SUDUTPANDANG.ID – Lebih dari 500 orang terluka dan sedikitnya 1.435 orang ditangkap dalam demonstrasi gerakan Rompi Kuning di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (24/10/2026). Aksi yang dipicu protes terhadap kenaikan biaya hidup itu juga mendorong pemerintah mempertahankan pembatasan jam malam parsial di sejumlah wilayah.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyampaikan data tersebut dalam wawancara dengan saluran televisi BFMTV pada Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, korban luka mencakup 267 petugas penegak hukum dan lebih dari 250 demonstran.
Meski terjadi banyak korban luka dan penangkapan, Nunez menyatakan bahwa demonstrasi pada Sabtu tidak menimbulkan insiden besar.
Namun, tiga orang dilaporkan mengalami luka serius di Toulouse, Reims, dan Clermont-Ferrand.
Pemerintah Prancis memutuskan untuk melanjutkan pembatasan jam malam parsial di sejumlah lokasi guna mengantisipasi potensi gangguan terhadap ketertiban umum.
Nunez mengatakan, otoritas prefektur memiliki kewenangan untuk memberlakukan pembatasan tersebut apabila situasi dinilai berisiko menimbulkan gangguan keamanan.
Pembatasan jam malam masih berlaku di sekitar 10 lokasi di seluruh Prancis. Pelaksanaannya akan dilanjutkan oleh otoritas prefektur dengan berkoordinasi bersama pemerintah kota setempat.
“Situasi tidak akan banyak berubah dalam beberapa hari ke depan,” kata Nunez.
Ia juga menanggapi bentrokan yang melibatkan kelompok penentang gerakan Rompi Kuning di Nice dan Montpellier pada Sabtu (24/10/2026).
Nunez menegaskan bahwa kepolisian tidak memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok tersebut.
Selain itu, ia mengakui adanya kesalahan dalam penanganan demonstrasi Rompi Kuning pada 17 Oktober.
Pengakuan tersebut muncul setelah pemerintah menghadapi gelombang demonstrasi sebelumnya yang diwarnai kerusuhan dan penangkapan dalam jumlah besar.
Serangan Bermotif Rasial
Di luar penanganan demonstrasi, Nunez turut menyoroti serangan yang terjadi di Trappes, wilayah Yvelines, pada Jumat (23/10).
Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai tindakan terorisme bermotif rasial.
“Apa yang terjadi di Trappes sangatlah serius. Itu adalah serangan teroris yang rasis,” ujarnya.
Menurut Nunez, pelaku didorong oleh kebencian terhadap orang-orang yang berasal dari luar Prancis dan dianggapnya tidak seharusnya diintegrasikan ke dalam masyarakat Prancis.
Ia menegaskan bahwa dugaan pelaku mengalami skizofrenia tidak mengubah penilaiannya terhadap karakter serangan tersebut.
“Dia didorong oleh kebencian dan rasisme, dan itulah alasan dia melakukan pembunuhan. Ini adalah terorisme,” kata Nunez.
Pernyataan itu menunjukkan sikap pemerintah Prancis yang menekankan dugaan motif kebencian rasial dalam kasus Trappes, terlepas dari kemungkinan kondisi kesehatan mental pelaku.(Red)











