SUDUTPANDANG.ID – Ketegangan Amerika Serikat (AS) vs Iran kembali meningkat setelah AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dengan menyiagakan ratusan jet tempur serta mengerahkan sejumlah kapal induk.
Langkah AS diambil di tengah memburuknya hubungan dengan Iran dan menguatnya kekhawatiran akan potensi konfrontasi militer langsung.
Dalam konteks AS vs Iran, Amerika Serikat telah memindahkan puluhan jet tempur canggih termasuk F-35 dan F-22 ke pangkalan militer di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir.
Penempatan ini merupakan bagian dari penambahan kekuatan udara paling besar di kawasan sejak konflik besar terakhir di wilayah itu, dengan lebih dari 60 jet tempur terpantau di pangkalan seperti Yordania, yang jumlahnya tiga kali lipat dari biasanya, serta dukungan pesawat pengisian bahan bakar dan drone pengintai yang memperkuat kesiapan militer AS.
Selain itu, dalam ketegangan AS vs Iran ini, Angkatan Laut AS telah mengerahkan dua kelompok kapal induk termasuk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford serta kapal-kapal perang pendukung ke perairan Timur Tengah.
Kehadiran dua kapal induk sekaligus, bersama puluhan pesawat dan alat perang lainnya, memberi Washington fleksibilitas baik untuk operasi pertahanan maupun potensi operasi ofensif sambil diplomasi nuklir masih berlangsung secara berhati-hati.
Dilansir dari Axio, Minggu (22/2/2026), Pejabat Senior AS menyatakan bahwa Presiden Trump akan siap menerima kesepakatan yang substansial dan yang dapat ia jual secara politis di dalam negeri.
“Jika Iran ingin mencegah serangan, mereka harus memberi kita tawaran yang tidak dapat kita tolak. Iran terus melewatkan kesempatan. Jika mereka bermain-main, tidak akan ada banyak kesabaran,” kata pejabat senior AS tersebut.
Militer AS telah memobilisasi sejumlah besar pesawat tempur, termasuk jet-jet generasi terbaru, dan memposisikan mereka di pangkalan-pangkalan di dekat wilayah Iran sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai penguatan kesiapsiagaan.
Penggunaan kekuatan udara ini merupakan yang terbesar di kawasan sejak beberapa dekade terakhir.
Ambang ketegangan meningkat ketika Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi militer terhadap Teheran jika perundingan nuklir tidak mencapai hasil yang diinginkan.
Amerika Serikat bahkan dilaporkan siap melancarkan serangan dalam waktu dekat jika Iran tidak menyetujui persyaratan baru yang diajukan Washington.
Selain jet tempur, kekuatan Angkatan Laut AS juga diperkuat. USS Abraham Lincoln telah berada di perairan Arab sejak beberapa minggu lalu, sementara USS Gerald R. Ford dilaporkan sedang memasuki Laut Mediterania dalam pergerakan menuju kawasan itu.
Kehadiran dua kapal induk sekaligus menunjukkan penekanan militer yang belum pernah terjadi sejak konflik besar sebelumnya.
Penempatan jet tempur dan dukungan logistik udara juga dilakukan dengan cepat. Puluhan pesawat jet, termasuk F-35 dan F-22, terlihat makin banyak di pangkalan udara di Yordania dan negara-negara sekitar sebagai bagian dari penguatan udara regional.
Iran Menolak
Di sisi lain, Iran menyatakan sikap tegas menolak tekanan militer tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada intimidasi luar dan siap menghadapi segala bentuk ancaman.
Pernyataan Presiden Iran ini disampaikan di tengah wacana serangan yang semakin menguat.
Para ahli menilai bahwa meskipun diplomasi masih berlangsung, langkah militer yang intensif ini mencerminkan ketidakpastian situasi dan kekhawatiran akan eskalasi konflik berskala besar. Opsi militer tetap berada di atas meja sambil proses negosiasi terus berjalan.(red)









