JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Tokoh reformasi 1998 yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) sejak 3 Oktober 1999 hingga 30 September 2004, Prof Dr M Amien Rais menyerukan agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dipertahankan hingga masa baktinya selesai pada 2029.
“Saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air, bahwa ritme pergantian ritme kekuasaan 5 tahun sekali, sesuai Undang Undang Dasar Republik Indonesia 1945 harus kita pertahankan supaya tidak ada pemerintahan pusat yang diturunkan di tengah jalan,” katanya dalam kanal Youtube resmi Amien Rais Official yang dikutip sudutpandang.id di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
“Ini prinsip penting yang harus kita pegang, kecuali ada alasan yang bersifat extraordinary yang sangat istimewa, seperti misalnya sang presiden atau wakilnya, terbukti melakukan tindak pidana berat, seperti membocorkan rahasia negara ke pihak asing demi mendapat imbalan materi atau keuangan, sehingga hakikatnya presiden dan wakilnya telah menjual negara ke pihak asing,” tambah pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Ummat itu.
Atau juga, kata dia, misalnya presiden dan wakilnya, tersangkut skandal moral yang menodai kebersihan kursi presiden atau wakil presiden.
Amien Rais juga menceritakan mengingat pengalaman politik di masa lalu, ada 6 presiden bergonta-ganti dan semuanya menguras energi nasional.
“Maka Presiden Prabowo kita berikan ‘fair chance’, kesempatan yang wajar. Biarlah beliau bekerja sekeras-kerasnya untuk mewujudkan cita-citanya sampai 20 Oktober 2029. Kita main fair dan, ya… yang masuk akal sajalah, ya,” katanya.
Ia bahkan menyebut delapan asta cita yang digagas Presiden Prabowo untuk diimplementasikan dalam bentuk program kerja.
Adapun, delapan asta cita tersebut mencakup penguatan demokrasi Pancasila, pemenuhan hak asasi manusia, penguatan pertahanan-keamanan, penciptaan lapangan kerja, hingga kesetaraan gender.
Pada bagian lain, Amien Rais juga menyoroti bahwa secara politik,kondisi bangsa Indonesia, yang disebutnya bukan hanya tidak baik-baik saja, namun semakin bergerak eksklusif secara sosial politik.
Hal lain yang disorot yakni masalah pengangguran terbuka dan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di berbagai sektor.
“Saya sering mendatangi pengajian-pengajian di beberapa kota di Yogyakarta dan juga Jawa Tengah, saya sempat melihat suasana lesu, apalagi di pasar-pasar tradisional. Jadi, banyak pasar-pasar tradisional setelah jam 09.00 pagi sudah sepi pembeli,” katanya
Atas kondisi itu, ia menyarankan kepada pemerintah untuk mengurangi suasana pesta pora para menteri, terutama Pak Prabowo, jangan pernah joget-joget lagi dan sempat difoto.
“Begitu adegan-adegan bermewah-mewah sampai disiarkan ke publik, reaksi rakyat kita seragam, yaitu marah dan mengumpat. Nah, sementara saya kira itu dulu,” demikian M Amien Rais. (Red/02)










