JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Timnas eBasketball Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh usai finis sebagai runner up pada Kualifikasi eFIBA Season 4 Regional Asia.
Pada ajang tersebut, skuad Merah Putih kembali harus mengakui keunggulan Filipina yang masih mendominasi persaingan eBasketball di kawasan Asia.
Ketua eSports DPP Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PERBASI), Pasya Marta Putra, mengakui hasil yang diraih belum sesuai target.
Meski persiapan dinilai sudah maksimal, Indonesia belum mampu meruntuhkan dominasi Filipina yang konsisten menjadi kekuatan utama di kompetisi eFIBA Asia.
“Hasil pertandingan di babak kualifikasi masih belum sesuai ekspektasi kami. Sebagai tim, kami merasa sudah melakukan usaha maksimal, mulai dari intensitas training yang kami tingkatkan tiga kali lipat tahun ini, membangun chemistry yang kuat, hingga latihan olah emosi dan mental. Tapi effort tersebut masih belum cukup untuk merobohkan tembok kokoh Filipina,” ujar Pasya.
Pada Kualifikasi eFIBA Season 4 Regional Asia yang berlangsung pada Februari lalu, Indonesia tampil impresif di fase awal.
Tim Merah Putih membuka turnamen dengan kemenangan telak atas Malaysia 308-80, kemudian melanjutkan tren positif dengan menundukkan Mongolia.
Namun, langkah Indonesia terhenti saat menghadapi Filipina di babak upper bracket final. Dalam pertandingan tersebut, Indonesia harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 122-177.
Kekalahan itu sekaligus memastikan Filipina kembali menjadi yang terbaik di regional Asia.
Pasya menilai persoalan yang dihadapi tim bukan semata-mata pada aspek teknis permainan atau mekanik individu pemain.
Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada ekosistem industri dan penguatan komunitas NBA2K di Indonesia yang belum teroptimalkan secara maksimal.
“Kami merasa permasalahannya bukan hanya dari skill dan mekanik saja, tapi juga dari ekosistem industri dan fundamental komunitas NBA2K yang masih kurang dioptimalkan untuk memperkuat kapabilitas timnas, baik sebelum maupun saat pertandingan. Termasuk peran coach, staf, dan analis,” jelasnya.
Timnas eBasketball Indonesia diisi oleh para pemain terbaik hasil seleksi nasional. Mereka menjalani program latihan intensif dengan frekuensi tinggi, termasuk diskusi taktik dan simulasi pertandingan. Pasya menyebut dedikasi dan disiplin para pemain tidak perlu diragukan.
“Mereka punya skill dan kapasitas luar biasa. Latihan dan group discussion sudah tidak terhitung jumlahnya. Semua dilakukan demi hasil terbaik,” katanya.
Meski kembali gagal mengalahkan Filipina, Pasya menegaskan perjuangan tim belum selesai. Evaluasi akan menjadi fondasi untuk membangun strategi baru menghadapi kompetisi tahun depan.
Menurutnya, peningkatan kedisiplinan, konsistensi latihan, serta penguatan mental akan menjadi fokus utama pembenahan.
Selain itu, PERBASI berencana memperkuat sinergi dengan komunitas NBA2K Indonesia sebagai basis regenerasi dan pencarian talenta baru.
“Kami akan mendampingi dan mengakomodasi komunitas NBA2K Indonesia. Kami ingin menyusun dan mengembangkan ekosistem agar minat dan semangat para player kembali membara,” ujarnya.
Program penguatan ekosistem akan dimulai dari langkah konkret seperti penyelenggaraan scrim online rutin, turnamen komunitas, hingga pembentukan liga yang terstruktur. Inisiatif ini akan digerakkan langsung oleh anggota timnas yang juga aktif di komunitas.
Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan jalur pembinaan berkelanjutan sekaligus memperluas basis kompetisi domestik.
Dengan ekosistem yang kuat, diharapkan kualitas pemain dan kesiapan tim nasional meningkat secara signifikan.
Dominasi Filipina dalam eFIBA Asia menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Negara tersebut dikenal memiliki komunitas NBA2K yang solid, sistem kompetisi berjenjang, serta dukungan industri yang konsisten. Faktor-faktor itu dinilai menjadi pembeda dalam persaingan regional.
Meski demikian, capaian runner up tetap menjadi modal berharga bagi Timnas eBasketball Indonesia. Konsistensi menembus final menunjukkan potensi besar yang dimiliki skuad Merah Putih untuk bersaing di level Asia.
PERBASI optimistis dengan perencanaan matang dan dukungan ekosistem yang lebih kuat, Indonesia mampu mematahkan dominasi Filipina pada edisi berikutnya.
“Kami tidak berhenti di sini. Target kami jelas, menjadi yang terbaik di Asia. Evaluasi ini adalah langkah awal untuk menyusun formula baru yang lebih kuat,” tegas Pasya.
Dengan persiapan lebih terstruktur, peningkatan kualitas komunitas, serta sinergi antara pemain dan manajemen, Timnas eBasketball Indonesia bertekad kembali tampil kompetitif dan merebut gelar juara pada eFIBA musim mendatang. (AGF/09).









