JAKARTA, SUDUTPANDANG.ID — Mengikuti Merdeka Run 2026 menjadi bagian dari persiapan Anggi menghadapi tantangan yang lebih besar, yakni half marathon pada September mendatang.
Bagi pelari disabilitas tersebut, ajang lari dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar perlombaan, tetapi juga kesempatan untuk menguji kesiapan fisik, melatih mental, dan menjaga konsistensi latihan.
Anggi akan menjadikan Merdeka Run 2026 sebagai salah satu tolok ukur sebelum menghadapi half marathon. Ia ingin memanfaatkan perlombaan tersebut untuk mengetahui sejauh mana kesiapan tubuh sekaligus membangun kepercayaan diri menghadapi jarak yang lebih panjang.
Persiapan yang dilakukan Anggi menjelang Merdeka Run tidak jauh berbeda dengan rutinitas latihan sehari-hari. Ia tetap menjaga jadwal latihan secara teratur dengan target menempuh sekitar 40 kilometer dalam satu pekan.
Bagi Anggi, konsistensi menjadi bagian penting dalam perjalanan sebagai seorang pelari. Latihan bukan hanya dilakukan untuk mengejar kemampuan fisik, tetapi juga membangun kesiapan mental agar mampu menyelesaikan setiap tantangan secara bertahap.
Merdeka Run 2026 pun menjadi kesempatan bagi Anggi untuk mengukur hasil dari latihan yang selama ini dijalani. Ia tidak menjadikan lomba tersebut semata-mata sebagai ajang mengejar posisi atau catatan waktu.
Sebaliknya, Anggi ingin mendapatkan pengalaman berlomba yang dapat menjadi bekal menghadapi half marathon pada September. Setiap perlombaan menjadi bagian dari proses untuk mengenali kemampuan diri sekaligus mengetahui hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Di balik persiapannya sebagai pelari, Anggi memiliki cerita yang membuat perjalanan olahraga tersebut semakin bermakna. Ia mendapat julukan “Kaki Seribu” dari seniornya.
Julukan tersebut memiliki arti khusus bagi Anggi. Ia memaknainya sebagai ungkapan “satu kaki, seribu mimpi”, sebuah prinsip yang menggambarkan tekadnya untuk terus mengejar impian meski menghadapi keterbatasan fisik.
Anggi tidak ingin kondisi dirinya menjadi alasan untuk berhenti beraktivitas maupun membatasi cita-citanya. Dengan satu kaki, ia tetap menjalani latihan dan mengikuti berbagai kegiatan lari untuk mencapai target sebagai pelari half marathon disabilitas.
“Walaupun saya cuma punya satu kaki, saya tidak mau menyerah dan merasa terbatas. Saya ingin mewujudkan mimpi sebagai pelari half marathon disabilitas dan menjadi finisher Indonesia dengan satu kaki,” ujar Anggi.
Perjalanan tersebut juga membuat Anggi memiliki pandangan tersendiri mengenai olahraga lari. Baginya, berlari bukan hanya tentang kecepatan, jarak, atau persaingan dengan pelari lain.
Ia memilih untuk lebih fokus terhadap kemampuan dan kondisi tubuhnya sendiri. Menurut Anggi, setiap pelari memiliki kemampuan serta proses yang berbeda sehingga membandingkan diri dengan orang lain bukan menjadi tujuan utama.
Prinsip tersebut juga menjadi bagian dari cara Anggi menjaga keselamatan ketika mengikuti perlombaan. Ia mengingatkan pelari untuk tidak memaksakan diri hanya demi mendapatkan kecepatan tertentu.
“Fokus pada diri sendiri. Jangan berlari terlalu kencang. Yang penting fokus dan menjaga keselamatan diri sendiri. Yang penting bisa finish dengan happy,” pesannya.
Bagi Anggi, mencapai garis finis menjadi salah satu bentuk keberhasilan yang tidak kalah penting dibandingkan catatan waktu. Ia ingin menikmati proses berlari tanpa mengabaikan kondisi tubuh dan faktor keselamatan.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan karena Merdeka Run 2026 diikuti oleh peserta dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam. Setiap peserta memiliki target masing-masing ketika berada di lintasan.
Ada peserta yang mengejar waktu terbaik, ada yang ingin menjaga kebugaran, dan ada pula yang menjadikan event sebagai bagian dari persiapan menghadapi perlombaan berikutnya. Bagi Anggi, Merdeka Run berada di antara tujuan-tujuan tersebut sebagai bagian dari perjalanan menuju half marathon.
Latihan sekitar 40 kilometer setiap pekan menjadi salah satu bentuk konsistensi yang ia pertahankan. Ia ingin memastikan tubuh tetap terbiasa dengan aktivitas lari sekaligus memiliki kesiapan mental ketika menghadapi jarak yang lebih jauh.
Merdeka Run 2026 juga memberikan kesempatan bagi Anggi untuk kembali merasakan atmosfer event lari bersama peserta lainnya. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu dirinya semakin percaya diri menghadapi target berikutnya.
Perjalanan Anggi memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi ruang untuk menetapkan tujuan dan terus berkembang. Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang baginya untuk membangun mimpi sebagai pelari.
Julukan “Kaki Seribu” pun menjadi simbol perjalanan tersebut. Satu kaki tidak menghalangi Anggi untuk memiliki seribu mimpi dan terus berusaha mewujudkannya melalui latihan dan kompetisi.
Merdeka Run 2026 akhirnya bukan sekadar agenda lari bagi Anggi. Ajang tersebut menjadi bagian dari proses panjang untuk mempersiapkan diri menghadapi half marathon sekaligus membangun keyakinan bahwa setiap langkah memiliki arti.
Dengan tetap menjaga konsistensi, fokus pada kemampuan diri, dan mengutamakan keselamatan, Anggi berharap dapat terus melangkah menuju targetnya. Baginya, yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang berlari, melainkan keberanian untuk terus bergerak dan menyelesaikan perjalanan dengan bahagia.
Dari Merdeka Run 2026 menuju half marathon September mendatang, Anggi membawa satu prinsip sederhana: satu kaki bukan batas untuk mengejar seribu mimpi. (09/AGF).











