“Produsen China kini tidak lagi dipandang sebagai pendatang baru, melainkan pesaing serius yang berpotensi membentuk ulang arah pasar global, khususnya di segmen kendaraan listrik yang diproyeksikan menjadi tulang punggung mobilitas masa depan.”
SUDUTPANDANG.ID – Peta persaingan industri otomotif global tengah mengalami pergeseran signifikan seiring semakin agresifnya ekspansi produsen kendaraan asal Tiongkok. Jika sebelumnya merek-merek China lebih dikenal kuat di pasar domestik, kini mereka mulai menantang dominasi produsen mapan dunia seperti Toyota dan Volkswagen di pasar internasional.
Analisis terbaru dari UBS, perusahaan jasa keuangan asal Swiss, menunjukkan bahwa produsen otomotif China berpeluang menguasai hingga sepertiga pangsa pasar otomotif global dalam lima tahun ke depan atau sekitar 2030. Proyeksi tersebut didorong oleh keunggulan struktural yang dimiliki industri otomotif China, mulai dari skala produksi besar hingga efisiensi biaya yang sulit disaingi.
Model produksi terintegrasi, fokus kuat pada pengembangan kendaraan listrik, serta kemajuan teknologi menjadi fondasi utama daya saing merek-merek otomotif China. Selain itu, kemampuan menekan harga jual tanpa mengorbankan fitur dan teknologi membuat produk mereka semakin diminati konsumen di berbagai kawasan.
Negara-negara berkembang menjadi sasaran utama ekspansi. Di wilayah ini, permintaan kendaraan listrik terus tumbuh, sementara sensitivitas terhadap harga masih menjadi faktor penentu keputusan pembelian. Kondisi tersebut membuka ruang bagi produsen China untuk memperluas penetrasi pasar secara cepat.
Tekanan dari produsen Tiongkok mulai dirasakan oleh merek-merek otomotif tradisional. UBS mencatat, pangsa pasar gabungan Toyota dan Volkswagen di segmen utama yang saat ini berada di kisaran 81 persen berpotensi menyusut menjadi sekitar 58 persen pada 2030 apabila tren persaingan berjalan seperti saat ini.
Perluasan Produksi Global
Ekspansi produsen otomotif China tidak hanya dilakukan melalui penjualan, tetapi juga dengan membangun fasilitas produksi di luar negeri. Sejumlah merek mulai menempatkan pabrik di Asia Tenggara dan Eropa sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Langkah ini bertujuan memperkuat rantai pasok global, menekan biaya distribusi, serta mengantisipasi kebijakan proteksionisme dan hambatan tarif di sejumlah negara. Kehadiran fasilitas produksi di luar China juga memperkuat posisi mereka sebagai pemain global, bukan sekadar eksportir.
Perkembangan tersebut menandai babak baru persaingan industri otomotif dunia. Produsen China kini tidak lagi dipandang sebagai pendatang baru, melainkan pesaing serius yang berpotensi membentuk ulang arah pasar global, khususnya di segmen kendaraan listrik yang diproyeksikan menjadi tulang punggung mobilitas masa depan.(01)

