BIFF 2026 di Samarinda Buka Jalan Fashion Borneo Menuju Panggung Global

Biff
BIFF 2026 di Samarinda Buka Jalan Fashion Borneo Menuju Panggung Global (Foto: Ist)

SAMARINDA, SUDUTPANDANG.ID – Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026 resmi membuka rangkaian fashion show di Samarinda, Kalimantan Timur. Mengusung tema “From Borneo, For the World”, perhelatan ini tidak hanya menjadi panggung mode, tetapi juga ruang pertemuan budaya, komunitas, kreativitas, dan peluang bisnis.

BIFF 2026 digagas oleh Yulia Hadi, Founder sekaligus Chairwoman BIFF 2026. Festival tersebut dirancang untuk membuka akses lebih luas bagi fashion designer, artisan, pelaku UMKM, hingga generasi kreatif Borneo agar dapat membawa karya mereka menembus pasar nasional dan internasional.

Dalam sambutannya, Yulia mengungkapkan bahwa perjalanan BIFF berawal dari Pandawi Wastra Borneo, brand yang lahir dari kecintaannya terhadap budaya dan karya lokal Borneo.

Melalui Pandawi, berbagai cerita, wastra, dan kreativitas Kalimantan mulai diperkenalkan ke pasar Australia. Perjalanan itu kemudian mempertemukan Yulia dengan semakin banyak desainer, artisan, pelaku UMKM, serta talenta muda yang memiliki karya kuat, tetapi masih membutuhkan akses dan kesempatan untuk berkembang.

“Hari ini menjadi momen yang sangat berarti bagi saya, karena BIFF berawal dari sebuah perjalanan sederhana dan satu keyakinan: What we have in Borneo deserves to be seen by the world,” ujar Yulia Hadi dalam keterangan tertulisnya, pada Senin (5/10/2026).

“They have the talent. They have the story. What they need is access and opportunity. Dan dari semangat itulah Borneo International Fashion Festival lahir,” lanjutnya.

BIFF 2026 dirancang sebagai ekosistem yang menghubungkan culture, community, creativity, and business.

BACA JUGA  Ketua DPRD Turun Langsung Bagikan Takjil, Semarakkan Ramadan dan HUT ke-29 Kota Bekasi

Salah satu program yang telah dilakukan adalah Business Matching bersama pelaku UMKM di Penajam dan Samarinda. Program tersebut menjadi ruang pertemuan untuk membahas pengembangan produk lokal, mempertemukan pelaku usaha dengan buyer maupun mitra potensial, serta mempersiapkan produk lokal menuju pasar yang lebih luas.

Menurut Yulia, upaya membawa karya Borneo ke pasar global tidak berarti harus menghilangkan identitas daerah.

“Going global doesn’t mean leaving our identity behind. Our identity is our strength.”

Melalui konsep tersebut, koneksi Indonesia dan Australia menjadi salah satu bagian penting dari visi BIFF. Festival ini ingin mempertemukan artisan dengan desainer, UMKM dengan buyer, serta kekayaan budaya lokal dengan peluang bisnis internasional.

Mengusung semangat Hari Batik Nasional, BIFF 2026 juga menjadi momentum untuk mengapresiasi kekayaan batik dan wastra Nusantara.

Panggung BIFF memberikan kesempatan bagi perancang busana, artisan, pengrajin lokal, dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas.

Warisan budaya tidak hanya ditampilkan sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi juga didorong agar terus berkembang dan memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Panggung BIFF 2026 menghadirkan karya kreator dan desainer dari berbagai daerah. Mereka berasal dari Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Bontang dan wilayah Kalimantan Timur lainnya.

Partisipasi juga datang dari Bali, Jakarta hingga Melbourne, Australia.

Pada Opening Ceremony, Sabtu, 3 Oktober 2026, sejumlah brand dan kreator yang tampil antara lain Batik Melayu Kutai, Karai, Ida Syachruni, NURM Collection, Ekraf Kutai Kartanegara x Made by GIA, Dekranasda Kalimantan Timur, Pandawi Wastra Borneo, Laxmee x Halita Moda, Pihar Design Collection, DS Entertainment, Yenne Hakim, Nusantara by Arien x Black Ink, serta Zahira by Koyko.

BACA JUGA  PGRI Kota Pasuruan Luncurkan PGRI POWER, Perkuat Gerakan 1 Juta Guru Mahir Koding dan AI

Rangkaian acara berlanjut pada Minggu, 4 Oktober 2026 melalui dua parade.

Parade pertama menghadirkan karya dari institusi pendidikan dan pelaku kreatif, di antaranya SMK Negeri 14 Samarinda, SMK Negeri 1 Sangatta Utara, Ishana Bali, CC Modelling, SMK Negeri 4 Balikpapan, dan SMK Negeri 3 Samarinda.

Sementara parade kedua menghadirkan Javabor, Kekean Wastra Gallery, The Raftykha, Batik Beras Basah, Rizal Fashion Style, Tahura Paser Nature, Dekranasda Kutai Timur, AEMTOBE, dan Pandawi Wastra Borneo.

BIFF 2026 juga tidak hanya menampilkan koleksi ready-to-wear dan wastra. Panggung festival turut dimeriahkan Carnival Show dari Jember, Jawa Timur, yang membawa karakter visual dan kreativitas berbeda dalam perayaan mode dan budaya di Samarinda.

Opening Ceremony BIFF 2026 turut dihadiri sejumlah tamu VVIP dan undangan, termasuk Hj. Wahyu Hernaningsih, S.E. selaku Wakil Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Timur, serta Ir. Stifarisyah Yana, M.Si. selaku Staf Ahli Bidang II Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Provinsi Kalimantan Timur.

Turut hadir jajaran Forkopimda Provinsi Kalimantan Timur serta ketua Dekranasda kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

BIFF 2026 juga menyambut sejumlah nama dari industri fashion dan budaya Indonesia, seperti Musa Widiatmodjo, Ayu Dyah Pasha, dan Ami Wirabudi. Kehadiran mereka bersama fashion enthusiast, media, komunitas kreatif, dan stakeholder turut memperkuat atmosfer festival.

BACA JUGA  FKUB Sumenep Sebut Kegiatan Sosial di Hari Bhayangkara ke - 79 Bukti Nyata Polri Untuk Masyarakat

Sementara itu, rangkaian acara semakin istimewa dengan sambutan penutup pada closing ceremony dari Lucia Hou, International Delegation of Melbourne, Australia.

Kehadiran Lucia memperkuat semangat kolaborasi Indonesia-Australia yang menjadi salah satu bagian penting perjalanan BIFF, sekaligus membuka peluang koneksi lebih luas antara pelaku industri kreatif Borneo dan jejaring internasional.

Ke depan, BIFF menargetkan diri menjadi platform global berbasis tujuan yang mampu menghubungkan budaya, komunitas, dan bisnis.

Yulia menilai visi tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sektor swasta, komunitas, media, hingga pelaku industri kreatif.

“Today, we are not only opening a fashion festival. We are opening a bridge from local to global, from heritage to the future,”

Melalui BIFF 2026, para artisan, pengrajin lokal, pelaku UMKM, dan fashion designer diajak untuk lebih berani memperkenalkan karya mereka kepada dunia.

“Welcome to Borneo International Fashion Festival 2026. From Borneo, For the World,” tutup Yulia Hadi.(04)