SIMALUNGUN-SUMUT|SUDUTPANDANG.ID – Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo menguji pemanfaatan serangga penyerbuk unggul asal Tanzania, Afrika Timur, sebagai upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional.
Uji coba tersebut dilakukan di Kebun Marihat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, sebagai lokasi percontohan. Program ini ditujukan untuk mengatasi tantangan dalam pembentukan buah atau fruit set yang selama ini dinilai belum optimal.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan inovasi berbasis riset diperlukan untuk meningkatkan efisiensi di tengah persaingan industri sawit global yang semakin ketat.
Menurut Jatmiko, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa proses penyerbukan alami tidak selalu berjalan optimal akibat faktor cuaca dan keterbatasan populasi serangga penyerbuk lokal.
“Selama ini kami masih mengandalkan penyerbukan manual untuk menjaga produktivitas, namun metode tersebut membutuhkan biaya dan tenaga kerja yang cukup besar,” ujar Jatmiko dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
Melalui introduksi serangga penyerbuk dari Afrika, perusahaan berupaya mengoptimalkan kembali mekanisme penyerbukan alami. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga stabilitas produksi secara berkelanjutan.
Kualitas Penyerbukan
Secara terpisah, SEVP Operation PTPN IV, Rediman Silalahi, menjelaskan bahwa kualitas penyerbukan sangat memengaruhi struktur tandan buah sawit.
Ia menyebut, penyerbukan yang tidak sempurna dapat menyebabkan fenomena “buah ompong”, yakni kondisi ketika sebagian buah tidak berkembang secara optimal sehingga berdampak pada penurunan produksi per hektare.
Dengan kehadiran spesies penyerbuk dari Tanzania, tingkat keberhasilan penyerbukan diharapkan meningkat, sehingga pembentukan buah menjadi lebih merata.
Selain berpotensi meningkatkan produksi, inovasi ini juga dinilai dapat menekan biaya operasional, khususnya yang selama ini digunakan untuk penyerbukan manual.
Program di Marihat ini akan dijadikan proyek percontohan untuk pengembangan lebih luas di berbagai wilayah perkebunan sawit di Indonesia.
Keberhasilannya diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan standar operasional baru, termasuk untuk mendukung produktivitas kebun rakyat.
Program tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Badan Karantina Indonesia, serta lembaga riset dan asosiasi industri sawit.
Melalui kolaborasi tersebut, inovasi yang dikembangkan diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat keberlanjutan industri sawit nasional di tengah dinamika pasar global.(PR/01)










