STIT Al-Khairiyah Cilegon Gelar Workshop “Creative Writing”

STIT Al-Khairiyah
Sebagian dari peserta workshop "Creative Writing" di STIT Al-Khairiyah Cilegon, Provinsi Banten foto bersama usai penutupan kegiatan yang berlangsung pada workshop pada Rabu (3/7/2025) FOTO: HO-STIT Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon.

CILEGON-BANTEN, SUDUTPANDANG.ID – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Khairiyah Citangkil, Cilegon, Provinsi Banten menggelar workshop “Creative Writing” bertema “Hidup Makin Bermakna dengan Menulis” yang telah berlangsung pada 3 Juli 2025 dengan pemateri Asesor Uji Kompetensi Wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (UKW-PWI), Aat Surya Safaat.

Ketua STIT Al-Khairiyah H. Ahmad Munji, M.Pd dalam perbincangan dengan wartawan di Cilegon, Ahad (6/7/2025) menyatakan bersyukur atas kesediaan wartawan senior Aat Surya Safaat menjadi pemateri pada workshop yang dihadiri 40 dosen di sekolah tinggi tersebut.

Ke depan, lanjutnya, workshop “Creative Writing” akan menjadi persyaratan bagi para mahasiswa STIT Al-Khairiyah Cilegon untuk mendapatkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Menurut Ahmad Munji, dalam waktu dekat akan ada penandatangan nota kesepahaman (MoU) yang akan ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara STIT Al-Khairiyah dengan lembaga pers yang di mana wartawan senior Aat Surya Safaat menjadi penasihat.

BACA JUGA  Christo dan Nathan Mendambakan Gelar Perdana

“Ini merupakan payung hukum bagi kerja sama kedua pihak dalam pelaksanaan pelatihan ‘Creative Writing’ untuk para mahasiswa di lingkungan STIT Al-Khairiyah Citangkil Cilegon guna mendapatkan SKPI,” kata Ahmad Munji.

Sementara itu pemateri Aat Surya Safaat pada acara workshop “Creative Writing” menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan STIT Al-Khairiyah dalam pendampingan mahasiswa untuk mendapatkan SKPI.

Ia juga menyatakan kesediaanya membantu pengembangan keterampilan mahasiswa STIT Al-Khairiyah Cilegon di bidang komunikasi, khususnya dalam hal keterampilan menulis sebagai bekal yang sangat berharga untuk menghadapi dunia kerja setelah mereka lulus nanti.

Tak sekadar aktualisasi diri

Sebelumnya, Aat pada workshop “Creative Writing” menekankan bahwa menulis bukan sekadar aktualisasi diri, tetapi lebih dari itu adalah membawa pesan, cita-cita, dan idealisme demi masa depan yang lebih baik, baik bagi penulisnya sendiri maupun bagi lembaga tempatnya mengabdi, bahkan bagi bangsa dan negara.

BACA JUGA  Kementerian PUPR Kebut Perbaikan Jalan Ambles Menuju IKN

Kepala Biro Kantor Berita ANTARA New York 1993-1998 dan Direktur Pemberitaan ANTARA 2016 itu juga menyebutkan bahwa tidak ada istilah terlambat untuk menulis.

Ia memberi contoh seperti Andrea Hirata yang baru mulai menulis di usia 40 tahun dan berhasil dengan karya tulisnya berupa novel “Laskar Pelangi”.

“Karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, menjadi ‘best seller’ dan diangkat ke layar lebar, menginspirasi jutaan orang. Ini menunjukkan bahwa menulis dapat membawa dampak besar pada masyarakat dan menjadi contoh keteladanan bagi generasi muda,” katanya.

Pada bagian lain, penasihat Forum Akademisi Indonesia (FAI) itu menyatakan, khusus di dunia kampus, banyaknya tulisan yang terbit di jurnal ilmiah menjadi salah satu indikator bagusnya kualitas perguruan tinggi yang bersangkutan.

Kampus dimaksud, kata dia, bahkan bisa dikatakan berkelas dunia jika karya dosen dan mahasiswanya disiarkan di banyak jurnal ilmiah internasional, apalagi jika tulisannya bisa disiarkan media massa dalam bentuk tulisan ilmiah populer.

BACA JUGA  Facebook & Instagram Bakal Cabut dari Eropa?

Ia juga mengharapkan para dosen STIT Al-Khairiyah Cilegon yang mengikuti workshop “Creative Writing” bisa menjadi penulis yang baik serta dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Terlebih sekolah tingggi tersebut merupakan institusi pendidikan yang berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan dan mencetak generasi yang berkualitas, demikian Aat Surya Safaat. (PR/02)