Demo Gen Z Guncang Peru, Pemerintah Umumkan Darurat Nasional

Avatar photo
Demo Gen Z Guncang Peru, Pemerintah Umumkan Darurat Nasional
Seorang pengunjuk rasa saat unjuk rasa  menentang pemerintahan Presiden Peru Dina Boluarte di Lima, Peru, Minggu (21/9/2025). (Foto: Reuters)

SUDUTPANDANG.ID – Gelombang aksi demo besar-besaran yang digerakkan oleh generasi muda atau Gen Z mengguncang Peru. Aksi yang awalnya menolak kebijakan dana pensiun kini berubah menjadi gerakan sosial luas yang menekan pemerintah.

Situasi demo gen z yang makin tak terkendali mendorong pemerintah Peru menetapkan status darurat nasional, Jumat (17/10/2025).

Dilansir dari Reuters, unjuk rasa telah berlangsung sejak akhir September 2025 dan terus meluas di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Lima.

Para pengunjuk rasa menuntut pembatalan undang-undang baru yang mewajibkan kaum muda berkontribusi pada dana pensiun swasta.

Kebijakan tersebut dinilai tidak adil karena sebagian besar anak muda bekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial.

Data BBC News menyebutkan, lebih dari 70 persen tenaga kerja Peru bekerja tanpa kontrak tetap atau perlindungan sosial yang layak.

BACA JUGA  Ramadhan 1445 Hijriah, IKWI Pusat Berbagi Bersama Anak Berkebutuhan Khusus dan Yatim

“Kami bukan menolak menabung, tapi bagaimana bisa menabung kalau pekerjaan saja tidak tetap?” teriak seorang pengunjuk rasa di Plaza San Martín, Lima, dikutip dari BBC News.

Selain menolak kebijakan dana pensiun, demonstrasi juga mencerminkan kekecewaan generasi muda terhadap ketimpangan ekonomi dan meningkatnya kekerasan di negara itu.

Dalam enam bulan terakhir, kasus pemerasan dan pembunuhan yang dilakukan kelompok kejahatan terorganisir meningkat tajam.

Kemarahan publik semakin memuncak ketika pada 9 Oktober 2025, parlemen memutuskan memakzulkan mantan Presiden Dina Boluarte melalui sidang darurat. Boluarte, yang menolak hadir dalam persidangan, dituding gagal membendung gelombang kejahatan dan kehilangan kepercayaan publik.

Menurut laporan Al Jazeera, Boluarte dikenal sebagai salah satu pemimpin paling tidak populer di dunia, dengan tingkat penerimaan publik hanya sekitar 2 hingga 4 persen, berdasarkan survei Ipsos Peru.

BACA JUGA  Tenaga Kesehatan Gelar Demo di Gedung DPR

Setelah pemakzulan tersebut, pemerintahan sementara mengumumkan keadaan darurat nasional untuk meredam gelombang protes yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Aparat keamanan dikerahkan di berbagai kota besar untuk menjaga ketertiban dan mencegah bentrokan baru.

Sementara itu, sejumlah pengamat menilai aksi generasi muda Peru ini menjadi simbol kebangkitan sosial baru. Mereka tidak sekadar menolak kebijakan ekonomi, tetapi juga menuntut pembaruan sistem politik dan keadilan sosial yang selama ini dianggap timpang.

Kini, dunia menyoroti Peru sebuah negara di Amerika Latin yang tengah berhadapan dengan amarah generasi muda yang menuntut masa depan lebih adil dan layak.(01)