Iwet Ramadhan Buka Suara Terkait Polemik Billboard ‘Aku Harus Mati’

Aku Harus Mati
Iwet Ramadhan (Foto: Net)

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Kontroversi penurunan billboard film Aku Harus Mati yang ramai diperbincangkan publik sempat memunculkan berbagai spekulasi. Salah satunya menyebut bahwa polemik tersebut merupakan bagian dari strategi pemasaran untuk mendongkrak popularitas film.

Menanggapi hal itu, Iwet Ramadhan selaku head of creative strategic promotion menegaskan bahwa insiden tersebut tidak pernah dirancang sebagai bagian dari promosi.

“Ini bukan gimmick. Justru ini jadi pembelajaran besar bagi kami,” ungkap Iwet Ramadhan kepada wartawan dalam konferensi pers virtual, Senin (6/4/2026).

Ia juga mengakui bahwa situasi ini menjadi refleksi penting bagi tim produksi, terutama dalam membaca sensitivitas publik terhadap berbagai isu.

“Sebenarnya saya pribadi menanggapinya jadi pelajaran, ternyata kondisi sekarang sedang sensitif, apa saja bisa jadi trigger,” katanya.

BACA JUGA  Kejari Jaksel Ekstradisi Buronan Interpol Alexander Zverev ke Rusia

Saat ini, pihak produksi masih terus memantau dampak dari penurunan billboard terhadap jumlah penonton. Meski begitu, respons masyarakat di sejumlah daerah justru terbilang positif.

“Di beberapa kota seperti Jogja, Semarang, sampai Surabaya, respons penonton sangat baik,” terang Iwet.

Menurutnya, kejadian ini menjadi pengingat bahwa penyampaian pesan di ruang publik harus dilakukan dengan lebih hati-hati, mengingat beragamnya latar belakang masyarakat.

“Ke depan kami harus lebih bijak dalam menyampaikan materi atau pernyataan ke publik,” pungkas Iwet Ramadan.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa film tersebut dibuat tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga membawa pesan sosial bagi penonton.

“Tujuannya sebanyak-banyaknya orang terhibur, bisa mendapat pesan sosial yang dibawa dalam film ini,” ujarnya.

BACA JUGA  Lanud Husein Gelar Senam Anak Sambut HUT ke-37 Yasarini

Kontroversi bermula dari materi promosi luar ruang yang dinilai sebagian masyarakat menyentuh isu sensitif, khususnya terkait kesehatan mental.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah cepat dengan menurunkan billboard Aku Harus Mati di berbagai titik. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, turut memberikan perhatian terhadap polemik tersebut. Penurunan dilakukan sejak 4 April 2026, lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.

Sebanyak 36 titik billboard di sejumlah kota pun telah dibersihkan dari materi promosi. Peristiwa ini menjadi catatan penting bagi industri kreatif agar lebih peka terhadap isu sosial, sekaligus memastikan pesan yang disampaikan dapat diterima secara bijak oleh masyarakat luas.(04)