JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Srikandi Merdeka Cup 2026 mencatat capaian positif dari sisi penonton digital. Siaran turnamen sepak bola putri internasional tersebut melalui YouTube RANS Entertainment telah menembus lebih dari 3 juta views menjelang babak semifinal.
Capaian tersebut menjadi sinyal kuat tingginya minat masyarakat terhadap sepak bola putri Indonesia. Srikandi Merdeka Cup 2026 sendiri berlangsung pada 14–23 Agustus 2026 dan diikuti tujuh negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Hong Kong, Yordania, dan Arab Saudi.
Berbeda dengan sejumlah turnamen sepak bola lainnya, Srikandi Merdeka Cup 2026 tidak ditayangkan melalui televisi nasional. Penyelenggara justru menggandeng RANS Entertainment sebagai official broadcast partner dengan memanfaatkan platform YouTube.
Keputusan tersebut ternyata memberikan hasil positif. Hingga menjelang semifinal, tayangan pertandingan Srikandi Merdeka Cup 2026 telah mencatat lebih dari 3 juta views.
CEO PT RANS Entertainment Indonesia, Nagita Slavina, mengaku bangga sekaligus kagum melihat tingginya antusiasme masyarakat terhadap pertandingan sepak bola putri.
“Sungguh bangga saya pribadi sebagai seorang perempuan dan juga dari RANS Entertainment bisa menjadi bagian dari official broadcast partner dari Srikandi Merdeka Cup ini,” ujar Nagita kepada awak media di Kantor I.League, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Nagita mengatakan, capaian jumlah penonton tersebut menunjukkan bahwa sepak bola putri memiliki potensi besar untuk mendapatkan perhatian masyarakat Indonesia.
Ia menyebut jumlah penonton tertinggi yang menyaksikan pertandingan secara bersamaan atau concurrent viewers bahkan telah mencapai lebih dari 120.000 orang.
“Bisa dilihat juga dari hasil tayangan kita juga luar biasa animonya. Tadi seperti yang dibilang, sampai sekarang itu yang tertinggi itu sudah hampir 3 juta views. Dan untuk concurrent-nya kemarin yang lawan Singapura itu sampai di 120.000 lebih,” katanya.
Menurut Nagita, Srikandi Merdeka Cup tidak sekadar menjadi kompetisi olahraga. Turnamen tersebut juga memberikan panggung bagi para pesepak bola putri untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menginspirasi generasi berikutnya.
“Kami juga melihat Srikandi Cup ini bukan hanya sekadar kompetisi, tapi luar biasa menjadi panggung buat cewek-cewek atletis,” ujar Nagita.
Ia menilai keberadaan kompetisi seperti Srikandi Merdeka Cup penting untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan yang memiliki minat dan kemampuan dalam sepak bola.
Nagita berharap penyelenggaraan turnamen sepak bola putri di Indonesia dapat terus berkembang. Menurutnya, semakin banyak kompetisi akan semakin besar pula peluang pemain putri untuk mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi.
“Ya semoga ke depannya makin besar lagi, makin mencakup lebih banyak kota, negara, lebih besar lagi jadi kesempatan untuk putri ini berkompetisi lebih banyak lagi, lebih dilihat lagi oleh banyak orang,” katanya.
Dalam Srikandi Merdeka Cup 2026, Indonesia menurunkan dua wakil, yakni Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara. Garuda Pertiwi memastikan tiket semifinal dan akan menghadapi Yordania di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (21/8/2026).
Sementara itu, Program Director Srikandi Merdeka Cup 2026, Teddy Tjahjono, menjelaskan alasan penyelenggara memilih RANS Entertainment sebagai official broadcast partner.
Menurut Teddy, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi untuk mencoba pendekatan baru dalam memperkenalkan sepak bola putri kepada masyarakat. Ia melihat platform digital memiliki potensi besar untuk menjangkau penonton secara lebih luas.
“Kita ingin mencoba sesuatu yang baru sebenarnya. Karena kita lihat dari YouTube-nya RANS Entertainment dalam beberapa pertandingan sepak bola terakhir itu viewers-nya sangat tinggi,” kata Teddy.
Ia menilai strategi tersebut sesuai dengan kondisi sepak bola putri Indonesia yang masih berada dalam tahap awal perkembangan. Karena itu, diperlukan eksposur yang tepat agar kompetisi dapat dikenal lebih luas.
Teddy berharap tayangan melalui kanal RANS Entertainment dapat menjangkau lebih banyak perempuan Indonesia maupun masyarakat pencinta sepak bola.
“Jadi supaya mendapatkan banyak audiens dari perempuan-perempuan Indonesia atau masyarakat sepak bola Indonesia, sehingga mudah-mudahan ini sebagai langkah yang baik untuk perkembangan sepak bola putri di Indonesia,” ujarnya.
Teddy mengibaratkan sepak bola putri Indonesia masih seperti bayi yang sedang belajar berkembang. Karena itu, fondasi yang kuat diperlukan agar ekosistem sepak bola putri dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Karena kan masih kalau dalam analogi manusia itu masih bayi lah, masih merangkak, dan kita ingin supaya pondasinya untuk ke depannya itu baik,” katanya.
Menurut Teddy, capaian lebih dari 3 juta views menjadi bukti awal bahwa strategi tersebut mampu memberikan eksposur besar. Bahkan, jumlah concurrent viewers lebih dari 120.000 saat pertandingan Putri Nusantara melawan Singapura dinilai sebagai pertanda positif.
Ia mengaku capaian tersebut sesuai dengan ekspektasi penyelenggara. Meski demikian, Teddy tetap terkejut melihat besarnya animo masyarakat terhadap pertandingan sepak bola putri.
“Ya, itu sesuai dengan ekspektasilah. Karena kan cukup terkejut juga dengan animo seperti itu, tapi itu suatu pertanda yang sangat positif untuk sepak bola putri di Indonesia,” tuturnya.
Antusiasme tersebut juga dinilai menjadi modal penting menjelang bergulirnya Indonesia Women’s League (IWL) yang direncanakan mulai Oktober 2026.
Pertumbuhan jumlah penonton digital diharapkan dapat menjadi bagian dari fondasi baru bagi perkembangan kompetisi sepak bola putri Indonesia. (09/AGF).










