Berita  

Sudan Butuh Damai, Jamaah Muslimin Serukan Pemerintah RI Bergerak Proaktif

Sudan Butuh Damai, Jamaah Muslimin Serukan Pemerintah RI Bergerak Proaktif
Ribuan warga Sudan terancam kelaparan akut akibat perang saudara yang berkepanjangan di Sudan (Foto: Dok.UNHCR)

“Akar kehancuran Sudan bersumber dari menyimpangnya umat dari nilai-nilai Islam yang sejati. Ketika syahwat kekuasaan mengalahkan prinsip keadilan dan persaudaraan, pertumpahan darah dan kehancuran moral menjadi keniscayaan.”

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Jamaah Muslimin (Hizbullah) menyerukan kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk bergerak proaktif mewujudkan perdamaian di Sudan, sebagai upaya membantu negara di timur laut Afrika itu segera keluar dari krisis politik dan keamanan yang berkepanjangan.

Dalam siaran pers yang diterima pada Selasa (4/11/2025), Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah Mansur menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia memiliki amanat konstitusional untuk ikut serta dalam menciptakan perdamaian dunia. Ia mendorong agar Indonesia mengambil langkah nyata dalam membantu rakyat Sudan membangun kembali kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera.

Imaam Yakhsyallah Mansur juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menghentikan kekerasan dan memberikan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Sudan yang tengah menghadapi salah satu krisis terburuk di dunia.

BACA JUGA  Jama’ah Muslimin Kutuk Serangan Brutal Teroris KKB Saat Tarawih

Ia menilai, membantu warga Sudan keluar dari penderitaan merupakan kewajiban moral dan religius bagi umat Islam di seluruh dunia.

Pernyataan itu disampaikan terkait meningkatnya kekerasan dan pembunuhan massal di wilayah Darfour, Sudan. Konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) kini memasuki tahun ketiga dan telah menelan banyak korban sipil.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 24 juta dari total 50 juta penduduk Sudan mengalami kelaparan akut, sementara lebih dari 13 juta orang terpaksa mengungsi. Serangan RSF pada 29 Oktober 2025 di Kota Al-Fasher, Darfour, disebut sebagai salah satu tragedi paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir, dengan 1.500 warga sipil tewas dalam tiga hari. Sejumlah rumah sakit, sekolah, dan fasilitas umum dilaporkan rusak parah.

BACA JUGA  Tiga Kapal Pesiar Mewah akan Bersandar di Pelabuhan Celukan Bawang Bulan April Ini

Dalam sikap resminya, Jamaah Muslimin (Hizbullah) mengutuk keras pembunuhan terhadap warga sipil di Sudan yang dinilai telah mengarah pada tindakan genosida. Penumpahan darah manusia tanpa alasan yang sah disebut sebagai bentuk kezaliman besar dan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal serta ajaran Islam.

Mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 32, Imaam Yakhsyallah menegaskan bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak berarti sama dengan membunuh seluruh umat manusia; menyelamatkan satu jiwa berarti menyelamatkan kehidupan seluruh manusia.

Ia juga menyerukan agar pihak-pihak yang berkonflik segera menghentikan kekerasan dan mengingat kembali persaudaraan sesama Muslim sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim: “Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

Imaam Yakhsyallah menyatakan, akar kehancuran Sudan bersumber dari menyimpangnya umat dari nilai-nilai Islam yang sejati. Ketika syahwat kekuasaan mengalahkan prinsip keadilan dan persaudaraan, pertumpahan darah dan kehancuran moral menjadi keniscayaan.

BACA JUGA  Jamaah Muslimin Kecam Politikus India Penghina Nabi Muhammad

Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh umat Islam untuk memperkuat persatuan, bertaubat atas kelalaian terhadap nasib saudara seiman, serta menggalang dukungan moral dan material bagi korban konflik di Sudan, Palestina, dan wilayah Muslim tertindas lainnya.(PR/01)