Selasa (3/3) menyebut jumlah korban tewas mencapai 787 orang, yang terdiri atas warga sipil dan personel militer.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan situasi di lapangan masih berkembang dan informasi terus diperbarui oleh otoritas setempat.
Eskalasi terbaru ini menandai babak baru ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, di tengah kekhawatiran meningkatnya konflik terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.(01)









