Harmoni dalam Perbedaan, Tri Adhianto Buka Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi

Tri Adhianto saat Buka Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi di Bekasi (Foto Istimewa)

Bekasi, Sudutpandang.id – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Bekasi berlangsung khidmat sekaligus meriah. Rangkaian kegiatan dipusatkan di Pura Agung Tirta Buana, Kelurahan Jakasampurna, yang dipadati umat Hindu dan masyarakat yang turut menyaksikan momen penuh makna tersebut.rabu18/3/26

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, hadir langsung dan secara resmi membuka pawai ogoh-ogoh yang menjadi daya tarik utama dalam perayaan ini. Kehadirannya disambut antusias oleh warga yang menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh dengan berbagai bentuk dan karakter unik.

Pawai ogoh-ogoh sendiri merupakan bagian dari prosesi Bhuta Yajna, sebuah ritual penting dalam ajaran Hindu yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam semesta.

BACA JUGA  Peringati HUT Asahan ke-77, Bupati Gelar Rapat Rakorpem Bulan Maret 2023

Ogoh-ogoh yang diarak melambangkan sifat-sifat negatif manusia, seperti amarah, keserakahan, dan hawa nafsu, yang harus disucikan menjelang Nyepi.
Suasana semakin semarak ketika ogoh-ogoh diarak keliling dengan iringan musik tradisional dan partisipasi generasi muda. Selain menjadi ritual keagamaan, pawai ini juga menjadi ruang ekspresi budaya yang memperkuat identitas serta kebersamaan umat Hindu di tengah kehidupan kota yang majemuk.

Dalam sambutannya, Tri Adhianto mengapresiasi semangat toleransi dan kebersamaan yang terus terjaga di Kota Bekasi. Ia menegaskan bahwa perayaan Nyepi bukan hanya menjadi momen ibadah bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi simbol kuat harmoni antarumat beragama.

“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirawat dalam semangat saling menghormati. Inilah kekuatan Kota Bekasi, di mana toleransi hidup dan tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA  Respons Cepat Bupati Trenggalek Soal Keluhan Pelayanan RSUD dr. Soedomo

Di tengah suasana bulan suci Ramadan, semangat toleransi tersebut semakin terasa hangat. Berbagai perayaan lintas budaya dan agama, mulai dari Cap Go Meh hingga Nyepi, menunjukkan bahwa keberagaman di Kota Bekasi bukan menjadi penghalang, melainkan fondasi dalam membangun harmoni sosial yang damai dan berkelanjutan.
(Egi)