JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Transformasi digital yang semakin cepat mendorong kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) yang menguasai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan automation.
Menjawab tantangan tersebut, UiPath bersama Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) berhasil memberdayakan lebih dari 50.000 peserta melalui program Enablement AI dan Automation, sebuah inisiatif peningkatan keterampilan digital yang ditujukan untuk mempersiapkan talenta Indonesia menghadapi perubahan dunia kerja berbasis AI.
Capaian tersebut diraih hanya dalam enam bulan dan telah memenuhi setengah dari target pelatihan 100.000 talenta digital Indonesia.
Program ini menjadi salah satu langkah nyata kedua perusahaan dalam mendukung percepatan transformasi digital nasional sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah berkembangnya teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Pesatnya adopsi AI di berbagai sektor membuat kebutuhan terhadap keterampilan digital tidak lagi menjadi nilai tambah, melainkan kompetensi utama yang dibutuhkan di dunia kerja modern.
Kehadiran teknologi automation juga memungkinkan berbagai proses bisnis berjalan lebih efisien sehingga pekerja dapat lebih fokus pada aktivitas yang membutuhkan kreativitas, analisis, dan pengambilan keputusan.

Regional Vice President and Managing Director Southeast Asia UiPath, Amit Khandelwal, mengatakan tingginya jumlah peserta menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin sadar pentingnya menguasai keterampilan AI dan automation sebagai bekal menghadapi perubahan industri.
Menurutnya, perusahaan di berbagai sektor kini terus bertransformasi dengan mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis. Kondisi tersebut mendorong tenaga kerja untuk meningkatkan kompetensi agar tetap relevan di masa depan.
“Semakin banyak organisasi mengadopsi AI dan automation, semakin besar pula kebutuhan terhadap talenta yang memiliki keterampilan digital praktis. Kami bangga dapat bekerja sama dengan Indosat untuk menghadirkan pembelajaran yang mudah diakses sehingga lebih banyak masyarakat Indonesia mampu meningkatkan produktivitas, berinovasi, dan berkontribusi dalam ekonomi digital,” ujar Amit.
Sementara itu, Director and Chief Strategy & Execution Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Honesti Basyir, menilai automation akan menjadi salah satu fondasi penting dalam dunia kerja masa depan.
Menurutnya, kolaborasi antara manusia dan teknologi akan menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menyelesaikan tantangan bisnis yang semakin kompleks.
“Di tengah berkembangnya AI dan Agentic Automation, kemampuan memahami automation menjadi bekal penting bagi individu maupun organisasi. Antusiasme lebih dari 50.000 peserta membuktikan bahwa masyarakat Indonesia ingin terus meningkatkan kompetensi digital agar siap menghadapi perubahan dunia kerja,” kata Honesti.
Program Enablement AI dan Automation dirancang menggunakan metode pembelajaran yang mudah diikuti, bahkan bagi peserta yang belum memiliki latar belakang teknologi informasi.
Melalui pendekatan beginner-friendly, peserta diperkenalkan pada konsep dasar AI, automation, hingga penerapan teknologi tersebut dalam aktivitas sehari-hari maupun lingkungan kerja.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghilangkan anggapan bahwa AI hanya dapat dipelajari oleh tenaga teknis atau programmer.
Sebaliknya, peserta diajak memahami bagaimana teknologi mampu membantu menyederhanakan pekerjaan yang berulang sehingga meningkatkan efisiensi kerja.
Data penyelenggara menunjukkan program ini mendapat respons positif dari generasi muda. Sebanyak 75,6 persen peserta berasal dari kelompok usia 21 hingga 30 tahun, sementara 21,8 persen berusia 15 hingga 20 tahun. Adapun peserta berusia 31–40 tahun tercatat sebesar 1,5 persen, sedangkan kelompok usia di atas 40 tahun mencapai 1,1 persen.
Dominasi peserta usia produktif tersebut menunjukkan bahwa AI dan automation mulai dipandang sebagai keterampilan penting untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja yang semakin terdigitalisasi.
Dari sisi latar belakang peserta, mayoritas merupakan mahasiswa dengan persentase 74,6 persen. Selain itu, terdapat pelajar sebesar 16,4 persen, fresh graduate 5,2 persen, karyawan dan profesional 3,5 persen, serta peserta dari kategori lain sebanyak 0,2 persen.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan mempelajari AI telah menjangkau berbagai kelompok, mulai dari pelajar yang tengah mempersiapkan karier hingga profesional yang ingin meningkatkan kompetensi sesuai perkembangan teknologi.
Program ini tidak berhenti pada tahap pengenalan konsep. UiPath dan Indosat juga merancang jalur pembelajaran yang berkelanjutan agar peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penerapan AI dan automation di dunia kerja.
Materi pelatihan mencakup dasar-dasar Artificial Intelligence, automation, konsep Agentic AI, hingga pengenalan peran citizen developer, yakni individu non-programmer yang mampu membangun solusi automation untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan.
Peserta juga memperoleh kesempatan mempraktikkan keterampilan melalui UiPath Studio Web, platform berbasis cloud yang memungkinkan pengguna membuat, menguji, dan mengembangkan robot automation tanpa harus memiliki kemampuan pemrograman tingkat lanjut.
Agar dapat menjangkau peserta dari berbagai daerah di Indonesia, proses pembelajaran dilakukan melalui webinar interaktif dan sistem Learning Management System (LMS).
Model pembelajaran digital tersebut memungkinkan siapa pun mengikuti pelatihan secara fleksibel tanpa terkendala lokasi.
Sebagai tahap akhir, peserta didorong mengikuti hackathon untuk mengembangkan solusi berbasis AI dan automation yang mampu menjawab berbagai tantangan nyata di dunia kerja maupun lingkungan sosial.
Melalui kompetisi tersebut, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar menerapkan teknologi menjadi inovasi yang memiliki manfaat langsung.
UiPath dan Indosat menegaskan bahwa program ini akan terus berlanjut hingga mencapai target 100.000 peserta.
Dengan semakin banyak talenta yang menguasai AI dan automation, kedua perusahaan berharap Indonesia memiliki SDM digital yang lebih kompetitif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mempercepat transformasi digital nasional menuju ekonomi berbasis inovasi. (09/AGF).










