PTPN IV PalmCo Catat 23,3 Juta Jam Kerja Aman Tanpa Kecelakaan Fatal

PTPN IV PalmCo Catat 23,3 Juta Jam Kerja Aman Tanpa Kecelakaan Fatal
Foto: Dok.PTPN IV PalmCo

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Di tengah tingginya risiko kerja di sektor perkebunan dan agroindustri, capaian tanpa kecelakaan kerja fatal bukanlah hasil yang dapat diraih secara instan. Subholding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo, mencatatkan 23,3 juta jam kerja aman tanpa kecelakaan fatal sebagai hasil dari konsistensi panjang dalam membangun serta menjaga sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di seluruh unit operasional.

Melalui siaran pers PTPN IV PalmCo, Sabtu (24/1/2026), mencatat 23,3 juta jam kerja aman tanpa kecelakaan. Capaian tersebut bukan tujuan akhir yang dikejar dalam jangka pendek, melainkan indikator dari proses berkelanjutan yang telah dijalankan selama bertahun-tahun. Sistem K3 diposisikan sebagai bagian integral dari operasional perusahaan, bukan sekadar pemenuhan regulasi atau program seremonial.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, mempertahankan zero accident dalam jangka panjang menuntut kedisiplinan organisasi dan komitmen berkelanjutan dari seluruh lini perusahaan.

“Keselamatan kerja adalah maraton, bukan sprint. Tidak bisa dibangun dengan pendekatan seremonial. Yang menentukan adalah konsistensi menjalankan sistem setiap hari di setiap unit kerja,” ujar Jatmiko.

BACA JUGA  Bank Indonesia: Utang Indonesia Tembus US$400 Miliar

Sistem K3 yang Berjalan Nyata

Menurut Jatmiko, salah satu kunci utama dalam menjaga capaian jam kerja aman adalah memastikan sistem K3 benar-benar hidup dalam keseharian kerja. Seluruh aktivitas operasional, mulai dari perencanaan pekerjaan, analisis risiko, hingga pengawasan di lapangan, dirancang saling terhubung dan dijalankan secara disiplin.

Setiap pekerjaan wajib melalui proses identifikasi potensi bahaya dan pengendalian risiko yang terukur. Dengan pendekatan tersebut, upaya pencegahan dilakukan sebelum insiden terjadi, bukan sekadar respons setelah kecelakaan.

“Jika sistem berjalan, pekerja terlindungi. Jam kerja aman dalam jumlah besar hanya mungkin tercapai apabila pencegahan dilakukan secara konsisten,” katanya.

Budaya Melapor dan Saling Mengingatkan

PalmCo juga menekankan pentingnya budaya keselamatan yang menempatkan pekerja sebagai subjek utama. Perusahaan mendorong pekerja untuk aktif melaporkan kondisi tidak aman serta berani saling mengingatkan tanpa rasa takut terhadap sanksi.

BACA JUGA  Bupati Tapsel: Kebun PTPN Batangtoru Topang Kehidupan Masyarakat Lintas Generasi

Budaya tersebut dibangun secara bertahap melalui komunikasi dua arah dan keteladanan pimpinan di lapangan. Keselamatan tidak diposisikan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kebutuhan bersama.

Zero accident tidak mungkin dicapai jika hanya manajemen yang berbicara. Pekerja harus merasa memiliki sistem keselamatan itu,” ujar Jatmiko.

Penguatan Kompetensi dan Kepemimpinan

Untuk menjaga konsistensi penerapan K3, PalmCo berinvestasi pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Ratusan pekerja dibekali sertifikasi keselamatan kerja, termasuk Ahli K3 Umum, guna memastikan pengawasan dan pendampingan dilakukan oleh personel yang memahami risiko secara mendalam.

Pendekatan ini menempatkan K3 bukan sekadar fungsi pendukung, melainkan bagian dari kepemimpinan operasional. Setiap pimpinan unit bertanggung jawab langsung atas keselamatan tim kerjanya.

“Keselamatan tidak berhenti pada rambu atau alat pelindung diri. Yang menentukan adalah kepemimpinan dan perilaku sehari-hari,” kata Jatmiko.

Evaluasi Berkelanjutan

Momentum Bulan K3 Nasional dimaknai PalmCo sebagai ruang evaluasi berkelanjutan. Setiap periode kerja dijadikan bahan pembelajaran untuk menutup celah risiko yang masih ada. Pemanfaatan teknologi, pengawasan berlapis, serta integrasi K3 ke dalam proses bisnis terus diperkuat guna menjaga konsistensi jam kerja aman.

BACA JUGA  Menkeu Purbaya Ogah Pakai APBN untuk Whoosh, Begini Respons Istana

Bagi PalmCo, capaian 23,3 juta jam kerja aman tanpa kecelakaan fatal bukan sekadar pencapaian statistik, melainkan bagian dari tanggung jawab korporasi terhadap pekerja dan keberlanjutan usaha.

“Selama risiko masih ada, pekerjaan keselamatan tidak pernah selesai,” ujar Jatmiko.(PR/01)