Akibat El Nino, BMKG: Musim Hujan 2026-2027 di Indonesia Mundur Dibanding Rata-Rata Klimatologisnya

El Nino
Warga menggembala ternak di persawahan yang kering terdampak musim kemarau di Desa Wening Galih, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat di Jawa Barat mencapai puncak kekeringan pada September-Oktober, dan hujan diprediksi mulai turun secara bertahap pada November. FOTO: HO-Yulius Satria Wijaya/Ant

JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID – Akibat pengaruh fenomena El Nino yang sangat kuat, awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat atau mundur dibandingkan kondisi rata-rata klimatologisnya, demikian prakiraan yang dikemukakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat di 529 zona musim atau mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Selasa(22/9/2026).

Pada konferensi pers, ia menyatakan bahwa fenomena anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik menunjukkan nilai +2,63 yang menandakan El Nino kategori sangat kuat dan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.

BACA JUGA  Dorong Produktivitas, Bupati Asahan Raih Anugerah Siddhakarya

Disebutkannya bahwa awal musim hujan akan berlangsung secara bertahap, diawali pada November 2026 sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) atau 24,66 persen luas daratan, disusul Desember 2026 sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan.

Ia menambahkan meskipun kedatangannya terlambat, akumulasi curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori normal.

Sedangkan untuk puncak musim hujan, BMKG memproyeksikan akan terjadi secara bergelombang mulai Desember 2026 di 155 ZOM (36,94 persen daratan), Januari 2027 di 162 ZOM (25,68 persen daratan), hingga Februari 2027 di 190 ZOM (16,79 persen daratan).

Lalu, untuk durasi musim hujan di 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi akan berlangsung lebih pendek dari kondisi normalnya.

BACA JUGA  Usai Santap Makanan Berkat Pengajian, Puluhan Warga di Jombang Mual-Muntah

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan sektor strategis untuk memanfaatkan kedatangan musim hujan guna mengisi waduk serta memperluas area tanam, sembari meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.

“Namun demikian bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat,” katanya.

“Karena itu kami berharap informasi ini dapat diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret, sehingga masyarakat dan para pemangku kepentingan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko, tapi juga mampu memanfaatkan peluang yang hadir seiring dinamika iklim yang akan terjadi,” demikian Teuku Fasial Fathani. (red/ant/02)