BOGOR-JABAR, SUDUTPANDANG.ID – Pegiat konservasi satwa liar Indonesia, Tony Sumampau memperkirakan bahwa kasus macan tutul jawa (Panthera pardus melas) yang masuk ke Kantor Balai Desa Kutamandarakan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Selasa (26/8/2025) akibat terganggunya habitat satwa dilindungi itu sehingga kesulitan mencari makan.
“Sepertinya habitat (macan tutul jawa) itu terganggu akibat dari penebangan hutan di atas. Jadi tidak ada lagi pakan yang dapat dimangsanya hingga akhirnya mencari makanan hingga masuk ke permukiman di balai desa itu,” katanya saat diminta tanggapan sudutpandang.id di Bogor, Rabu (27/8).
Menurut Tony Sumampau — yang menjabat Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) itu — saat ini diperkirakan hanya ada sekitar 350 macan tutul Jawa dewasa “tersisa di dunia.
Satwa yang dikenal dengan “Javan leopard” ini terancam keberadaannya oleh hilangnya habitat, penipisan basis mangsa, dan perburuan liar karena pertumbuhan populasi manusia dan ekspansi lahan pertanian.
“Konflik antara manusia dan macan tutul juga dianggap sebagai ancaman utama bagi satwa ini,” kata Koordinator Umum Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) saat berdiskusi pada “Halal Bihalal Jurnalis Konservasi” di fasilitas Penangkaran Macan Tutul Taman Safari Indonesia, di Bogor, Rabu (16/4/2025).
Selain itu, kata dia, terbatasnya pakan juga menjadi salah satu faktor utama konflik sekaligus faktor penurunan populasi macan tutul.
Terbatasnya pakan, menyebabkan mereka harus keluar habitat untuk mencari makan di permukiman penduduk yang biasanya memiliki hewan peliharaan seperti anjing, ayam, dan lainnya, kata Tony Sumampau.

Kondisinya Tersudut
Sementara itu Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) — kini menjadi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Satyawan Pudyatmoko — menjawab pertanyaan media di Jakarta, Selasa (27/2/2024) mengingatkan pentingnya konservasi mengingat macan tutul jawa berada dalam keadaan tersudut karena populasi manusia yang semakin meningkat di ekosistem aslinya.
“Sekarang macan tutul itu posisinya tersudut. Kalau di dataran rendah kebanyakan hanya di taman nasional atau suaka margasatwa,” katanya.
Ia menjelaskan jika tidak berada di wilayah khusus untuk konservasi seperti taman nasional dan suaka margasatwa, macan tutul di alam liar kebanyakan berada di dataran tinggi.
Padahal, kata Satyawan, macan tutul layaknya manusia kebanyakan biasanya hidup di dataran rendah yang memiliki banyak mangsa dan kaya sumber daya air.
Melihat urgensi situasi tersebut, KLHK akan melakukan survei bekerja sama dengan Yayasan SINTAS Indonesia untuk mendapatkan jumlah pasti dari populasi macan tutul endemik Pulau Jawa itu.
Survei dilakukan untuk mendapatkan data dasar yang digunakan dalam pembaruan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa.
“Cuma karena yang bagus-bagus sudah diambil manusia, sekarang mereka harus naik ke gunung. Itu pun kita akan ambil nanti. Sehingga survei itu menjadi sangat penting untuk mengonfirmasi sebenarnya seberapa tersudut populasi macan tutul yang ada di Jawa,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia sekaligus ahli biologi Hariyo Wibisono mengatakan pihaknya mengestimasi populasinya berada di kisaran 319 individu.
Namun, data itu merupakan ekstrapolasi dari 11 titik dan belum menggunakan metode yang standar.
“Karena lack of data itulah makanya salah satunya menjadi alasan kita akan lakukan survei ini,” katanya.
Survei macan tutul itu rencananya akan dilakukan melalui 600 unit kamera pengintai yang dipasang di sebanya 1.160 stasiun pengamatan di 21 bentang alam meliputi 10 taman nasional, 24 kawasan suaka alam dan 55 kawasan hutan lainnya di Pulau Jawa.
Hasil survei selama dua tahun itu diharapkan menghasilkan data dasar status populasi dan preferensi mangsa hewan itu.

Dievakuasi
Sementara itu dari Kabupaten Kuningan, Jabar dilaporkan Antara bahwa tim gabungan berhasil mengevakuasi satu macan tutul jantan dari dalam Balai Desa Kutamandarakan di Kabupaten Kuningan, setelah proses penanganan selama sekitar enam jam.
Kepala Kantor Damkar Satpol PP Kabupaten Kuningan Andri Arga Kusumah di Kuningan, Selasa (27/8) mengatakan laporan awal diterima pihaknya pada pukul 08.55 WIB dari kepala desa setempat mengenai keberadaan macan tutul di balai desa.
“Macan tutul pertama kali terlihat oleh seorang tukang bernama Imam Supendi yang sedang bekerja. Ia melihat hewan itu berada di dalam ruangan balai desa,” katanya.
Setelah mendapat laporan tersebut, kata dia, Kantor Damkar Kuningan langsung berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk melakukan evakuasi di lokasi tersebut.
Ia menyebutkan, proses evakuasi berlangsung lama karena macan tutul berusia sekitar tiga tahun itu masih agresif. Meski begitu, penanganan bisa dituntaskan sekitar pukul 15.20 WIB.
Proses evakuasi ini melibatkan personel dari Damkar, BPBD Kuningan, BKSDA Wilayah III Cirebon, Polres Kuningan serta perangkat Desa Kutamandarakan.
Tim gabungan menggunakan tembakan peluru bius untuk menenangkan macan tutul tersebut. Setelah dalam kondisi pingsan, hewan itu dipindahkan secara aman ke luar ruangan.
“Proses evakuasi tidak bisa dilakukan tanpa peluru bius karena sangat berisiko membahayakan keselamatan tim maupun warga,” katanya.
Ia menegaskan, tidak ada korban jiwa maupun kerugian material dalam peristiwa tersebut. Namun, jika tidak segera ditangani macan tutul itu dikhawatirkan menimbulkan ancaman bagi masyarakat.
Warga yang berada di sekitar lokasi, katanya, sempat khawatir mengingat balai desa merupakan pusat kegiatan masyarakat sehari-hari.
Tim gabungan memastikan seluruh jalannya evakuasi berlangsung dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan kepanikan maupun insiden lain.
Macan tutul yang berhasil diamankan selanjutnya diserahkan kepada BKSDA Wilayah III Cirebon untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut sesuai prosedur konservasi, demikian Andri Arga Kusumah. (Red/Ant/Indonesia Window)


