“PTPN IV PalmCo ini benar-benar seperti miniatur Indonesia. Karena kebun sawit banyak berada di pelosok dan penduduk lokal terbatas, saudara-saudara kita dari berbagai pulau datang untuk bekerja. Di sinilah pertemuan budaya itu terjadi.”
JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – PTPN IV PalmCo menerapkan strategi pengelolaan sumber daya manusia berbasis keberagaman dengan merangkul 55 suku bangsa dalam ekosistem kerjanya. Pendekatan inklusif tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas sekaligus memperkuat kohesi sosial di lingkungan perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut.
Siaran pers PTPN IV PalmCo, Rabu (18/2/2026) menyebutkan, berdasarkan data demografi per Desember 2025, perusahaan menaungi 69.455 tenaga kerja dengan latar belakang etnis yang beragam. Komposisi tersebut mencakup suku Jawa, Batak, Melayu, Dayak, Minangkabau, Bugis, hingga perwakilan masyarakat dari wilayah Indonesia Timur seperti Ambon, Flores, dan Papua.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan keberagaman tersebut merupakan kekuatan strategis yang dikelola secara sadar oleh manajemen. Ia menjelaskan lokasi kebun sawit yang tersebar di berbagai daerah mendorong pertemuan tenaga kerja dari berbagai pulau dan latar budaya.
“PTPN IV PalmCo ini benar-benar seperti miniatur Indonesia. Karena kebun sawit banyak berada di pelosok dan penduduk lokal terbatas, saudara-saudara kita dari berbagai pulau datang untuk bekerja. Di sinilah pertemuan budaya itu terjadi,” ujar Jatmiko.
Menurut Jatmiko, perpaduan karakter dan nilai budaya antarkaryawan membentuk tim kerja yang saling melengkapi. Ia mencontohkan kolaborasi nilai ketekunan, ketegasan, keramahan, dan kearifan lokal yang dipadukan dengan nilai perusahaan mampu mendorong kinerja operasional.
Jatmiko juga menyoroti praktik toleransi di lingkungan kerja, terutama saat perayaan hari besar keagamaan.
“Saat teman-teman Muslim merayakan Lebaran, operasional pabrik dijaga oleh rekan-rekan Nasrani dan Hindu. Sebaliknya saat Natal, rekan-rekan Muslim yang membantu. Operasional tidak pernah berhenti dan persaudaraan semakin kuat,” katanya.
Penggerak Pemerataan Ekonomi

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, yang menilai industri sawit berperan sebagai penggerak pemerataan ekonomi. Menurutnya, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah perkebunan mendorong mobilitas tenaga kerja lintas daerah dan membentuk struktur sosial multikultur.
Dalam perspektif akademik, tokoh perkebunan nasional Bungaran Saragih menekankan bahwa daya saing agribisnis modern bertumpu pada kualitas sumber daya manusia dan budaya industri yang kuat. Pendekatan pengelolaan keberagaman dinilai sejalan dengan transformasi menuju sistem agribisnis modern yang adaptif.
Sementara itu, Guru Besar Agribisnis IPB University, Bayu Krisnamurthi, menyoroti pentingnya keberlanjutan sosial dalam memenuhi standar pasar global. Lingkungan kerja yang inklusif dan non-diskriminatif dinilai menjadi indikator penting dalam sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO dan RSPO.
Dari sisi demografi usia, perusahaan mencatat mayoritas tenaga kerja berada pada kelompok usia produktif, yakni 31 – 40 tahun sebesar 27 persen dan 41 – 50 tahun sebesar 41 persen. Komposisi tersebut dinilai mendukung keberlanjutan operasional sekaligus memperkuat peran sektor sawit dalam ketahanan pangan dan energi nasional.(PR-01)

