BKSDA Temukan Gajah Sumatera Mati di Aceh Timur

Petugas polisi dan TNI menunjukkan gajah mati di aliran sungai di kawasan hutan Rabung Lima, Desa Peunaron Lama, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Jumat (29/4/2022). FOTO: Ant/HO-Humas Polsek Serbajadi

BANDA ACEH, SUDUTAPANDANG.ID  – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyatakan satu ekor gajah sumatera (elephas maximus sumatramus) ditemukan mati di pedalaman Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto di Banda Aceh, Sabtu (15/10/2022) mengatakan gajah mati tersebut ditemukan di wilayah Desa Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur.

Kemenkumham Bali

“Gajah mati tersebut berkelamin betina. Bangkai satwa dilindungi tersebut ditemukan Jumat (14/10) malam. Tim BKSDA saat ini sedang melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah tersebut,” katanya.

Kematian gajah di Aceh Timur juga terjadi akhir April 2022.

Seekor gajah jantan ditemukan mati di aliran sungai di kawasan hutan Rabung Lima, Desa Peunaron Lama, Kecamatan Peunaron.

BACA JUGA  Gajah Jinak CRU Aceh Timur Mati Diserang Kawanan Gajah Liar

Berdasarkan hasil nekropsi atau bedah bangkai, gajah tersebut berkelamin jantan dengan usia sekitar satu tahun, Kematian gajah akibat infeksi di kaki kiri bekas jeratan.

Merujuk pada daftar dari “The IUCN Red List of Threatened Species”, gajah sumatra hanya ditemukan di Pulau Sumatra ini berstatus spesies yang terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar gajah Sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa, serta tidak menangkap, melukai, membunuh.

Selain itu juga menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian.

BACA JUGA  Limbah di Labuan Bajo-NTT Ditangani BPOLBF Dengan Kolaborasi

“Semua perbuatan terhadap satwa liar dilindungi tersebut yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Agus Arianto. (002/Ant)

 

Tinggalkan Balasan