MRC: dari Perjalanan Keluarga Menjadi Kebersamaan di Jalan

MRC
MRC: dari Perjalanan Keluarga Menjadi Kebersamaan di Jalan (Foto: SP)

SUKABUMI, SUDUTPANDANG.ID – Perjalanan dengan sepeda motor tidak selalu tentang kecepatan atau seberapa jauh jarak yang ditempuh. Bagi Manja Rider Community (MRC), perjalanan justru menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, menikmati alam, menemukan tempat-tempat baru, sekaligus mempererat hubungan antar sesama.

Komunitas yang berkembang di lingkungan rider Jabodetabek ini bermula dari perjalanan sederhana sebuah keluarga. Menurut penuturan Ketua MRC, Jihan Ibnu, kisah tersebut dimulai pada 2015 ketika dirinya bersama sang istri, Ericha Putri, kerap melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor menuju sejumlah wilayah seperti Puncak, Cariu hingga Sukabumi.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang setelah Wira Fernandez, sepupu dekat Jihan, ikut dalam perjalanan. Dari kebersamaan yang awalnya hanya melibatkan tiga orang, MRC perlahan tumbuh dan pada 2026 telah beranggotakan sekitar 40 orang.

Bagi MRC, perjalanan bukan sekadar mencapai tempat tujuan. Jalur yang dilalui, pemandangan sepanjang perjalanan, tempat beristirahat, hingga berbagai tempat persinggahan menjadi bagian dari pengalaman yang tidak kalah penting.

Pantai, pegunungan, kawasan adat, objek wisata, penginapan, hotel, homestay, vila, warung, restoran hingga kafe menjadi bagian dari jejak perjalanan komunitas tersebut.

Semangat kebersamaan menjadi karakter yang terus dibangun MRC. Ungkapan “Tetap Satu Keluarga” menjadi salah satu identitas yang melekat dalam berbagai materi komunitas.

Sementara itu, identitas “MRC – No One Knows” dikembangkan untuk memperkuat karakter adventure dan enduro yang menjadi bagian dari ekspresi komunitas.

Kegiatan menjelajah menjadi salah satu cara MRC memperkenalkan pengalaman berkendara sekaligus menikmati berbagai potensi destinasi kepada sesama penghobi motor, khususnya dalam lingkungan adventure dan dual purpose.

BACA JUGA  Bea Cukai Tanjung Priok Gelar Leaders Talk dengan Stakeholder

Dari perjalanan yang dilakukan, MRC mengabadikan berbagai pengalaman melalui dokumentasi visual yang menjadi bagian dari perjalanan komunitas.

Dalam penuturan Jihan, perjalanan MRC selama 2015–2026 telah menjangkau berbagai wilayah, terutama Bogor, Banten dan Sukabumi, serta sejumlah daerah lain di Jawa Barat.

Di kawasan Bogor dan sekitarnya, sejumlah lokasi yang disebut dalam catatan perjalanan antara lain Puncak Ciawi, Cisarua, Ciloto, Cipanas, Leuwiliang, Jasinga, Kota Bogor, Caringin, Cariu, Gunun Batu, Cihideung, Cibubur, Dermaga IPB, Cianten, Kebun Teh Nirmala, Cikaniki hingga Citalahab.

Perjalanan juga membawa MRC menyusuri sejumlah destinasi di Banten, seperti Pantai Carita, Pantai Tanjung Lesung, Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peutjang, Anak Gunung Krakatau, Pantai Bagedur, Citorek dan Sawarna.

Sementara di Sukabumi, jejak perjalanan yang disebut meliputi Pelabuhan Ratu, Cikidang, Kasepuhan Sinaresmi, Cipta Mulya, Cipta Rasa, Ciptagelar, Gelaralam, Ciletuh, Jampang Surade, Loji, Kota Sukabumi, Goa Buniayum, Situ Gunung, Pondok Halimun, Selabintana hingga Ujung Genteng dan Penangkaran Penyu Ujung Genteng.

Eksplorasi MRC juga disebut menjangkau Cianjur, Ciwidey, Rancabali, Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Cimahi, Bandung, Subang, Ciater atau Sariater hingga kawasan Tangkuban Perahu.

Dalam catatan perjalanan komunitas, wilayah Badui di Banten disebut sebagai salah satu kawasan yang hingga kini belum dikunjungi MRC.

Pertumbuhan MRC tidak terlepas dari peran sejumlah anggota yang memiliki tanggung jawab dalam berbagai bidang.

Selain Jihan Ibnu sebagai Ketua, terdapat Nurul Kurnaen sebagai Juru Bicara, Wira Fernandez sebagai Koordinator Tim Peralatan dan Dokumentasi, Arifin Ghetto sebagai Koordinator Tim Sapu Jagad, serta Iwan Peyek sebagai Koordinator Tim Rute Perjalanan dan Evakuasi.

BACA JUGA  Irish Bella Umumkan Hamil Anak dari Haldy Sabri, Baby Bump Perdana Bikin Haru

Bidang kesehatan dikoordinasikan oleh dr. Estetika Yuli Asterini, Sp.FK, sementara Zidan-Zikra dipercaya sebagai Koordinator Tim Mekanik.

Sejumlah anggota inti yang disebut dalam perjalanan MRC antara lain Oktaziska, Jumala, Setiawan, Fariz, almarhum Bambang Pramono dan Bunyamin.

Nama almarhum Bambang Pramono juga tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan komunitas. Bagi MRC, setiap anggota memiliki tempat dalam sejarah kebersamaan yang dibangun sejak komunitas tersebut mulai tumbuh.

Dalam perkembangannya, pergaulan MRC juga terhubung dengan lingkungan komunitas rider di kawasan Jabodetabek. Menurut Jihan, hubungan tersebut antara lain terjalin melalui keanggotaannya di IRA (Indonesia Ride Adventure), MBC Bogor, Void Chapter Bogor dan Ontahood Chapter Bogor.

Keterangan tersebut menggambarkan jejaring pergaulan komunitas dan tidak dimaksudkan sebagai pernyataan mengenai adanya kemitraan resmi antar lembaga atau komunitas.

MRC memiliki identitas visual berupa lambang perisai berwarna hitam-oranye dengan tulisan MOTOR, MANJA – RIDER, COMMUNITY.

Berbagai materi visual yang dikembangkan komunitas mencakup logo, ilustrasi sepeda motor, foto kebersamaan, banner, pola panel jersey serta sejumlah desain apparel yang pernah digunakan.

Dalam pengembangan identitas MRC – No One Knows, unsur visual yang ditampilkan antara lain huruf MRC berukuran besar, pegunungan, kompas serta perpaduan aksen merah, putih dan navy atau hitam.

BACA JUGA  Tekan angka Stunting, Satgas TMMD ke-122 Gelar Pelayanan KB

Desain jersey MRC juga memperlihatkan beragam karakter, mulai dari ornamen putih-biru, pola geometris, motif kontur atau topografi, ilustrasi motor adventure hingga karakter enduro dengan kombinasi warna biru, merah dan putih.

Nama merek yang terlihat dalam sejumlah desain visual tersebut tidak dinyatakan sebagai sponsor resmi dalam profil komunitas ini.

Menurut keterangan Jihan pada September 2026, MRC masih berada dalam tahap deklarasi komunitas dan belum diformalkan melalui legalitas badan hukum tertentu.

Meski demikian, perjalanan yang telah dilalui selama lebih dari satu dekade menjadi bagian penting dari identitas MRC. Dari awalnya hanya perjalanan keluarga, komunitas ini berkembang menjadi ruang kebersamaan bagi para rider yang memiliki kegemaran terhadap perjalanan, eksplorasi dan pengalaman baru di jalan.

Bagi MRC, motor menjadi sarana untuk bertemu dengan banyak tempat dan orang. Jalan menjadi ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, saling membantu, serta menjaga kebersamaan.(PR/04)